
Saat Regan dan Helga tengah berbincang tiba-tiba saja sosok Sintia muncul di rumah ini yang mana kedatangan Sintia sangat tidak diharapkan oleh Helga. Helga nampak berang dan langsung mengusir Sintia dari rumah ini namun Sintia menolak hal tersebut dan mengatakan bahwa ia adalah calon istri Regan.
“Kenapa Tante melakukan semua ini padaku? Tante tahu kan bahwa aku dan mas Regan saling mencintai dan kami akan segera menikah?”
“Bicara apa kamu ini? Siapa yang mengizinkanmu menikah dengan anakku?! Sudahlah jangan terlalu tinggi bermimpi kalau kamu dapat menikah dengan anakku karena hal tersebut sangatlah tidak mungkin!”
Sintia menggelengkan kepalanya, ia tidak menerima ucapan Helga barusan dan meminta Regan untuk mengatakan sesuatu karena sejak tadi Regan hanya diam saja dan memerhatikan perdebatan antara mamanya dan Sintia.
“Kamu kenapa hanya diam saja, Mas? Katakan sesuatu pada mamamu bahwa kita berdua saling mencintai.”
Regan masih saja diam yang mana Helga semakin bersemangat bahwa pilihannya menjodohkan Regan dengan Sandrina adalah keputusan yang tepat, Helga mengatakan bahwa Sintia harus pergi sekarang juga dari rumah ini namun Sintia menolak, ia mengatakan tidak akan pernah pergi dari rumah ini karena memang ia adalah calon nyonya di rumah ini.
“Apa katamu? Kamu akan menjadi nyonya di rumah ini? Jangan pernah bermimpi untuk menjadi nyonya di rumah ini karena hal tersebut tidak akan pernah terjadi!”
“Tante tidak berhak untuk menghalangi kebahagiaan kami, aku dan mas Regan saling mencintai!”
“Jangan membicarakan omong kosong padaku, lebih baik sekarang juga kamu pergi dari sini selagi aku masih memiliki kesabaran dan tidak membuatmu harus berurusan dengan hukum!”
Sintia masih saja menolak dan mengatakan tidak akan pernah pergi dari rumah ini maka terpaksa Helga memanggilkan satpam untuk menarik Sintia dari dalam rumah, Sintia berontak dan meminta pada Regan untuk
menolongnya namun sayangnya Regan sama sekali tidak bergeming, pria itu justru hanya diam dan menatap kepergian Sintia yang dibawa oleh satpam keluar dari dalam rumah.
****
Sintia tidak percaya dengan apa yang ia dapatkan saat ini, Regan hanya diam saja ketika dirinya diperlakukan tidak baik oleh Helga karena wanita itu hendak menjodohkannya dengan Sandrina. Sintia tidak dapat tinggal diam, ia harus melakukan sesuatu supaya Regan tidak berubah pikiran dan tetap akan menikahinya maka Sintia pun tahu apa yang harus ia lakukan, Sintia pergi menuju rumah di mana Ambar dan keluarganya tinggal namun ketika ia tiba
di sana, dirinya sama sekali tidak menemukan di mana Ambar dan keluarganya.
__ADS_1
“Kamu mencari siapa?”
“Saya mencari orang yang tinggal di sini, ke mana mereka?”
“Oh keluarga yang tinggal di sini sudah pindah sejak beberapa hari yang lalu.”
Sintia nampak terkejut dengan ucapan pemilik kontrakan barusan, ia menanyakan ke mana Ambar dan keluarganya pindah namun pemilik kontrakan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tahu menahu soal ke mana Ambar
dan keluarganya pindah. Sintia kemudian mencoba untuk menghubungi Ambar namun ponsel wanita itu tidak aktif yang tentu saja hal tersebut membuat Sintia kesal bukan main.
“Bagaimana bisa dia tidak mengaktifkan teleponnya?”
Sintia menghela napasnya panjang dan kemudian memikirkan siapa lagi yang dapat ia hubungi hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk menghubungi Sakti dan untungnya Sakti menjawab telepon darinya.
****
Sakti menjawab telepon dari Sintia yang mana wanita itu mengatakan ingin bertemu dengan Sakti namun Sakti menolak karena saat ini ia sedang bekerja namun Sintia merengek dan meminta mereka bertemu. Pada
“Katakan sekarang juga karena aku tidak ingin berbasa-basi denganmu.”
“Baiklah kalau memang begitu, kamu tahu di mana Ambar dan keluarganya tinggal sekarang?”
Sakti nampak mengerutkan keningnya heran saat Sintia menanyakan hal tersebut, Sintia pun mendesak supaya Sakti mau mengatakan di mana Ambar dan keluarganya tinggal saat ini namun Sakti mengelak dan mengatakan
bahwa ia tidak tahu menahu soal di mana Ambar dan keluarganya pindah.
“Kamu mencoba untuk menipuku, Sakti? Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu pasti mengetahui di mana Ambar dan keluarganya tinggal saat ini.”
__ADS_1
“Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan ini, lebih baik aku pergi saja.”
Sakti langsung pergi walaupun Sintia mencoba memanggil namanya namun tetap saja Sakti tidak bergeming, Sintia tidak mau kehilangan jejak, buru-buru ia pergi mengikuti ke mana perginya Sakti.
****
Helga begitu bahagia karena rencana perjodohan yang telah ia rancang untuk Regan sepertinya dapat berjalan dengan mulus. Fadi bertanya pada istrinya mengenai apa yang membuat Helga begitu bahagia belakangan ini dan Helga pun menceritakan pada sang suami apa yang membuatnya bahagia belakangan ini. Fadi sendiri nampak tidak terlalu yakin dengan rencana Helga untuk menjodohkan Regan dengan Sandrina namun Helga sangat yakin kalau apa yang menjadi rencananya pasti dapat berjalan dengan mulus.
“Percayalah padaku bahwa rencana perjodohan ini akan berjalan mulus.”
Fadi tidak mau berkomentar lebih lanjut soal itu, ia memilih untuk tidak membahas mengenai hal tersebut namun justru malah membahas soal Ambar yang menurutnya menantu terbaik. Helga yang mendengar ucapan suaminya tentu saja marah karena memang ia tidak menyukai Ambar sejak awal Regan memperkenalkannya dengan keluarga mereka.
“Sejak awal aku sudah tidak menyetujui hubungan mereka berdua namun Regan memaksa supaya menikahinya dan sekarang lihatlah akibat yang ditimbulkan oleh sikap keras kepala Regan yang memaksa menikah dengan Ambar, mereka sekarang bercerai kan?”
“Mereka bercerai karena kesalahan Regan, andai saja Regan setia dan dapat mengendalikan dirinya tentu saja rumah tangga mereka pasti masih dapat langgeng sampai sekarang.”
“Kamu selalu saja membela wanita miskin itu ketimbang anakmu sendiri.”
****
Sintia benar soal menduga karena Sakti melajukan mobilnya menuju sebuah rumah yang kini ditinggali oleh Ambar dan keluarganya, Sintia nampak menyeringai karena kini dirinya sudah tahu di mana Ambar dan keluarganya tinggal. Sintia menunggu sampai Sakti pulang barulah ia pergi menemui Ambar di rumah itu, Ambar yang membukakan pintu nampak terkejut karena menemukan Sintia di depan pintu tengah menyeringai padanya.
“Sintia? Bagaimana bisa kamu tahu aku ada di sini?”
Sintia tidak menjawab pertanyaan dari Ambar dan malah berjalan masuk ke dalam rumah sebelum Ambar mempersilakannya masuk, Ambar sendiri buru-buru mengejar Sintia dan menanyakan dari mana Sintia mengetahui
dia tinggal di rumah ini.
__ADS_1
“Itu semua tidak penting, aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu.”
“Bantuan? Bantuan apa?”