
Helga benar-benar marah bukan main pada Sintia yang ia anggap sama sekali tidak becus dalam menjalankan aksinya karena Ambar dan keluarganya masih hidup saat ini dan bukan tidak mungkin Ambar akan menggoda Regan lagi dan anaknya itu akan kembali tergila-gila pada Ambar. Tentu saja memikirkan hal tersebut membuat Helga bergidik ngeri, ia tak mau kalau sampai mimpi buruknya itu terjadi.
“Pokoknya sampai kapan pun aku tidak akan pernah membiarkan anakku kembali pada wanita kurang ajar itu, aku akan membuatnya menderita.”
Ketika Helga hendak pergi justru ia ditahan oleh polisi yang datang ke rumahnya, polisi datang ke rumahnya dengan membawa surat bahwa Helga harus ikut dengan mereka. Helga tentu saja sudah tahu bahwa semua ini adalah pekerjaan suamnya.
“Jadi aku harus ikut dengan kalian ke kantor begitu?”
“Iya Nyonya, tolong anda bekerja sama dengan kami dan jangan melawan.”
“Baiklah, aku akan ikuti aturan mainnya.”
Helga sama sekali tidak mempemasalahkan ketika ia dibawa menuju kantor polisi karena Helga sangat yakin bahwa ia akan segera dibebaskan dengan kekuatan pengacara yang ia miliki. Ketika tiba di sana nampak wartawan sudah menunggu kedatangan Helga yang mana tentu saja membuat Helga muak sekali, ia tak mengatakan sepatah kata pun di hadapan para wartawan yang sejak tadi menunggunya dan ingin mendengar pernyataan langsung dari mulut Helga. Helga kemudian dilakukan pemeriksaan di kantor polisi dengan didampingi oleh pengacaranya, ia diperiksa lebih dari 12 jam dan akhirnya ia pun diizinkan keluar dari kantor polisi.
“Terima kasih banyak, Tuan Argia.”
“Tidak masalah Nyonya, tugas saya memang melayani anda.”
Helga pun dapat masuk ke dalam mobilnya dengan bahagia karena ia tidak ditahan oleh polisi berkat tim pengacaranya yang hebat, ia kembali ke rumah dengan menyombongkan diri pada suaminya bahwa sampai kapan pun ia tidak akan pernah dikalahkan.
“Kamu pikir dapat mengalahkanku? Kamu salah, Fadi. Aku tidak akan pernah dapat kamu kalahkan.”
****
Ambar sebelumnya sudah menduga bahwa ia akan diperlakukan layaknya asisten rumah tangga di rumah Ariyani dan wanita itu memerlakukannya dengan buruk namun Ambar tidak mengeluhkan hal itu justru Warsinih yang merasa bahwa Ariyani keterlaluan sekali memerlakukan Ambar dengan sangat tidak baik. Setiap kali Warsinih ingin mengadukan kelakuan Ariyani ketika Sakti tidak ada justru Ambarlah yang meminta ibunya untuk jangan melakukan itu.
“Bagaimana bisa kamu mau saja diperlakukan seperti ini oleh wanita itu, Ambar?”
“Aku melakukannya demi Sakti, Bu. Sakti sudah mengorbankan banyak hal padaku mana mungkin aku tidak membalas kebaikannya?”
__ADS_1
Warsinih tidak habis pikir dengan pola pikir anaknya namun sebagai seorang ibu tentu saja ia tak ingin melihat putrinya harus menderita seperti ini. Ariyani yang mencuri dengar pembicaraan antara mereka berdua pun bergegas menghampiri.
“Apakah kamu ingin mengadukan hal ini pada Sakti?”
“Iya, tentu saja aku akan mengadukan ini pada Sakti, anda sudah sangat keterlaluan memerlakukan buruk anak saya.”
“Kalian ini hanya menumpang di rumah ini jadi tolong jaga sikap anda.”
“Memangnya kami mau menumpang di rumah anda? Bukankah anda yang memaksa supaya Ambar mau tinggal di sini?”
Ambar berusaha melerai pertengkaran di antara ibunya dan Ariyani, Ariyani kemudian mengancam jika Warsinih mengatakan yang sebenarnya pada Sakti maka ia tidak akan segan melakukan hal yang jauh lebih buruk pada Ambar.
“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku,” ujar Ariyani yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
****
Warsinih benar-benar tidak takut dengan ancaman Ariyani, ketika Sakti tiba di rumah ia langsung menceritakan apa yang selama ini Ariyani lakukan pada Ambar ketika ia tidak di rumah. Sakti tentu saja terkejut dengan cerita Ariyani dan langsung mencari di mana Ambar dan ketika ia menemukan Ambar nampak wanita itu tengah mencuci piring di dapur.
“Tidak bisa sekarang Sakti, aku tengah mencuci piring sekarang.”
“Tapi ini kan bukan tugasmu, ada asisten rumah tangga yang akan melakukan ini.”
Sakti memaksa Ambar untuk bicara dengan menarik tangan Ambar yang mana tentu saja Ambar tidak dapat melawan keinginan suaminya, Sakti membawa Ambar menuju kamar mereka dan di sana Sakti meminta Ambar untuk jujur padanya.
“Ambar, aku minta kamu mengatakan semuanya dna jangan menutupi apa pun.”
“Apa maksudmu, Sakti?”
“Sudahlah Ambar, aku sudah tahu apa yang selama ini kamu coba sembunyikan dariku. Kenapa kamu tidak mau mengadukan sikap buruk mamaku?”
__ADS_1
“Siapa yang mengadukan hal ini padamu? Apakah ibuku yang melakukan ini?”
“Kamu tak perlu tahu aku mendengar berita ini dari mana namun kamu tak perlu hal seperti ini, Ambar.”
****
Sakti bicara pada Ariyani untuk jangan memerlakukan Ambar layaknya asisten rumah tangga, Ariyani terkejut ketika Sakti membicarakan hal ini dengannya. Tentu saja Ariyani sudah menduga bahwa Warsinih dalang di balik semua ini. Ariyani mencoba bicara baik-baik pada Sakti bahwa saat ini Sakti hanya salah paham saja namun Sakti tidak memercayai apa yang dikatakan oleh mamanya.
“Mama pikir aku ini bodoh? Aku tahu bahwa selama ini Mama berdusta padaku, lebih baik aku dan Ambar tidak lagi tinggal di rumah ini.”
“Sakti, tolong jangan pergi dari rumah ini, Nak.”
“Aku tidak dapat tinggal di rumah ini kalau Mama tidak memerlakukan Ambar dengan baik, aku tidak mau kalau Ambar disakiti.”
“Mama sama sekali tidak menyakiti Ambar atau melakukan hal yang buruk padanya, Nak. Kenapa kamu tidak mau memercayai apa yang Mama katakan?”
Sakti menghela napasnya, percuma saja ia bicara dengan sang mama yang tetap tidak mau mendengarkannya dan Sakti pun segera berbalik badan untuk pergi meninggalkan sang mama. Ariyani nampak menggeram kesal karena Warsinih memang pembawa masalah dalam keluarganya.
“Awas saja kamu,” geram Ariyani yang kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
“Ini aku, aku butuh bantuamu untuk membereskan seseorang dan kali ini jangan sampai gagal, kamu mengerti?”
****
Warsinih sedang membersihkan halaman rumah karena diperintah oleh Ariyani, awalnya ia menolak perintah Ariyani itu dan karena Warsinih tidak mau maka Ambar ingin mengerjakan itu dan akhirnya Warsinih menolak, ia membiarkan dirinya membersihkan halaman karena tidak tega kalau Ambar harus bekerja dobel.
“Wanita itu memang benar-benar,” ujar Warsinih tak habis pikir.
Ketika ia tengah membersihkan halaman itu, dua orang muncul dari belakangnya dan langsung membekap mulut Warsinih hingga wanita itu pingsan, setelah Warsinih pingsan kedua orang itu langsung membawa Warsinih masuk ke dalam mobil. Ariyani yang menyaksikan dari dalam rumah nampak menyeringai puas karena rencananya dapat berjalan dengan baik.
__ADS_1
“Kamu yang membuatku memilih jalan ini jadi rasakan,” seringainya.