Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Mencari Perkara Di Tempat yang Salah


__ADS_3

Ambar terbangun di rumah sakit dan ia terkejut dengan keadaannya saat ini namun sedetik kemudian ia langsung ingin mencari di mana keluarganya, apakah keluarganya selamat atau tidak dari musibah kebakaran tersebut dan tidak lama kemudian Sakti muncul dan nampak bahagia karena Ambar akhirnya sudah siuman.


“Ambar, syukurlah kalau kamu telah siuman.”


“Sakti, di mana keluargaku? Apakah mereka baik-baik saja?”


“Iya Ambar, mereka baik-baik saja, kamu tak perlu khawatir.”


Ambar dapat menghela napasnya lega setelah mendengar ucapan Sakti barusan, Ambar pun kemudian bertanya kenapa dirinya bisa dibawa ke rumah sakit dan Sakti pun menjelaskan semuanya bahwa Ambar dan keluarganya


ditolong pemadam kebakaran dan dilarikan ke rumah sakit hingga pihak rumah sakit menghubunginya.


“Kamu dan keluargamu tak perlu memikrikan soal biaya rumah sakit ini karena aku yang akan menanggungnya.”


“Sakti, sejujurnya aku jadi tidak enak padamu.”


“Sudahlah kamu jangan merasa tidak enak begitu padaku, kita kan teman dan sudah seharusnya teman saling membantu.”


Keesokan paginya Sintia datang menjenguk Ambar dan raut wajah Ambar tidak senang ketika Sintia yang datang ke sini. Sintia membawakan Ambar buah dan menaruhnya di meja sebelum Sintia menghampiri mantan sahabatnya ini.


“Sepertinya kamu tidak senang ketika melihatku ada di sini.”


“Kenapa kamu datang ke sini?”


“Tentu saja aku datang ke sini setelah mendengar kalau kamu dan keluargamu mendapatkan musibah, kurang baik apa aku padamu?”


“Apakah aku memintamu untuk datang dan menjengukku?”


“Ngomong-ngomong apakah Sakti semalam datang ke sini?”


“Kenapa kamu malah membahas Sakti?”


“Karena pria itu menyukaimu, Ambar.”


Ambar nampak tak mau meladeni ucapan Sintia barusan yang menurutnya terasa seperti sebuah omong kosong belaka namun Sintia berusaha memanasi Ambar dan meyakinkannya bahwa Sakti memang memiliki perasaan padanya.


“Sekarang coba kamu pikir Ambar, apakah seorang pria mau datang dan menolongmu begitu saja tanpa adanya perasaan lebih?”


“Aku tidak mau berpkiran yang aneh-aneh.”

__ADS_1


“Kamu terlalu naif untuk menolak fakta tersebut.”


****


Sakti kembali datang untuk menjenguk Ambar ketika Warsinih masih ada di ruangan inapnya, ibu dari Ambar itu tidak mengalami luka sama sekali karena sudah berhasil melarikan diri sebelum api membesar dan ketika


Sakti datang ini Warsinih segera pergi dengan alasan ia ingin menengok ayah Ambar yang ada di ruang sebelah.


“Kenapa kamu datang ke sini, Sakti?”


“Memangnya salah jika aku datang ke sini?”


“Tidak hanya saja aku tidak mau orang lain salah paham dengan ini.”


“Kamu ini bicara apa, sih?”


“Sintia mengatakan bahwa kamu menyukaiku, apakah benar demikian?”


Sakti terkejut ketika mendapatkan pertanyaan tersebut dari Ambar, Sakti tentu saja mengatakan bahwa apa yang Sintia katakan sama sekali tidak benar dan Ambar tidak perlu memikirkan hal tersebut.


“Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya, Sakti? Maksudku Sintia benar rasanya kalau kita terlalu dekat maka akan menimbulkan omongan yang tidak-tidak dan aku sama sekali tidak mau sampai hal itu terjadi.


“Terima kasih karena kamu sudah mau mengerti diriku, Sakti.”


“Tidak masalah Ambar, semoga saja setelah ini kamu dapat lekas sembuh.”


****


Regan yang mendengar kabar bahwa Ambar masuk rumah sakit akibat rumah keluarganya terbakar memutuskan untuk pergi menjenguk wanita itu namun baru saja ia hendak masuk ke dalam ruangan inap Ambar, ia melihat


bahwa ada Sakti di dalam yang membuat emosinya memuncak, ia tidak habis pikir kenapa mereka malah dapat bermesraan di rumah sakit seperti ini. Sakti kemudian keluar dari ruangan inap Ambar setelah berpamitan dengan wanita itu, Sakti terkejut ketika menemukan Regan yang tengah berdiri menatapnya, Sakti berusaha bersikap ramah namun Regan malah membuat masalah dengan Sakti.


“Apakah kamu tidak memiliki malu? Kenapa bermesraan di rumah sakit seperti ini? Kalau ada orang yang melihat bagaimana?”


“Maaf rasanya aku sama sekali tidak melakukan hal yang berlebihan dengan Ambar, aku hanya datang untuk menjenguk Ambar yang sakit, itu saja.”


“Oh benarkah? Lalu kamu ingin sengaja mencari perhatiannya supaya dia bisa tertarik padamu kan?”


“Kok sepertinya kamu begitu marah dengan hal itu?”

__ADS_1


“Tentu saja aku marah karena dia masih istriku dan kamu adalah pria tidak tahu diri yang mencoba menggoda istri orang!”


“Lalu bagaimana denganmu yang secara jelas-jelas bermain api dengan wanita lain saat kamu dan Ambar masih berstatus menikah bahkan Ambar sampai memergoki kamu dan wanita itu tanpa busana dan melakukan hubungan intim?”


****


Regan nampak marah sekali dengan ucapan Sakti barusan, ia hendak memberikan pria itu pelajaran namun Warsinih keburu muncul dan membuat Regan tidak jadi melakukan aksinya. Warsinih nampak tidak suka ketika


Regan datang ke sini, ia malah mengusir pria ini untuk pergi secepatnya karena ia muak melihat Regan.


“Harusnya yang diusir adalah pria ini bukannya aku, aku masih berstatus sebagai suaminya Ambar.”


“Kamu mengaku-ngaku sebagai suaminya Ambar sekarang setelah yang kamu perbuat pada putriku? Luar biasa sekali dirimu, Regan.”


Sakti tidak mau terlalu terlibat dalam drama antara Warsinih dan Regan pun memutuskan untuk pamit dan Warsinih bersikap baik pada Sakti yang membuat Regan marah karena ia menganggap mertuanya ini mendukung perselingkuhan antara Sakti dan Ambar.


“Lebih baik kamu pergi sekarang juga dan jangan membuat keributan di rumah sakit ini.”


Regan menolak akan hal itu, ia mengatakan bahwa Warsinih dan Ambar layak mendapatkan semua ini akibat yang telah mereka lakukan selama ini. Satpam yang berpatroli kemudian meminta Regan untuk pergi karena dianggap membuat keributan di rumah sakit.


“Baiklah aku akan pergi dari sini namun ingatlah bahwa semua ini belum berakhir!”


Setelah mengatakan itu Regan langsung pergi meninggalkan rumah sakit ini dan Warsinih mengelus dadanya untuk menenangkan diri akibat ucapan Regan barusan.


****


Sintia tahu bahwa Regan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Ambar dan tentu saja ia cemburu dengan kelakuan Regan itu dan Sintia pun kemudian melabrak Ambar dengan kata-kata yang tidak pantas.


“Mas Regan sama sekali tidak datang ke sini.”


“Oh kamu mencoba menipuku? Apakah kamu pikir aku ini bodoh?”


Warsinih datang dan mengusir Sintia pergi dari sini namun Sintia menolak dan mengatakan bahwa Ambar harus diberikan pelajaran karena sudah berani berdusta padanya.


“Aku akan panggilkan satpam supaya kamu ditarik keluar dari rumah sakit ini.”


“Silakan saja, aku tidak takut akan hal itu!”


Ketika suasana semakin ricuh dan tak terkendali nampak Fadi muncul di pintu ruangan inap Ambar yang membuat mereka semua terdiam.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”


__ADS_2