Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Meminta Kesempatan Kedua


__ADS_3

Sakti memikirkan apa yang dikatakan oleh sang mama barusan, bukannya ia tidak mau mengungkapkan perasaannya pada Ambar namun Sakti tahu bahwa saat ini Ambar belum siap untuk membuka hatinya akibat pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan suaminya. Sakti menghela napasnya panjang, ia masih memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini. Apa yang mamanya katakan memang benar, kalau Sakti semakin lama tidak mengungkapkan apa yang dirasakannya untuk Ambar bukan tidak mungkin kalau Ambar akan menjadi milik orang lain dan Sakti tentu saja tidak mau kalau sampai hal tersebut terjadi.


“Apakah ini saatnya aku harus mengungkapkan perasaanku padanya?”


Sakti kemudian memberanikan diri untuk pergi ke rumah Ambar untuk menemui wanita itu, ia sudah mempersiapkan diri dengan semua kemungkinan yang akan ia dapatkan jika mengungkapkan perasaannya pada Ambar. Ketika tiba di rumah, Ambar rupanya belum pulang dan Warsinih meminta Sakti untuk menunggu Ambar di dalam rumah, sembari menunggu Ambar nampak Warsinih mengajak Sakti berbincang hingga akhirnya sosok yang ia tunggu datang juga.


“Ibu masuk dulu, ya.”


Warsinih masuk ke dalam rumah sementara Ambar terkejut dan tak menyangka ketika pulang bekerja dirinya bertemu dengan Sakti di rumah ini. Ambar tentu saja penasaran dengan apa maksud serta tujuan Sakti datang ke rumahnya.


“Sakti, kenapa kamu datang ke sini?”


“Aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu padamu.”


“Mengatakan apa?”


Sakti mengajak Ambar untuk bicara di luar rumah saja karena ia tidak mau didengar oleh keluarga Ambar mengenai apa yang hendak ia katakan pada wanita ini. Ambar mengikuti saja apa yang Sakti katakan, kini mereka ada di luar rumah dan Ambar sangat penasaran dengan apa yang hendak Sakti katakan padanya.


“Jadi ada apa, Sakti?”


Sakti tidak langsung menjawab pertanyaan Ambar, ia diam sejenak sembari mengumpulkan semua keberaniannya sebelum akhirnya Sakti pun mengungkapkan semua perasaannya pada Ambar.


“Aku mencintaimu Ambar, apakah kamu mau menikah denganku?”


****


Ambar terkejut bukan main dengan ucapan Sakti barusan, ia pikir saat ini Sakti hanya bercanda saja namun Ambar memerhatikan kalau raut wajah Sakti saat ini sangat serius hingga membuat Ambar bingung apa yang harus


ia lakukan ketika Sakti mengungkapkan perasaannya secara tiba-tiba.

__ADS_1


“Sakti, apakah kamu sedang bercanda? Ini sangat tidak lucu.”


“Aku tidak sedang bercanda Ambar, aku mengatakan yang sesungguhnya kalau aku mencintaimu.”


Ambar menggelengkan kepalanya, ia tentu saja tidak dapat menerima Sakti saat ini apalagi ia belum lama bercerai dengan Regan, ia masih belum mau membuka hatinya untuk pria lain. Sakti sudah tahu kalau Ambar akan mengatakan hal itu padanya, walaupun sakit dengan penolakan yang dilakukan oleh Ambar namun Sakti mengatakan bahwa ia berharap suatu hari nanti Ambar akan menjadi miliknya.


“Kalau begitu aku pulang dulu.”


Sakti bergegas pergi dari rumah itu dan Ambar masih terdiam karena shock dengan ungkapan rasa cinta Sakti barusan, ia benar-benar tidak menyangka kalau Sakti akan mengatakan hal itu padanya. Ambar pun masuk ke


dalam rumah dan Warsinih sudah menunggunya di sana, ibunya itu bertanya apa saja yang Ambar dan Sakti bicarakan tadi namun Ambar tidak mau mengatakan apa pun pada sang ibu. Ambar bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya karena ia tidak mau diganggu oleh siapa pun.


****


Sintia terkejut ketika polisi datang ke apartemennya dan membawa surat pemanggilan dirinya, Sintia tentu saja menolak saat diminta polisi untuk ikut dengan mereka namun tentu saja tidak ada yang dapat ia lakukan selain ikut dengan polisi itu. Di kantor polisi Sintia langsung diberondong pertanyaan yang berhubungan dengan yang dilakukan olehnya beberapa hari yang lalu. Sintia mengelak semua pertanyaan yang diajukan oleh polisi hingga akhirnya polisi membeberakan sejumlah barang bukti yang membuat Sintia tidak dapat berkutik pada akhirnya Sintia pun dijebloskan ke dalam penjara namun Sintia memohon pada polisi untuk menghubungi seseorang sebelum ia dijebloskan ke dalam penjara. Polisi mengizinkan Sintia untuk menghubungi seseorang itu yang tidak lain adalah Regan, Sintia meminta pada Regan untuk membebaskannya dari kantor polisi atau ia akan melakukan hal yang jauh lebih buruk dari sekedar menyebarkan berita soal kehamilan dirinya.


“Aku tidak akan dipenjara di sini dalam waktu yang lama, tidak lama lagi aku pasti akan bebas, aku yakin sekali.”


saja dipenjara di tempat ini.


“AAAAA.”


****


Regan tentu saja sama sekali tidak memedulikan ancaman Sintia, ia justru senang kalau Sintia dipenjara karena dengan begitu dirinya dapat leluasa mendekati Ambar kembali namun di sisi lain Regan menjadi dilema karena ia juga tertarik dengan Sandrina, wanita cantik yang merupakan mantan model itu menarik perhatiannya namun hati Regan masih untuk Ambar yang tentu saja membuatnya bimbang. Helga muncul di ruangan kerja Regan yang membuatnya terkejut karena tidak menyangka kalau Helag akan datang, Helga datang dengan raut wajah kesal dan Regan sudah menduga bahwa mamanya datang untuk memarahinya.


“Kenapa Mama datang ke sini?”


“Apakah waktu itu kamu bertemu lagi dengan Ambar?”

__ADS_1


“Kenapa memangnya, Ma?”


“Memangnya kenapa? Saat ini kamu dan Ambar sudah bercerai, Regan.”


“Lantas kenapa? Ambar tetaplah mamanya Daisy, aku tidak mungkin melupakan fakta itu.”


“Alasan saja, kamu sebenarnya masih mencintai dia kan?”


Regan tidak langsung menjawab pertanyaan Helga yang mana tentu saja Helga sangat marah dengan respon yang diberikan oleh Regan karena Helga sudah menduganya. Helga tentu saja tidak dapat menerima semua ini, ia tidak habis pikir dengan Regan yang masih ingin kembali pada Ambar.


“Kamu sudah mengkhianati Ambar, tidak mungkin dia mau kembali padamu lagi.”


“Ma, tolong jangan membahas soal hal itu.”


“Kenapa memangnya? Kamu takut kalau apa yang Mama katakan itu benar?”


****


Sakti uring-uringan karena sampai saat ini Ambar tidak menghubunginya, Sakti jadi berpikir untuk mencoba menghubunginya namun kalau ia coba melakukan itu mungkin saja Ambar tidak akan mau menjawab telepon darinya oleh sebab itu Sakti mencoba untuk datang ke toko di mana Ambar bekerja namun ternyata ketika ia datang, Ambar tidak datang ke toko dengan alasan hari ini ia kurang enak badan.


“Apakah aku harus menemuinya di rumah?”


Sakti kemudian melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Ambar untuk menemui wanita itu, ia ingin memastikan kalau Ambar baik-baik saja namun justru saat ia datang ke rumah itu, ia menemukan Regan di sana yang tengah mencoba membujuk Ambar untuk kembali padanya.


“Mas tolong jangan buat keributan di sini.”


“Ambar tolong kamu maafkan aku, apa yang aku lakukan dengan Sintia hanya khilaf saja, tolong berikan aku kesempatan kedua.”


Sakti tidak tinggal diam, ia langsung turun dari dalam mobilnya dan melerai tangan Regan yang menggenggam tangan Ambar, sontak saja Regan terkejut dan marah dengan yang dilakukan oleh Sakti ini.

__ADS_1


“Beraninya kamu!”


__ADS_2