Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Memulai Hidup Baru


__ADS_3

Ambar memulai harinya di kota yang sangat jauh dari kota sebelumnya ia tinggal, di sana dirinya dan keluarganya memulai kehidupan yang baru dan tentu saja membuat Ambar membutuhkan beberapa penyesuaian namun Ambar yakin bahwa dirinya pasti akan dapat beradaptasi di tempatnya yang baru ini walaupun tidaklah mudah. Ambar bekerja kembali di sebuah toko milik orang paling kaya di desa ini, Ambar sangat beruntung karena dapat bekerja di toko ini sebagai penjaga namun ada satu hal yang baru Ambar sadari bahwa pemilik toko ini sepertinya agak genit padanya padahal usianya sudah hampir 60 tahunan dan kebanyakan karyawannya di sini adalah wanita.


“Sepertinya kamu mulai menarik perhatian bos besar, ya.”


Ambar terkejut dengan ucapan seorang wanita yang juga bekerja di toko ini, hari ini hanya Ambar dan wanita bernama Wati itu yang berjaga di sini dan Ambar tidak paham apa yang Wati bicarakan barusan.


“Apa maksudmu mengatakan itu?”


“Kamu jelas tahu apa yang aku bicarakan barusan.”


Wati mengatakan bahwa bos besar mempekerjakan Ambar karena pria itu tertarik pada Ambar namun Ambar nampak tidak memercayai apa yang Wati katakan walaupun sebenarnya ia sendiri sudah merasa kalau ada sesuatu hal yang tidak beres semenjak ia masuk kerja untuk pertama kali di tempat ini.


“Kalau memang kamu tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan barusan, silakan saja.”


Wati kemudian pergi meninggalkan Ambar yang masih memikirkan apa yang wanita itu sampaikan sampai akhrinya sosok bos besar yang sejak tadi mereka bicarakan muncul juga dan membuat Ambar terkejut.


“Kamu hanya sendirian saja di sini?”


“Tidak, saya bersama Wati barusan dia masuk ke dalam.”


Bos besar nampak tersenyum genit pada Ambar yang mana tentu saja membuat Ambar merinding, bos besar nampak ingin menyentuh tangan Ambar namun Ambar segera menepisnya dan memohon supaya bos besar tidak melakukan hal yang bukan-bukan padanya.


“Kenapa kamu begitu berani padaku?”


****


Sakti berusaha mencari di mana keberadaan Ambar namun hasilnya nihil, ia tidak dapat menghubungi Ambar dan ketika ia mencari ke rumah keluarga Ambar yang dulu rupanya mereka sudah tidak lagi tinggal di sana.


“Ke mana mereka pergi?”


“Saya juga tidak tahu ke mana mereka pergi karena mereka sama sekali tidak memberitahuku ke mana mereka akan pergi.”

__ADS_1


Sakti menghela napasnya berat, ia tidak akan berhenti untuk menemukan di mana keberadaan Ambar dan keluarganya saat ini namun satu hal yang pasti sepertinya Ambar dan keluarganya pergi karena keluarganya, entah kenapa Sakti yakin sekali akan hal tersebut.


“Kamu ini bicara apa, Sakti?” tanya Ariyani saat Sakti menanyakan apakah Ariyani yang mengusir Ambar dari kota ini.


“Ma, tolong katakan yang sebenarnya,” pinta Sakti.


“Mama tidak melakukan seperti apa yang kamu tuduhkan, Mama tidak tahu di mana Ambar dan keluarganya berada, mereka memang pergi begitu saja tanpa pamit,” jawab Ariyani.


Sakti nampak frustasi dengan semua ini, ia tidak menyangka kalau malam itu akan menjadi malam terakhir pertemuannya dengan Ambar dan sekarang ia kehilangan kontrak dengan Ambar namun kemudian Ariyani mengatakan bahwa inilah saat Sakti untuk melepaskan Ambar namun Sakti menolaknya.


“Tidak, aku yakin dapat menemukan di mana Ambar berada.”


“Terserah saja kalau kamu mau mencari di mana dia.”


****


Sintia merasa ada sesuatu hal yang tidak beres dengannya, ia merasa mual sejak tadi dan berulang kali pergi ke kamar mandi. Awalnya ia berpikir hanya demam saja namun lama kelamaan ia curiga bahwa saat ini dirinya tengah mengandung, Sintia memeriksakan diri ke dokter kandungan untuk memastikan apakah kecurigaannya ini benar atau tidak dan ternyata menurut pemeriksaan dokter bahwa Sintia memang sedang hamil. Berita itu membuat Sintia bingung, apakah ia harus bahagia atau sebaliknya dan pertanyaan yang tidak kalah penting untuk diselesaikan adalah siapa ayah dari bayi ini karena sebelum ini ia pernah melakukan hubungan dengan Valdo dan Sakti, di antara kedua pria itu adalah ayah kandung dari anaknya namun Sintia yakin bahwa Valdo adalah ayah kandung dari anaknya ini. Malam setelah Valdo pulang dari kantor, Sintia memberikan hasil USG mengenai kehamilan dirinya pada Valdo namun dugaan Sintia mengenai Valdo yang akan bahagia melihat hasil foto USG pun luntur saat Valdo justru seperti menatap datar foto itu.


“Apakah kamu yakin bahwa itu adalah anakku?”


“Bagaimana bisa kamu meragukan anakmu sendiri, Valdo?”


“Tidak, namun sebelum ini kamu dan Sakti juga pernah melakukannya kan?”


“Tega sekali kamu sudah mengatakan itu padaku!”


****


Ariyani nampak berdiri di balkon lantai dua rumah menatap langit malam yang sudah gelap ini karena sepertinya hujan tidak lama lagi akan turun, Ariyani memikirkan apa yang sudah ia katakan pada Sakti mengenai ia tidak tahu soal kepergian Ambar dan keluarganya dari kota ini.


“Kenapa juga aku harus memikirkan mereka? Semua ini adalah salah mereka dan aku tidak perlu terlalu memikirkan itu.”

__ADS_1


Ariyani masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu balkon dan kemudian ia pergi menuju kamarnya yang mana di sana suaminya sudah tertidur di ranjang. Ariyani ikut rebah di ranjang bersama suaminya namun Ariyani tidak dapat memejamkan matanya.


“Ya ampun, kenapa aku tidak bisa tidur begini?”


Wanita itu kemudian memutuskan untuk keluar kamar dan menuju dapur untuk mengambil minum, ia duduk di kursi meja makan dengan tatapan kosong karena masih memikirkan soal Ambar dan keluarganya.


“Kenapa aku harus memikirkan mereka?” lirih Ariyani.


“Siapa yang sedang kamu pikirkan?” tanya suaminya yang terbangun dan membuat Ariyani terkejut.


Ariyani awalnya tidak mau mengatakan yang sejujurnya pada sang suami namun pada akhirnya Ariyani pun menceritakan semuanya pada suaminya mengenai apa saja yang sudah ia lakukan pada Ambar dan keluarganya.


“Aku melakukan semua ini untuk membuat putraku bahagia, apakah aku salah?”


****


Ambar sudah selesai dalam bekerja dan kini ia hendak pulang ke rumah, ketika ia hendak pulang itulah bos besarnya menghadang jalannya. Bos besar mengatakan bahwa ia ingin mengantarkan Ambar pulang namun Ambar menolak itu.


“Saya dapat pulang sendiri.”


“Tapi saya ingin mengantarkan kamu.”


“Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri. Dan tolong jangan ganggu saya karena saya sudah menikah.”


“Apa katamu?”


Ambar segera permisi dari toko ini dan pergi dari hadapan bos besarnya itu namun rupanya bos besarnya itu tidak membiarkan Ambar pergi begitu saja.


“Tolong lepaskan saya!”


“Aku tahu bahwa kamu tidak mengatakan yang sejujurnya, kamu masih sendiri dan kamu mengatakan itu supaya tidak didekati olehku kan? Kamu salah Ambar, kamu terlalu cantik untuk tidak aku dekati!”

__ADS_1


“Tolong!”


__ADS_2