
Warsinih diajak bicara oleh bos besar mengenai keinginan pria itu mendapatkan Ambar dan tentu saja ia sudah mengetahui apa yang menjadi kelemahan Warsinih yaitu uang. Bos besar mengiming-imingi Warsinih untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
“Aku akan memberikan uang yang banyak jika kamu melakukan seperti apa yang aku perintahkan.”
Namun Warsinih tetap bergeming, ia tidak tertarik dengan iming-iming sejumlah uang yang dijanjikan oleh pria ini dan bahkan setelah proses tawar menawar yang panjang pun juga tidak membuahkan hasil.
“Kenapa kamu begitu keras kepala sekali saat ini? Aku tahu bahwa kamu ingin uangku namun kamu sok jual mahal.”
“Maaf namun saya tidak tertarik dengan uang anda, kalau sudah selesai silakan pergi.”
Namun tentu saja tidaklah semudah untuk mengusir bos besar, pria itu mengatakan bahwa ia akan melakukan apa pun untuk mendapatkan Ambar dan selagi ia masih berbaik hati, Warsinih seharusnya menerima apa yang ia perintahkan.
“Kamu tahu siapa aku kan? Aku dapat melakukan apa pun yang aku inginkan, aku bisa mengusir kalian dari desa ini kalau kalian tidak mau menuruti apa yang aku perintahkan.”
“Saya tidak takut, silakan kalau memang anda ingin mengusir kami dari desa ini.”
Bos besar nampak menyeringai dengan ucapan Warsinih barusan dan sebelum ia pergi nampak mengatakan bahwa Warsinih akan membayar dengan mahal apa yang baru saja dikatakan olehnya.
“Kamu akan menyesali apa yang sudah kamu katakan barusan.”
Setelah itu pun bos besar melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah ini, Warsinih menghela napasnya panjang karena akhirnya pria itu mau pergi juga dari sini. Ambar sejak tadi memerhatikan dan mencuri dengar pembicaraan antara sang ibu dan pria itu. Ambar tentu saja khawatir dengan keselamatan mereka namun Warsinih mengatakan jangan memikirkan apa yang ia katkan.
“Kamu tak perlu mengkhawatirkan apa yang ia katakan, Ambar. Semua akan baik-baik saja.”
“Semoga saja begitu karena aku merasa bahwa dia akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.”
****
Sakti masih mencoba untuk mencari tahu di mana keberadaan Ambar namun hasilnya masih nihil, Ariyani datang untuk menjenguk Sakti dan memastikan bahwa kondisi Sakti baik-baik saja namun sayangnya justru kedatangan Ariyani ke rumah ini disambut dingin oleh Sakti.
“Kenapa Mama datang ke sini?”
__ADS_1
“Memangnya Mama tidak boleh datang ke sini? Alasan kenapa Mama datang tentu saja ingin melihat bagaimana kondisimu, Sakti.”
Namun Sakti tentu saja tidak memercayai apa yang sang mama katakan barusan, mamanya datang ke sini pasti untuk sebuah misi khusus.
“Mama tidak perlu berbas-basi denganku, aku tahu bahwa Mama datang untuk sebuah alasan kan?”
Ariyani nampak tersenyum dan kemudian meraih tangan Sakti, Ariyani mengatakan bahwa ia meminta Sakti untuk berpisah saja dengan Ambar dan memulai kehidupan yang baru namun ide dari sang mama tersebut tentu saja Sakti tolak mentah-mentah.
“Bagaimana bisa Mama memintaku melakukan hal tersebut sementara Mama tahu bahwa aku masih mencintai Ambar?”
“Dengar, Sakti saat ini Ambar sudah menghilang dan kamu tidak akan menemukan di mana dia berada, kenapa harus membuang waktumu untuk mencari seseorang yang sudah pergi meninggalkanmu?”
Sakti nampak tak percaya dengan ucapan sang mama namun Sakti mengatakan bahwa dirinya tetap akan menunggu Ambar dan akan membuat Ambar kembali padanya seperti dulu lagi.
“Aku juga akan bertanya padanya mengenai alasan kenapa dia pergi.”
****
Sintia berusaha membuat Valdo berbaikan dengannya karena belakangan ini sikap Valdo sangat buruk padanya, Valdo memang tidak memarahinya atau bersikap kasar padanya namun Valdo bersikap dingin dan seperti selalu ingin menghindarinya yang mana tentu saja hal tersebut membuat Sintia tidak nyaman. Sintia menanyakan kenapa Valdo bersikap seperti ini padahal dirinya sudah berulang kali mengatakan bahwa anak yang sedang ia kandung ini adalah anak kandung Valdo bukannya Sakti.
Valdo tidak menjawab pertanyaan Sintia dan memilih untuk menghindar, tentu saja Sintia kesal dengan sikap Valdo barusan. Sintia mengatakan kalau memang Valdo sudah tidak mencintainya maka jauh lebih baik Valdo menceraikannya saja namun ucapan Sintia barusan rupanya menarik perhatian Valdo untuk menoleh padanya.
“Kenapa kamu mengatakan hal tersebut?”
“Karena kamu sepertinya sangat ingin supaya kita berpisah kan? Kamu tidak memercayai apa yang aku katakan.”
Valdo menghela napasnya panjang, ia mengatakan pada Sintia bahwa ia percaya dengan ucapan Sintia namun Sintia menampik semuanya.
“Kalau memang kamu percaya maka tidak mungkin kamu akan memerlakukanku dengan buruk seperti ini, Valdo.”
“Sepertinya kamu terlalu berlebihan Sintia, aku sama sekali tidak seperti itu.”
__ADS_1
****
Regan nampak terkejut saat ia tidak dapat menemukan keberadaan Ambar di rumah lamanya, ketika ia bertanya pada tetangga sebelah rumah mengenai di mana keberadaan keluarga Ambar sekarang justru ia mendapatkan sebuah kabar yang mengejutkan.
“Mereka sudah pindah ke luar kota namun saya tidak tahu dengan pasti ke mana mereka pergi.”
Regan nampak menghela napasnya panjang setelah mendengar berita itu, ia benar-benar penasaran mengenai ke mana perginya Ambar dan keluarganya dan oleh sebab itu Regan mencoba untuk menghubungi Ambar untuk menanyakan secara langsung pada wanita itu di mana sebenarnya mereka berada.
“Kok dia tidak menjawab telepon dariku, ya?”
Regan kembali mencoba untuk menghubungi Ambar namun jawaban yang ia terima tetap saja karena nomor yang Ambar gunakan tidak aktif dan tentu saja hal tersebut membuat Regan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di sini.
“Apakah Ambar sudah mengganti nomor ponselnya?”
Regan pun kemudian pulang ke rumah dengan tangan hampa, Helga sudah menantinya di rumah dan bertanya mengenai dari mana saja Regan belakangan ini namun Regan tidak menjawab pertanyaan yang Helga tanyakan barusan.
“Regan, apakah kamu mendengar pertanyaan Mama? Kenapa kamu hanya diam saja?”
“Apa yang barusan Mama tanyakan?”
“Kamu dari mana saja?”
“Aku habis dari luar, apakah sekarang Mama puas?”
****
Warsinih digeruduk oleh warga karena adanya kasus pencurian yang menimpa seorang warga di mana salah satu perhiasannya hilang setelah bertemu dengan Warsinih oleh sebab itu warga menaruh curiga pada Warsinih. Warsinih yang merasa tidak mengambil apa pun pun tidak mengakuinya dan mempersilakan warga untuk mencari bukti kalau memang dirinya adalah pelakunya.
“Silakan saja periksa aku, apakah aku memang seperti apa yang kalian tuduhkan.”
Akhirnya Warsinih digeledah namun tidak ditemukan barang bukti di tubuhnya dan warga pun mencari ke rumah dan di sana sebuah hal tidak terduga pun terjadi di mana barang bukti tersebut ada di dalam kamar Warsinih.
__ADS_1
“Ini buktinya!”
“Bagaimana bisa benda itu ada di sini?”