
Sakti tentu saja menaruh curiga yang besar pada mamanya, sebelumnya mamanya ini sudah menculik Warsinih dan karena rencananya gagal pasti mamanya merencanakan hal yang lain dan Sakti tentu saja tak menyangka kalau rencana sang mama akan sangat mengerikan seperti ini. Sakti pun kemudian memutuskan untuk bicara dengan Ariyani mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Warsinih.
“Ma, bisakah Mama mengatakan yang sebenarnya padaku.”
“Mama tak paham apa yang sedang kamu bicarakan ini, Sakti.”
“Mau sampai kapan Mama bersandiwara seperti ini?”
“Mama tak mengerti.”
Sakti kemudian menuduh bahwa mamanya adalah dalang di balik semua ini, kejadian buruk yang menimpa Ambar secara bertubi-tubi hingga membuat istrinya itu sangat sedih sekali. Ariyani nampak tak percaya dengan apa yang Sakti tuduhkan ini, tentu saja Ariyani menolak semua tuduhan Sakti karena memang ia tak melakukan apa pun.
“Bagaimana bisa kamu menuduh Mamamu sendiri melakukan perbuatan keji begitu, Sakti?”
“Sebelumnya Mama kan menculik ibu dan kemudian besoknya ibu ditemukan tewas, pokoknya aku akan melaporkan Mama pada polisi.”
“Kamu silakan saja melaporkan Mama pada polisi, Mama tak takut sama sekali karena Mama memang tak bersalah dalam kasus ini.”
“Mama pasti mengatakan ini dengan tenang karena memiliki koneksi dan kekuasaan untuk menghindari hukum yang berlaku kan?”
Ariyani nampak tak percaya kalau Sakti terus menuduh dirinya bersalah dalam hal ini, Sakti mengatakan pada mamanya bahwa ia akan mencari bukti yang mana setelah itu Ariyani pasti tak akan dapat mengelak lagi.
“Tunggu saja, aku pasti akan mendapatkan bukti mengenai kejahatan Mama dan saat itu terjadi maka Mama tak akan dapat mengelak lagi.”
Setelah mengatakan itu maka Sakti pun pergi meninggalkan Ariyani yang nampak tak percaya dengan ancaman yang baru saja ia dapatkan dari Sakti.
“Ya Tuhan, apakah dia baru saja mengancamku? Anakku bagaimana bisa kamu berubah seperti ini?” ujar Ariyani tak habis pikir dengan perubahan Sakti.
****
Ariyani menemui Ambar yang masih berduka, Ambar sendiri terkejut dengan kedatangan Ariyani dan Ambar berusaha untuk bersikap tenang. Awalnya Ariyani tak mengatakan apa pun namun pada akhirnya wanita itu pun mengatakan sesuatu.
“Apakah kamu menganggapku sebagai pembunuh ibumu?”
Ambar terdiam mendengar pertanyaan yang Ariyani ajukan barusan, Ariyani mendesak Ambar untuk segera menjawab pertanyaannya barusan.
__ADS_1
“Saya tidak mau menuduh anda namun jika dilihat ke belakang, ibu saya anda culik dan anda memaksa saya untuk bercerai dengan Sakti.”
“Apa yang kamu katakan itu memang benar namun satu hal yang perlu kamu tahu Ambar bahwa sebenci apa pun aku padamu dan keluargamu, aku tak akan sanggup memerintahkan seseorang untuk menghabisi nyawamu atau keluargamu, terserah kamu mau percaya atau tidak.”
Setelah mengatakan itu Ariyani bergegas pergi meninggalkan Ambar yang terdiam di tempatnya, sejujurnya Ambar tidak mau menuduh Ariyani sebagai dalang di balik kematian ibunya namun hanya Ariyani yang terakhir kali terlibat masalah dengan ibunya sebelum kejadian buruk ini menimpanya.
“Ambar, apakah tadi mamaku mendatangimu?” tanya Sakti.
“Iya Sakti.”
“Apa yang dia katakan padamu? Apakah dia mengancammu lagi?”
Ambar menggelengkan kepalanya dan kemudian menceritakan apa yang Ariyani katakan padanya barusna, Sakti tentu saja meminta Ambar untuk jangan memercayai apa yang mamanya katakan.
“Kamu tenang saja Ambar, aku akan mencari bukti keterlibatan mamaku dalam kasus pembunuhan ibumu.”
****
Regan ikut hadir di acara pemakaman Warsinih dan ia masih saja tidak terima ketika melihat Ambar dipeluk oleh Sakti walaupun saat ini mereka sudah berpisah dan Regan bukan siapa-siapa Ambar lagi namun tetap saja sesuatu dalam dadanya bergejolak saat Sakti memeluk wanita yang ia cintai itu. Regan tak mau membuat masalah di acara duka cita seperti ini dan oleh sebab itu maka Regan memilih untuk pulang saja dar acara pemakaman dan Helga menunggunya di rumah.
“Memangnya Mama tak boleh datang ke sini?”
Regan malas berdebat dengan sang mama dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Helga namun Helga menahan Regan, ia bertanya dari mana saja Regan.
“Kenapa Mama menanyakan itu?”
“Apakah kamu baru saja menemui Ambar lagi?”
“Itu semua bukan urusan Mama.”
“Mau sampai kapan kamu mengharapkan Ambar? Sekarang Ambar saja sudah melanjutkan hidupnya dan ia sudah melupakan masa lalu yang pernah kalian buat, harusnya kamu itu seperti dia. Jangan terjebak dalam masa lalu seperti ini yang justru membuatmu menyedihkan, Regan.”
“Apakah Mama sudah selesai bicara? Kalau begitu aku pamit ke kamarku.”
Helga nampak tak percaya bahwa baru saja Regan mengacuhkannya padahal ia belum selesai bicara, Helga mencoba memanggil nama Regan namun anaknya itu tetap tak mau mendengarkannya.
__ADS_1
****
Sintia datang ke rumah untuk mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Warsinih, Ambar berterima kasih pada Sintia karena sudah mau datang ke rumahnya, Sakti sendiri tahu sebenarnya Ambar belum siap untuk bertemu dengan Sintia dan Sakti meminta Sintia untuk pergi saja dari sini.
“Kenapa kamu malah mengusirku?”
“Bukannya aku mengusirmu namun apakah kamu tidak melihat bagaimana kondisi Ambar saat ini?”
“Aku baik-baik saja, Sakti.”
Ambar berusaha baik-baik saja walaupun sebenarnya ia masih belum siap bertemu dengan Sintia, wanita ini sudah dua kali melakukan hal yang sama padanya, dua kali ia harus mengetahui suaminya harus berakhir di ranjang yang sama dengan wanita ini dan sekarang Sintia hamil, Ambar takut kalau anak yang dikandung oleh Sintia adalah anak Sakti.
“Bagaimana kandunganmu?”
“Baik, terima kasih karena kamu sudah peduli.”
Sintia kemudian pergi dari rumah ini setelah mengucapkan bela sungkawa pada Ambar dan keluarganya, selepas Sintia pergi maka Sakti menghampiri Ambar dan meminta Ambar untuk jangan berdekatan dengan Sintia lagi.
“Dia adalah orang yang membawa pengaruh buruk padamu, lebih baik kamu jangan dekat-dekat dengan dia,” ujar Sakti.
“Aku tahu itu.”
“Apakah kamu memikirkan sesuatu mengenai anak yang Sintia kandung?” tanya Sakti yang membuat Ambar terkejut.
****
Sampai saat ini Sakti belum menemukan bukti yang kuat bahwa mamanya adalah dalang di balik kematian Warsinih yang mana tentu saja hal tersebut membuat Sakti kesal bukan main karena mamanya bermain dengan sangat rapih dan teliti sekali hingga sulit baginya untuk mengumpulkan bukti yang dapat menjerat mamanya ke penjara.
“Apakah kamu masih menganggap bahwa mama adalah dalang di balik kematian ibunya Ambar?” tanya Ariyani.
“Tentu saja, aku tidak akan menyerah, aku akan mencari bukti bahwa Mama adalah dalang di balik semua ini,” jawab Sakti.
“Baiklah kalau memang begitu, silakan saja kalau kamu mau berusaha mencari bukti keterlibatan Mama karena sampai kapan pun kamu tak akan mendapatkannya, Valdo ada di depan dan ia datang untuk bicara denganmu sekarang.”
“Valdo ada di depan?”
__ADS_1