
Ambar sudah berusaha memberitahu Regan bahwa Sakti hanya temannya namun Regan tak mau mendengarkan Ambar dan terus saja menyalahkan Ambar karena dekat dengan Sakti. Regan juga selalu menuduh Ambar
yang bukan-bukan hingga membuat Ambar kesal mendapatkan tuduhan macam-macam dari sang suami. Warsinih datang untuk menjenguk putri dan cucunya, kebetulan juga Regan tengah ada di rumah dan ia hendak pergi sebelum Warsinih datang ke sini.
“Regan.”
“Bu, apa yang membawamu ke sini?”
“Aku mau mengatakan sesuatu padamu.”
“Apa yang ingin Ibu katakan memangnya?”
“Aku ingin kamu dan anakku bercerai.”
“Apa maksud Ibu mengatakan itu?”
“Apakah ucapanku barusan tidak cukup jelas hingga kamu harus bertanya ulang, hm?”
“Tapi kenapa Ibu memintaku dan Ambar bercerai?”
“Kamu masih bertanya kenapa aku memintamu untuk bercerai dengan putriku? Kamu menjijikan sekali, Regan! Bagaimana bisa kamu berselingkuh dengan Sintia!”
Regan terkejut dengan ucapan sang ibu mertua barusan, ia jadi berpikir bahwa semua ini adalah ulah Ambar yang meminta bantuan pada sang ibu supaya niatnya untuk bercerai dengan Regan dapat berjalan dengan mulus
namun tentu saja Regan tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
“Siapa yang mengatakan itu pada Ibu? Aku dan Sintia sama sekali tidak berselingkuh.”
“Kamu masih mau menelak? Sintia mengatakan dengan jelas padaku waktu itu, dia mengakui semuanya padaku!”
Regan terkejut karena rupanya lagi-lagi Sintia biang masalah dari semua ini, ketika Warsinih dan Regan tengah berdebat di luar, Ambar keluar dari dalam rumah dan melerai perdebatan ini. Ambar meminta ibunya untuk tidak mengatakan hal apa pun pada Regan namun Warsinih tidak dapat menahan diri untuk mengungkapkan semua kekesalan serta kekecewaannya pada sang menantu.
“Bagaimana bisa Ibu diam saja sementara putri Ibu menderita, Nak?”
“Aku baik-baik saja, Bu.”
“Tidak, kamu dan Regan harus segera bercerai, itu yang Ibu inginkan.”
“Sampai kapan pun aku dan Ambar tidak akan pernah bercerai, Bu.”
Warsinih nampak terkejut dengan ucapan Regan barusan, setelahnya Regan langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.
****
Warsinih masuk ke dalam rumah bersama dengan Ambar, ibu dari Ambar itu masih tak mengerti kenapa Ambar masih saja membela suaminya padahal sudah jelas-jelas kalau Regan bersalah di sini. Ambar mengatakan pada
__ADS_1
ibunya bahwa ia dapat membereskan semua masalah ini namun Warsinih menolaknya.
“Kamu mengatakan itu waktu itu namun sampai sekarang bagaimana realisasinya? Apakah berjalan dengan baik? Sampai sekarang kamu masih saja memertahankan rumah tanggamu dengan pria kurang ajar itu.”
“Percayalah padaku, Bu. Aku dapat mengurus semuanya.”
Warsinih menghela napasnya dan Ambar pun lagi-lagi meminta pada sang ibu untuk percaya padanya. Akhirnya Warsinih menganggukan kepalanya dan mengatakan bahwa ia akan percaya pada Ambar untuk hal ini.
“Namun kamu harus segera berpisah dengan Regan, apa pun caranya pokoknya kamu harus berpisah dengannya, Ibu tidak mau kalau di sisa hidupmu kamu harus menganggung sakit hati akibat perselingkuhan yang dilakukan
oleh pria itu,” ujar Warsinih seraya membelai wajah putrinya.
“Iya Bu, aku mengerti. Terima kasih banyak karena sudah memedulikanku.”
Mereka berdua pun akhirnya berpelukan satu sama lain untuk saling menguatkan, selama beberapa saat mereka berpelukan hingga akhirnya Warsinih pun pamit untuk pulang ke rumah.
“Aku akan mengantarkan Ibu pulang.”
“Tidak perlu, Ibu bisa sendiri.”
****
Ambar tengah membereskan rumah ketika ponselnya berdering, ia melihat siapa gerangan orang yang menelponnya dan rupanya orang yang menelponnya adalah Sakti. Ambar tidak mau menjawab telepon dari pria itu
dan memilih mengabaikannya namun rupanya Sakti terus saja menelponnya hingga mengganggu konsentrasi Ambar, pada akhirnya Ambar pun menjawab telepon dari Sakti itu.
“Akhirnya kamu mau menjawab juga telepon dariku.”
“Aku tidak memiliki waktu untuk mengobrol denganmu, aku sedang sibuk sekarang.”
“Benarkah? Sayang sekali padahal aku sudah ada di depan rumahmu dan ingin mengajakmu makan siang bersama.”
“Seperti yang sudah aku katakan barusan, aku sedang sibuk sekarang.”
“Kamu sepertinya sedang tidak baik-baik saja Ambar.”
“Kenapa kamu mengatakan itu.”
“Karena suaramu seperti bergetar, kamu mau menangis, ya?”
“Tidak kok, sudahlah jangan sok tahu.”
Ambar langsung menutup sambungan teleponnya dengan Sakti dan tidak lama kemudian ia menangis, Ambar merasa lelah dengan semua ini, ia ingin mengakhiri pernikahannya dengan Regan yang hanya membuatnya sakit
hati. Ambar terkejut ketika seseorang menekan bel pintu rumah, buru-buru ia menghapus air matanya dan berjalan menuju pintu untuk melihat siapa gerangan yang datang dan begitu ia berhasil membuka pintu, ia terkejut menemukan Sakti di sana.
__ADS_1
“Sakti? Kenapa kamu ada di sini?”
“Sudah aku yakini bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja.”
****
Regan mendatangi Sintia dan memarahi wanita itu yang mulutnya sama sekali tidak dapat dijaga, Regan meminta Sintia untuk jangan sekali-kali buka suara mengenai hubungan terlarang mereka namun Sintia tak mau memedulikan apa yang Regan ucapkan barusan. Sintia beranggapan bahwa dirinya ingin semua orang di dunia ini tahu bahwa mereka berdua saling mencintai.
“Siapa yang bilang kalau aku mencintaimu, Sintia?”
“Kalau memang kamu tidak mencintaiku, lantas kenapa sampai berkali-kali kita tidur bersama, Mas?”
“Aku hanya tertarik pada tubuhmu bukan artinya aku mencintaimu, Sintia.”
Sintia yang mendengar itu tentu saja terkejut, ia meminta Regan untuk tidak menipu dirinya sendiri, ia mendesak Regan supaya Regan mengatakan hal yang sejujurnya padanya.
“Kamu pikir dapat menipuku, Mas? Aku tahu bahwa kamu mencintaiku namun kamu terlalu gengsi untuk mengatakannya.”
“Dasar wanita terlalu percaya diri, aku hanya tertarik pada tubuhmu bukan artinya aku mencintaimu! Aku sudah mengatakannya barusan kan?”
Sintia tidak mau menerima apa yang Regan katakan barusan, ia kemudian mencium Regan berharap supaya mereka kembali dapat melakukan hal itu namun Regan menolaknya dan mendorong tubuh Sintia menjauh
darinya.
“Hanya itu saja yang ingin aku katakan padamu,” ujar Regan seraya kemudian pergi meninggalkan Sintia.
Sintia sudah berusaha memanggil nama Regan namun Regan sama sekali tidak mau menoleh ke arah Sintia dan masuk ke dalam mobilnya.
****
Ambar tetap mengelak ketika Sakti mengatakan bahwa ia sedang ada masalah namun Sakti tahu bahwa saat ini Ambar sedang tidak baik-baik saja. Sakti meminta Ambar untuk jujur saja padanya namun Ambar menolaknya dan
selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
“Kamu tidak perlu ikut campur terlalu dalam mengenai urusan pribadiku, Sakti.”
“Aku minta maaf, akan tetapi aku tak bermaksud ikut campur terlalu dalam mengenai urusan pribadimu, aku hanya ingin setidaknya kamu jujur dengan apa yang kamu rasakan saat ini, Ambar.”
Ambar tetap bersikukuh bahwa ia tidak memiliki masalah dan meminta Sakti untuk segera pulang karena ia takut kalau Sakti berlama-lama di sini maka Regan bisa saja memergoki mereka dan suasana semakin runyam.
“Kenapa kalau suamimu melihatku? Kita kan teman Ambar.”
“Aku tidak mau memperuncing masalah, Sakti. Tolong kamu pergi saja.”
Namun saat itu juga Regan tiba di rumah dan ia mendapati sang istri tengah berduaan dengan pria asing, amarahnya tidak dapat terbendung lagi.
__ADS_1
“Siapa pria ini?!”