
Valdo mendesak Sintia untuk mengatakan kejujurannya bahwa orang yang Sintia cintai adalah Regan, awalnya Sintia tidak mau menanggapi apa yang menjadi pertanyaan Valdo namun lama kelamaan karena sikap Valdo yang membuatnya muak maka Sintia pun memilih untuk mengatakan semuanya secara terus terang.
“Baiklah kalau memang kamu ingin tahu yang sebenarnya, apa yang kamu katakan itu memang benar adanya! Aku memang mencintai suaminya Ambar, apakah kamu sudah puas sekarang?”
“Bagaimana bisa kamu jatuh cinta pada seorang pria yang telah memiliki istri dan istrinya adalah sahabatmu sendiri, Sintia!”
“Apakah aku peduli dengan semua yang kamu katakan ini, Valdo? Sayangnya tidak, aku sama sekali tidak peduli dengan semua yang ada di dalam pikiranmu, sekarang kamu sudah tahu jawabannya jadi biarkan aku masuk ke
dalam!”
Sintia mendorong Valdo dan masuk ke dalam unit apartemennya, ia benar-benar kesal dan tak habis pikir kalau Valdo akan datang ke apartemennya dan menanyakan hal konyol seperti tadi.
“Untuk apa juga dia menanyakan hal itu padaku? Namun syukurlah kalau sekarang dia sudah tahu yang sebenarnya, setidaknya aku tidak perlu menghindarinya lagi.”
Sintia kemudian mandi dan berganti pakaian kemudian menelpon Regan untuk berkeluh kesah mengenai apa yang baru saja ia alami. Regan tidak langsung menjawab telepon Sintia yang membuat wanita itu kesal bukan main
dan berpikir yang macam-macam pada Regan namun pada akhirnya Regan menjawab juga telepon darinya.
“Kenapa kamu menelponku?”
“Memangnya aku tidak boleh menelponmu?”
“Sudahlah, kalau memang tidak ada sebuah hal yang penting, maka kita tak perlu bicara.”
Namun Sintia mengatakan bahwa saat ini memang ada yang perlu untuk mereka bicarakan dan hal ini menyangkut soal Valdo, Regan sendiri nampak penasaran kenapa Sintia tiba-tiba saja membawa-bawa nama mantan
kekasihnya itu dan dari cerita Sintia barusan kini Regan dapat tahu kenapa Sintia membawa-bawa nama Valdo dan tentu saja Regan kesal dengan cerita Sintia barusan.
“Kenapa kamu mengatakan itu padanya?”
****
Ambar menyiapkan sarapan untuk suami dan anaknya, Regan dan Daisy nampak sudah duduk di kursi meja makan sementara itu saat mereka hendak sarapan terdengar suara gaduh dari luar rumah. Ambar pergi untuk
mengecek apa yang sebenarnya terjadi dan ketika ia mengintip dari jendela, ia melihat ibu dan ayahnya di depan pagar rumah ingin masuk namun satpam menghalangi keduanya untuk masuk ke dalam. Ambar kemudian keluar rumah untuk bicara dengan satpam supaya satpam itu mengizinkan kedua orang tuanya masuk ke dalam.
“Pak, kenapa anda tidak mengizinkan kedua orang tua saya masuk?”
“Karena ini perintah dari pak Regan, Bu. Saya hanya menjalankan perintah saja.”
“Apa katamu? Mas Regan yang menyuruhmu melakukan ini?”
__ADS_1
“Iya, aku memang yang menyuruhnya melakukan ini,” ujar Regan yang muncul di belakang Ambar saat ini.
“Mas, kenapa kamu melakukan ini? Mereka kedua orang tuaku.”
“Karena aku tidak mau keributan terjadi di sini.”
“Regan, kamu harus menceraikan anakku sekarang juga!” seru ayahnya Ambar marah.
“Pak, saya tidak akan pernah menceraikan Ambar, lagi pula Ambar yang menolak untuk bercerai dengan saya, bukan begitu, Ambar?”
Ambar diberi isyarat oleh Regan untuk mengikuti skenarionya dari tatapan Regan barusan, Ambar nampak menunduk dan tak mengatakan apa pun.
“Kamu lihat? Ambar saja tidak mengatakan apa pun, jangan coba berdusta,” ujar Warsinih.
****
Ambar nampak menghela napasnya dan kemudian ia mengatakan pada ayah dan ibunya bahwa ia tidak akan bercerai dengan Regan, sontak saja kedua orang tuanya terkejut dan kecewa dengan keputusan Ambar ini.
“Aku minta maaf kalau keputusanku ini membuat ayah dan ibu jadi kecewa, aku minta maaf.”
Ambar kemudian tak kuasa membendung air matanya untuk tumpah namun karena tidak mau dilihat oleh kedua orang tuanya, Ambar memilih untuk masuk ke dalam rumah dan Regan nampak tersenyum karena rencananya
berhasil untuk memaksa Ambar ikut dalam skenario yang sudah ia siapkan.
Regan mengatakan itu dengan santai dan langsung berbalik badan tanpa menunjukan rasa hormatnya pada kedua mertuanya, Warsinih nampak tak percaya dengan semua ini. Ia tak terima jika Ambar terus menerus hidup dengan Regan, ia memaksa supaya satpam membukakan pintu ini namun sayangnya satpam tidak memberikan izin untuk Warsinih masuk ke dalam.
“Anakku, kenapa kamu harus mengatakan itu, Nak?” isak Warsinih di depan pagar rumah Regan sementara suaminya berusaha menenangkannya supaya mereka bisa segera pergi dari sini.
Regan sendiri memerhatikan kedua orang tua Ambar dari dalam rumah, ia sendiri nampak puas karena dapat mengendalikan Ambar saat ini.
****
Sintia meminta Regan untuk menemuinya sekarang juga karena ada masalah penting, Regan awalnya tidak mau datang namun karena bujuk rayu wanita itu akhirnya Regan pun mau pergi juga menemui wanita itu, akan tetapi sebelum Regan pergi ia mewanti-wanti Ambar untuk jangan pergi ke mana pun ketika ia pergi.
“Kamu mengerti kan apa yang aku bicarakan? Jadilah istri yang baik dan turuti apa yang dikatakan oleh suamimu.”
Setelah mengatakan itu Regan langsung pergi meninggalkan rumah, Ambar sendiri hanya dapat termenung menatap jendela rumah dengan tatapan kosong. Daisy berjalan menghampiri mamanya dan bertanya apa yang
sebenarnya terjadi pada sang mama.
“Mama baik-baik saja, Nak.”
__ADS_1
“Kok Mama menangis kalau baik-baik saja?”
Ambar bingung ketika mendengar pertanyaan Daisy barusan namun ia berusaha mengalihkannya dengan mengajak Daisy bermain, Daisy bilang ia ingin main di luar rumah namun Ambar mengatakan bahwa mereka tidak
boleh keluar dari rumah ini.
“Kenapa memangnya, Ma?”
“Karena papa melarang kita keluar, Nak.”
“Pokoknya aku mau keluar, Ma.”
Ambar menghela napasnya dan kemudian akhirnya ia pun menuruti apa yang menjadi keinginan Daisy barusan yaitu pergi keluar rumah.
“Asyik.”
Daisy kegirangan dan kemudian ia dan Ambar langsung pergi ke taman dekat rumah dan rupanya ada seseorang yang memerhatikan mereka sejak tadi.
****
Ambar memerhatikan Daisy yang tengah bermain di taman secara mengejutkan seseorang menyapanya dan tentu saja Ambar mengenali orang ini yang tidak lain dan tidak bukan adalah Valdo.
“Valdo?”
“Ambar, bolehkah aku duduk?”
“Silakan.”
Valdo kemudian duduk di dekat Ambar, Ambar sendiri tidak mau memulai pembicaraan dengan Valdo karena ia tidak terlalu dekat dengan pria ini hingga akhirnya Valdo pun mengatakan sesuatu padanya.
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu namun itu juga kalau kamu tidak keberatan.”
“Memangnya apa yang hendak kamu tanyakan padaku?”
“Ini menyangkut soal Sintia.”
“Kenapa dengan Sintia?”
“Apakah kamu sudah tahu kalau sebenarnya Sintia dan suamimu menjalin sebuah hubungan terlarang?”
“Dari mana kamu tahu berita itu?”
__ADS_1
“Jadi kamu sudah mengetahuinya? Kenapa kamu diam saja?”