Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Ketika Siuman


__ADS_3

Ambar nampak masih belum dapat mengatakan apa pun pada Valdo karena dirinya masih bernar-benar kalut namun sebenarnya Ambar ingin ada seorang teman yang dapat untuk ia ajak bicara dan secara kebetulan ada Valdo di sini. Ambar pun menumpahkan semua keluh kesahnya mengenai masalah bertubi-tubi yang menimpa dirinya. Ambar masih menyalahkan dirinya sendiri karena sudah membuat Sakti celaka seperti ini.


“Mau sampai kapan kamu akan terus menyalahkan dirimu sendiri seperti ini, Ambar?”


“Namun semua ini memang kesalahanku, Valdo.”


Valdo menggelengkan kepalanya, ia mengatakan bahwa Ambar tidak salah di sini dan semua memang harus terjadi seperti ini. Ambar nampak terkejut dengan apa yang Valdo katakan barusan, Valdo kemudian menceritakan bahwa ia benar-benar merasa bersalah karena sudah berkata kasar pada Sakti sebelum kecelakaan ini terjadi.


“Namun kalau dipikir lagi, rasanya wajar jika aku mengucapkan kata-kata itu karena aku benar-benar kecewa padanya. Akan tetapi sekarang aku tidak lagi marah padanya, walau bagaimanapun juga Sakti adalah temanku.”


Ambar berterima kasih pada Valdo yang sudah mau berbaikan dengan Sakti, Ambar yakin bahwa ketika Sakti bangun kelak dia akan memeluk Valdo dan berterima kasih karena sudah mau memberikan kesempatan untuk mereka memperbaiki semuanya.


“Lalu bagaimana denganmu sendiri?”


“Apa maksudmu menanyakan itu?”


Valdo menanyakan soal kelanjutan hubungan Ambar dan Sakti, Ambar sendiri terdiam beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan Valdo barusan. Ambar kembali mengatakan bahwa ia khawatir kalau mereka memaksa untuk terus bersama maka sesuatu hal yang jauh lebih buruk mungkin saja dapat terjadi pada Sakti namun Valdo berusaha untuk menenangkan Ambar.


“Jangan berpikiran buruk seperti itu Ambar, aku yakin Valdo tidak akan senang jika kamu mengatakan itu.”


“Tentu saja dia tidak akan senang kalau aku menyalahkan diriku sendiri tapi kejadian di malam itu, aku yang membuatnya menjadi seperti ini, semua ini salahku.”


“Jangan menyalahkan dirimu lagi, Ambar.”


****


Ariyani datang ke rumah sakit untuk memeriksa bagaimana keadaan putranya apakah ada perkembangan atau tidak dan seperti biasa ketika ia datang ke rumah sakit dirinya bertemu lagi dengan Ambar dan keluarganya. Ariyani nampak muak dengan Ambar, ia meminta Ambar untuk bercerai saja dengan Sakti sekarang juga dan ia akan memberikan sejumlah uang untuk Ambar serta keluarganya dapat memulai hidup yang baru.


“Bagaimana bisa anda mengatakan hal itu pada anakku?” tanya Warsinih yang tidak percaya dengan yang Ariyani katakan barusan.

__ADS_1


“Kenapa? Apakah kalian menolak sejumlah uang yang akan aku berikan pada kalian?”


Ambar terdiam mendengar adu argumen antara Ariyani dan ibunya, Ambar nampak memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini dan kemudian setelah melalui proses berpikir yang matang akhirnya Ambar pun kemudian memutuskan untuk mengambil sikap.


“Baiklah Nyonya, saya akan mengambil tawaran itu.”


Ariyani bahagia namun Warsinih tidak bahagia dengan itu, Warsinih meminta Ambar untuk jangan pergi meninggalkan Sakti saat ia belum siuman namun Ambar mengatakan bahwa ia melakukan semua ini karena ia mencintai Sakti, ia tidak mau Sakti menderita lebih lama karena dirinya.


“Tapi kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri, Nak.”


“Aku tidak peduli pada diriku, Bu. Sakti tidak seharusnya seperti ini, aku yang bersalah di sini.”


“Baguslah kalau kamu sudah mengakui bahwa kamu bersalah di sini,” ujar Ariyani bahagia.


****


Ambar dan keluarganya diberikan sejumlah uang oleh Ariyani untuk memulai hidup baru di luar kota, sebelum mereka pergi nampak Ariyani meminta Ambar mengganti nomor ponselnya dan jangan pernah mencoba kembali ke kota ini untuk menemui Sakti lagi. Ambar hanya dapat pasrah dan menganggukan kepalanya, ia kemudian pergi bersama keluarganya dari rumah sakit ini. Tidak lama setelah Ambar pergi, Ariyani mendapatkan kabar bahwa kondisi Sakti berangsur membaik dan kemudian Sakti dapat dipindahkan ke ruangan inap biasa.


Setiap hari wanita itu datang menjenguk Sakti dan berdoa pada Tuhan semoga saja Sakti bisa segera siuman dan akhirnya setelah penantian panjang, Sakti bisa siuman juga dan ketika pertama kali membuka matanya Sakti melihat sosok sang mama dan bukannya Ambar.


“Syukurlah Nak, akhirnya kamu siuman juga.”


“Di mana Ambar, Ma?”


Ariyani nampak terkejut dengan pertanyaan Sakti barusan namun Ariyani tidak mau mengatakan di mana Ambar saat ini dan memilih untuk mengalihkan perhatian Sakti. Sakti sendiri merasa harus bertemu dengan Ambar saat ini dan menjelaskan semuanya namun Ariyani menghalanginya karena saat ini Sakti belum boleh pergi ke mana pun.


“Jangan pergi ke mana pun dulu, kamu kan baru siuman, Nak.”


“Ma, tolong katakan di mana Ambar, aku ingin bertemu dengannya.”

__ADS_1


****


Ariyani mengatakan bahwa Ambar sudah pergi meninggalkannya saat Sakti kecelakaan dan bahkan Ambar tidak datang ke rumah sakit ini untuk menjenguknya selama ia tidak sadarkan diri. Sakti nampak tidak percaya dengan apa yang Ariyani katakan barusan, ia yakin bahwa sang mama hanya mencoba membuat dirinya untuk membenci Ambar.


“Tidak, aku tidak yakin dengan semua yang Mama katakan barusan.”


“Kalau memang kamu tidak memercayai apa yang aku katakan, sekarang kamu lihat sendiri apakah wanita itu ada di sini?”


Sakti terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan oleh sang mama, Ariyani mengatakan bahwa ia mengatakan yang sebenarnya dan ia juga sedih dengan keputusan Ambar yang memilih untuk pergi meninggalkan Sakti di saat Sakti sedang berada di rumah sakit.


“Sekarang kamu sudah tahu seperti apa sifat aslinya kan? Kamu tidak seharusnya memertahkan rumah tanggamu dengan Ambar, Sakti.”


Namun Sakti menggelengkan kepalanya, ia yakin bahwa semua ini hanya salah paham belaka, ia harus menemukan Ambar dan menceritakan semuanya pada Ambar.


“Semua ini bisa aku selesaikan jika aku bertemu Ambar secara langsung, dia hanya membutuhkan penjelasan dariku, Ma supaya semua bisa jelas.”


“Sakti, hentikan. Kamu hanya sedang menyakiti dirimu sendiri karena sekarang Ambar sudah tidak ada di sini.”


Namun Sakti menggelengkan kepalanya, ia harus menemukan Ambar dan bicara dengannya karena ia tidak mau Ambar pergi darinya.


****


Ambar dan keluarganya pindah ke kota yang sangat jauh dari kota di mana Sakti tinggal. Mereka tiba di kota ini karena Ariyani yang memaksanya dan tentu saja Ambar dan keluarganya tidak memiliki pilihan lain, Ambar dan keluarganya mendapatkan rumah sewa yang baru dan Ambar mendapatkan kembali pekerjaan.


“Apakah kamu bahagia dengan kita tinggal di sini?” tanya Warsinih.


“Iya Bu, selama keluargaku ada bersamaku, aku akan bahagia tinggal di mana pun.”


Warsinih mengusap wajah Ambar, Warsinih mengatakan bahwa Ambar harus menyelesaikan semua masalah dengan Sakti dan jangan berbuat seperti ini.

__ADS_1


“Tapi Bu ….”


__ADS_2