
Walaupun Ambar telah mengatakan bahwa ia tidak menyembunyikan sesuatu dari Sakti akan tetapi Sakti tak memercayai Ambar, ia yakin kalau Ambar tak mau mengatakan kejujurannya padanya karena sang mama yang telah mengancam Ambar. Sakti kemudian menemui sang mama untuk membicarakan apa yang sebenarnya telah Ariyani lakukan pada Ambar hingga ia bersikap seperti itu.
“Kenapa kamu menanyakan ini pada Mama?”
“Karena aku tahu kalau Mama yang membuat semua ini.”
“Sakti, bisakah kamu tak berburuk sangka pada Mama?”
“Sampai kapan pun aku akan selalu berburuk sangka pada Mama, Mama sendiri yang membuatku melakukan ini.”
Ariyani menghela napasnya panjang, ia mencoba untuk meyakinkan Sakti bahwa ia tak tahu apa pun mengenai masalah yang sedang menimpa Ambar namun Sakti terus saja mendesak Ariyani untuk mau jujur padanya hingga pada akhirnya sang mama pun mengatakan sesuatu pada Sakti yang tentu saja membuat Sakti terkejut.
“Kalau memang kamu ingin tahu, biarkan saja Ambar yang mengatakannya secara langsung padamu, Mama sudah mengatakan sesuatu padanya.”
“Kenapa bukan Mama saja yang mengatakannya padaku?”
“Karena Mama ingin dia yang mengutarakannya secara langsung padamu.”
Sakti tidak habis pikir sebenarnya ada apa di sini, kenapa mamanya tak mau mengatakan yang sejujurnya dan Sakti pun kembali mencari Ambar, untungnya Daisy sudah pulang dengan Regan dan kini ia dapat leluasa bicara dengan Ambar untuk menyelesaikan semua masalah ini.
“Ambar, kita perlu bicara.”
Kali ini Ambar hanya diam saja dan tak berani menatap Sakti, Sakti menarik perlahan dagu Ambar supaya Ambar mau menengok ke arahnya dan kali ini Sakti meminta pada Ambar untuk mau mengatakan yang sejujurnya mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu jangan menolak membicarakan ini lagi Ambar, mamaku barusan mengatakan bahwa ia telah mengatakan sesuatu padamu dan pada akhirnya ia mengatakan kamu yang harus mengatakannya secara langsung padaku.”
“Sakti sebenarnya aku….”
“Katakan saja yang sebenarnya Ambar, aku menunggumu.”
****
__ADS_1
Ambar agak ragu mengatakan hal ini pada Sakti namun apa boleh buat, ia harus mengatakan ini semua pada Sakti. Ambar mengatakan bahwa ia ingin berpisah dengan Sakti untuk yang kesekian kalinya dan Sakti tentu saja sudah tahu bahwa mamanya dalang di balik semua ini. Ambar tak menampik kali ini apa yang Sakti utarakan barusan namun Ambar mengatakan hal yang membuat Sakti terkejut.
“Kalau aku tak bercerai denganmu maka nyawa ibuku dalam bahaya, mamamu akan membunuhnya sekarang juga.”
Sakti nampak tak habis pikir dengan mamanya yang menggunakan segala cara untuk memisahkannya dengan Ambar. Sakti memohon pada Ambar untuk jangan berpisah dengannya dan Sakti akan membantu Ambar untuk menyelesaikan semua masalah ini.
“Jangan pernah kamu turuti apa yang menjadi keinginan mamaku.”
“Tapi Sakti kalau aku tidak menuruti apa yang diinginkan oleh mamamu, bagaimana nasib ibuku? Tidak mungkin aku membiarkannya kenapa-kenapa.”
“Aku mengerti kekhawatiranmu, Ambar akan tetapi aku yakin kita akan menemukan jalan dari masalah ini.”
Ariyani menghampiri mereka berdua, wanita itu nampak senang karena Ambar sudah menceritakan semuanya secara langsung pada Sakti dan kini semua keputusan ada di tangan Sakti.
“Kalau Mama ingin ibunya Ambar mati maka lebih baik Mama kehilanganku saja.”
“Sakti kamu ini bicara apa?”
“Aku serius Ma, dari pada Mama membunuh ibunya Ambar lebih baik aku yang mati!”
****
“Sakti, kenapa kamu melakukan semua ini, Nak? Kamu sudah terlalu dibutakan oleh wanita ini.”
“Sekarang Mama tinggal pilih, apakah mau aku pergi atau ibunya Ambar yang pergi?”
Ariyani nampak berat sekali saat ini pada akhirnya ia pun memutuskan untuk membebaskan Warsinih, Sakti tidak percaya begitu saja dengan yang mamanya katakan, Sakti ingin mamanya membawa ibunya Ambar pulang ke rumah. Ariyani pun menelpon orang suruhannya untuk membawa Warsinih pulang dan kemudian setelah Warsinih pulang barulah Sakti mau berhenti melakukan aksinya.
“Kamu jangan melakukan hal mengerikan seperti itu, Sakti. Mama sangat menyayangimu.”
“Kalau memang Mama menyayangiku maka jangan halangi kebahagiaanku, Ma.”
__ADS_1
Ariyani nampak menghela napasnya dan kemudian pergi meninggalkan Sakti, Ambar begitu bahagia dapat bertemu dengan ibunya dan Warsinih juga bahagia karena akhirnya dapat bertemu dengan anaknya.
“Terima kasih banyak, Sakti.”
“Tidak masalah, Bu.”
Akhirnya malam itu Ambar dapat tidur dengan tenang karena Sakti lagi-lagi menyelamatkan hidup ibunya dan juga pernikahan mereka.
****
Keesokan harinya Warsinih sedang berjalan menuju pasar namun kemudian seseorang dengan senjata api langsung menembak ke arahnya hingga Warsinih jatuh ke aspal dengan bersimbah darah, tidak lama kemudian warga datang menolong dan menelpon ambulance. Ambar yang sedang membersihkan rumah nampak memiliki firasat yang tidak enak soal ibunya, ia khawatir kalau sesuatu hal yang buruk sedang terjadi pada sang ibu.
“Apa ini? Kenapa perasaanku mendadak tidak enak?”
Tidak lama kemudian Ambar mendapatkan telepon dari rumah sakit bahwa ibunya sedang berada di IGD karena mengalami luka tembak, sontak saja Ambar terkejut dan menjatuhkan ponselnya ke lantai. Danu bertanya apa yang terjadi pada Ambar namun Ambar nampak tak kuasa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi karena masih terlalu shock dengan berita yang ia dapatkan.
“Nak, tenangkan dirimu dulu, katakan pada Ayah ada apa.”
“Ayah, Ibu…ibu….”
“Ibu kenapa? Katakan pada Ayah.”
“Ibu kini berada di IGD rumah sakit karena mengalami luka tembak.”
Danu terkejut bukan main dengan kabar tersebut, ia dan Ambar kemudian bergegas menuju rumah sakit tempat di mana Warsinih berada namun ketika mereka tiba di rumah sakit justru mereka malah mendapatkan sebuah kabar duka yang sangat memukul perasaan mereka.
“Maaf namun pasien sudah meninggal dunia beberapa waktu yang lalu.”
****
Farah begitu tak terima dengan kepergian ibunya, ia meratapi kepergian sang ibu yang berakhir dengan cara yang tragis, Danu berusaha tegar melihat jenazah sang istri sementara Ambar begitu sedih dan menangis dalam diam. Ambar tidak menyangka kalau setelah drama penculikan justru muncul berita duka yang tidak pernah siap ia harus dengar. Sakti memeluk Ambar untuk menangkan istrinya itu, Sakti tentu saja curiga pada mamanya dan ia bersiap membuat perhitungan dengan sang mama setelah acara pemakaman selesai.
__ADS_1
“Tenangkan dirimu Ambar, aku ada di sini bersamamu, kita pasti akan mengungkap siapa orang yang paling bertanggung jawab atas kepergian ibu.”
“Iya Sakti.”