Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Tidak Ingin Membuatmu Kecewa


__ADS_3

Ariyani nampak terkejut karena rupanya Sakti mengenali kalau dirinya ada di sini dan tengah memerhatikan gerak-gerik anaknya itu namun tentu saja sudah terlambat untuk Ariyani melarikan diri karena Sakti sudah melihatnya dan menghampirinya.


“Apa yang Mama lakukan di sini?”


“Mama di sini hanya sedang jalan-jalan saja.”


“Apakah Mama datang ke sini karena mengkhawatirkanku?”


“Apa katamu? Tentu saja tidak, Mama datang ke sini bukan untuk mengkhawatirkanmu, Mama datang ke sini karena tidak sengaja jalan-jalan di sini.”


Ariyani nampak tak mau terlalu lama mengobrol dengan Sakti karena dadanya bergemuruh sekali saat ini ingin menangis namun ia menahannya dan buru-buru pergi dari sana setelah rasanya ia tidak dapat lagi membendung air matanya. Setelah berada pada jarak yang cukup jauh dari tempat di mana Sakti tinggal kini Ariyani menghentikan mobilnya dan menangis keras, ia tidak dapat lagi membendung air matanya supaya tidak tumpah, ia tidak menyangka kalau Sakti tetap mau menikah dengan Ambar dan memilih untuk hidup di tempat seperti yang barusan ia lihat.


“Kenapa dia memilih hidup seperti ini? Kenapa dia harus memilih wanita itu?”


Untuk beberapa saat nampak Ariyani menangis untuk meredakan beban yang tengah ia hadapi dan setelah semua terasa jauh lebih baik kini Ariyani perlahan menghapus air matanya dan melajukan kembali mobilnya menuju rumah. Ariyani baru saja tiba di rumah dan rupanya ia sudah ditunggu oleh sang suami yang nampak penasaran ke mana saja Ariyani barusan.


“Aku mencarimu sejak tadi, kata bibi kamu sedang pergi keluar.”


“Iya, tadi aku memang pergi keluar.”


“Apa yang terjadi padamu? Kenapa sepertinya kamu baru saja menangis?”


Ariyani terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh sang suami, Ariyani menolak bahwa ia tidak menangis namun tentu saja sang suami tahu persis bahwa saat ini Ariyani tidak sedang baik-baik saja.


“Berhentilah berpura-pura karena aku tahu bahwa kamu sedang tidak jujur padaku.”


“Baiklah, aku mengakuinya bahwa aku tidak baik-baik saja.”


****

__ADS_1


Selepas pernikahan mereka, Valdo tidak dapat langsung mengajak Sintia berbulan madu dan Sintia tidak mempermasalahkan itu. Sintia mengatakan bahwa Valdo harus bekerja untuk menghidupinya dan ia dapat mengerti akan hal itu. Valdo sangat bersyukur karena Sintia rupanya memang sudah berubah dan ia tidak lagi menuntut banyak hal darinya, selepas Valdo pergi bekerja kini Sintia juga ikut pergi menuju rumah di mana Ambar dan keluarganya tinggal. Sintia datang ke sana untuk mencari tahu bagaimana progres pernikahan antara Ambar dan Sakti, Ambar pun menceritakan apa yang terjadi pada mereka ketika di pesta pernikahan Valdo dan Sintia termasuk Ambar yang bertemu dengan Helga dan Regan.


“Mas Regan ingin bicara denganmu?”


“Iya namun mamanya langsung menariknya masuk ke dalam, untungnya saja saat mas Regan dan mamanya masuk ke dalam Sakti langsung datang dan membawaku pergi dari sana.”


“Begitu rupanya, sepertinya Sakti benar-benar sangat mencintaimu, ya? Dia sangat ingin membahagiakanmu sampai-sampai ingin membuat pesta pernikahan yang tidak sederhana.”


“Begitulah dia, padahal aku sudah mengatakan bahwa kalau kami menikah secara sederhana saja, aku sama sekali tidak masalah namun dia tetap ingin adanya pesta pernikahan. Aku sama sekali tidak mau memaksakan dia untuk melakukan apa yang tidak ia sanggupi.”


“Aku benar-benar kagum padamu Ambar, kamu benar-benar wanita yang baik.”


****


Regan sore harinya datang ke rumah keluarga Ambar untuk menemui wanita itu namun yang datang menemuinya adalah Warsinih, ibu dari Ambar itu nampak tidak suka dengan kedatangan Regan dan meminta Regan untuk pergi saja dari rumah ini.


“Untuk apa kamu harus mencari anakku lagi? Sudah tidak ada hal yang perlu kalian bicarakan.”


“Tidak ada, pergi sekarang juga.”


Regan tentu saja tidak mau diusir begini saja padahal ia belum mendapatkan apa yang ia inginkan, Regan meminta Warsinih untuk mengizinkannya bertemu dengan Ambar namun Warsinih sama sekali tidak memberikan izin untuk Regan melakukannya. Warsinih pun mengancam bahwa ia akan memanggil warga untuk mengusir Regan jika pria ini tetap berkeras tidak mau pergi.


“Apakah Ibu yakin mau menerima Sakti sebagai menantumu?”


“Kenapa kamu menanyakan itu?”


“Bukankah sekarang Sakti sudah diusir dari keluarganya dan dia tidak memiliki apa pun lagi? Kalau Ibu menerimanya sebagai menantu maka apa yang dapat Ibu minta darinya?”


Warsinih begitu tersinggung dengan ucapan Regan barusan yang seolah menyindir masa lalunya, Warsinih mengatakan bahwa ia tidak meminta apa pun pada Sakti namun Regan tidak memercayai hal itu karena dulu Warsinih meminta banyak hal darinya.

__ADS_1


“Dia tidak akan bisa memenuhi apa yang Ibu inginkan.”


“Pergi sekarang juga.”


****


Ariyani masih saja kepikiran dengan kondisi Sakti saat ini, sebagai seorang ibu tentu saja ia tidak dapat melihat kalau anaknya saat ini sedang menderita karena pilihan yang sudah ia perbuat namun Ariyani melakukan semua ini semata-mata bukan karena ia tidak sayang pada anaknya namun lebih kepada membuat Sakti tahu bahwa kalau ia memilih jalan di luar keluarganya maka ia akan kehilangan semuanya namun anak itu tetap saja melakukannya.


“Ya Tuhan, kenapa dia harus mengambil keputusan seperti ini?”


Ariyani tidak habis pikir dengan anaknya yang masih saja ingin menikah dengan Ambar, Ariyani tentu saja tidak ingin kalau anaknya harus berakhir seperti ini namun ia tidak memiliki pilihan yang lain. Bahkan karena Ariyani terlalu sibuk dengan pikirannya maka ia tidak sadar kalau sebenarnya sang suami sudah pulang ke rumah dan tengah memerhatikannya.


“Apakah kamu sudah lama seperti ini?”


“Apa maksudmu menanyakan itu?”


“Kamu saat ini pasti tengah memikirkan Sakti kan?”


Ariyani tentu saja tidak dapat mengelak dari pertanyaan yang diajukan oleh sang suami, Ariyani hanya dapat menghela napasnya berat dan kemudian sang suami pun mengatakan bahwa Ariyani tidak boleh sampai goyah dan menerima Ambar sebagai menantu mereka.


“Bukankah kamu yang menginginkan semua ini?”


****


Hari demi hari berlalu dan kini hari pernikahan Ambar dan Sakti sudah semakin dekat, Sakti mengatakan bahwa semua keperluan untuk pernikahannya dan Ambar sudah hampir selesai dan Sakti nampak bahagia sekali dengan semua itu namun tidak dengan Ambar. Tentu saja Sakti penasaran kenapa Ambar seperti tidak bahagia padahal sebentar lagi mereka akan menikah.


“Ambar, kenapa kamu tidak bahagia begini? Apakah karena kamu terbebani karena menikah denganku?”


“Bukan, bukan itu hanya saja aku merasa kamu terlalu memaksakan diri untuk menggelar pesta pernikahan yang mewah, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak perlu pesta yang mewah, kalau kita harus menikah secara sederhana pun aku tidak masalah.”

__ADS_1


Baru saja Sakti hendak mengatakan sesuatu nampak seseorang menginterupsinya, orang itu nampak tidak suka dengan Sakti yang hendak menikah dengan Ambar.


__ADS_2