Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Ingin Kembali Menjadi Teman


__ADS_3

Sintia datang menemui Ambar di toko tempat di mana Ambar bekerja, tentu saja Ambar tidak begitu suka ketika melihat kedatangan Sintia ini namun Sintia malah tersenyum lebar padanya dan menyapanya dengan ramah. Ambar bertanya pada Sintia mengenai apa yang membawa wanita ini sampai-sampai datang ke sini dan Sintia pun mengatakan alasan kenapa dia datang ke sini.


“Tentu saja aku datang ke sini untuk bertemu denganmu, memangnya untuk apa lagi aku datang ke sini, Ambar?”


“Pasti ada sesuatu hal yang hendak kamu katakan padaku kan? Kalau begitu segera katakan saja.”


Sintia tentu saja tidak langsung mengatakannya namun ia berusaha membujuk Ambar untuk jangan bersikap dingin padanya namun Ambar tetap saja bersikap menjaga jarak dengan Sintia hingga akhirnya Sintia pun mengatakan apa yang membuatnya datang ke sini.


“Aku ingin supaya kita dapat berteman lagi seperti dulu.”


“Bukankah kamu sudah pernah mengatakan itu sebelumnya?”


“Iya, aku memang sudah pernah mengatakannya namun tidak ada respon darimu.”


Ambar terdiam mendengar ucapan Sintia karena apa yang Sintia katakan barusan memang benar adanya, Ambar pun mengatakan pada Sintia bahwa sampai saat ini ia butuh waktu untuk dapat menerima semua yang telah terjadi pada masa lalunya dan jawaban dari Ambar itu agaknya tidak membuat Sintia puas, wanita itu pun mulai bertanya apakah Ambar masih membencinya dan lain sebagainya dan Ambar pun dengan tegas mengatakan bahwa bukannya Ambar masih membenci Sintia hanya saja saat ini dirinya masih belum dapat sepenuhnya menerima kenyataan bahwa Sintia dan mantan suaminya berselingkuh di belakangnya.


“Itu namanya kamu belum dapat memaafkanku bahkan kamu sepertinya masih membenciku akibat apa yang pernah aku perbuat dengan mas Regan, aku dan mas Regan saat ini sudah tidak memiliki hubungan apa pun, tidakkah kamu paham itu, Ambar?”


“Aku paham itu, Sintia hanya saja tolong jangan memaksaku untuk mau menerimamu kembali sebagai temanku dulu, aku butuh waktu untuk menyembuhkan semua luka ini.”


****


Valdo mengajak Sakti untuk bicara di restoran ketika Valdo sudah pulang bekerja, Valdo bercerita pada Sakti bahwa ia masih mencintai Sintia dan ia berniat untuk melamar Sintia kali ini dan ingin segera menikahinya. Sakti nampak terkejut dengan apa yang Valdo katakan barusan, Sakti bertanya sekali lagi untuk memastikan apakah ia salah dengar atau tidak dan Valdo pun mengatakan bahwa tadi Sakti sama sekali tidak salah dengar karena memang itulah yang akan ia lakukan pada Sintia.


“Valdo, apakah kamu sudah lupa apa yang telah Sintia lakukan padamu di masa lalu?”


“Tentu saja aku tidak lupa, Sakti. Hanya saja saat ini Sintia telah berubah, dia bilang sudah mengakui semua kesalahannya dan merasa bersalah akibat meninggalkanku dulu demi pria yang tidak mencintainya.”

__ADS_1


Sakti tidak percaya dengan apa yang Valdo katakan ini, Sakti mengatakan lebih baik Valdo memikirkan ini baik-baik dan jangan sampai salah pilih karena Sakti tidak mau kalau temannya ini terluka dikemudian hari akibat Sintia bahkan mungkin saja luka yang ditimbulkan oleh Sintia akan jauh lebih besar dari sebelumnya.


“Aku mengatakan semua ini sebagai teman karena aku peduli padamu, Valdo. Aku tidak ingin kamu kembali terluka bahkan jauh lebih parah dari sebelumnya.”


“Tapi kali ini aku yakin bahwa aku dan Sintia akan menemukan akhir yang bahagia.”


****


Ambar baru saja tiba di rumah dan Warsinih pun menyambutnya di sana, Ambar masih nampak menjaga jarak dengan Warsinih namun wanita itu terus berusaha membuat hubungannya dengan Ambar kembali baik seperti dulu lagi.


“Nak, kenapa kamu memerlakukan Ibu seperti ini?”


“Aku bilang aku butuh waktu untuk menata hatiku, Bu.”


“Namun tidakkah apa yang kamu lakukan ini keterlaluan? Aku ini Ibumu, Ambar.”


“Mamanya mas Regan pantas saja ingin menghancurkan kita, Bu. Apakah Ibu tidak paham juga akan hal itu?”


“Ibu minta maaf, Ibu janji akan mengembalikan semua yang telah Regan berikan pada Ibu.”


Namun Ambar menggelengkan kepalanya, Ambar mengatakan bahwa saat ini dirinya butuh waktu untuk sendiri di dalam kamar. Warsinih berusaha mengejar Ambar masuk ke dalam kamar namun suaminya segera datang dan melarang apa yang hendak Warsinih lakukan ini.


“Tapi aku harus bicara dengan Ambar, sekarang.”


“Kalau memang saat ini dia belum mau bicara, maka kita tidak dapat memaksanya.”


****

__ADS_1


Ambar telah memikirkan semua ini dengan matang, keesokan harinya ia bicara dengan kedua orang tuanya bahwa mereka harus segera pindah dari rumah ini. Warsinih terkejut dengan yang dikatakan oleh Ambar ini, ia tentu saja tidak rela pindah dari rumah ini karena telah terlanjur nyaman namun Ambar mengatakan bahwa mereka tidak dapat selamanya tinggal di sini karena memang rumah ini bukanlah hak mereka.


“Tapi Nak….”


“Apakah Ibu masih mau tinggal di sini? Kalau memang Ibu mau tetap tinggal di sini, maka silakan saja karena aku akan pergi dari sini.”


Setelah mengatakan itu Ambar langsung bergegas pergi dari rumah ini dan ketika baru saja tiba di depan rumah nampaklah sosok Sakti di sana, tentu saja Ambar langsung bicara pada Sakti bahwa ia akan segera keluar dari rumah ini namun Sakti mengatakan bahwa kalau Ambar keluar dari sini maka ia akan pindah ke mana.


“Kamu tak perlu mengkhawatirkan kami, kami yakin dapat untuk melewati semua ini, terima kasih banyak atas apa yang telah kamu lakukan pada keluarga kami, Sakti.”


“Ambar, kamu tidak harus pindah dari rumah ini, kok.”


“Tidak Sakti, aku tidak mau kalau ibuku membuat masalah di kemudian hari seperti yang pernah ia lakukan pada mas Regan, aku harus segera pergi bekerja.”


****


Helga mendapatkan informasi dari orang suruhannya mengenai kebohongan mantan besannya akhirnya terbongkar juga dan tentu saja Helga bahagia sekali, Helga langsung datang ke rumah di mana Warsinih tinggal dan kedatangan Helga membuat Warsinih marah dan langsung mengusir wanita ini dari rumahnya.


“Mau apa anda datang ke sini? Pergi dari sini dan jangan membuat keributan.”


“Apakah kamu tidak memiliki rasa malu, hm? Kamu sudah menumpang tinggal di rumah ini dan berlagak seperti pemilik rumah,” ujar Helga dengan nada merendahkan.


“Saya memang tinggal di rumah ini, anda jangan bicara yang bukan-bukan.”


“Aku sama sekali tidak bicara yang bukan-bukan, hanya saja kamu itu sudah miskin dan tidak tahu diri, kamu hanya membuat anakmu menderita dengan sikapmu yang seperti ini, saranku lebih baik pergi dari rumah ini karena rumah ini bukan hakmu.”


“Pergi sekarang juga dari sini!”

__ADS_1


__ADS_2