
Helga tiba-tiba saja datang ke rumah Ambar dengan raut wajah dan ekspresi yang begitu murka hingga ia hendak melukai Ambar namun untungnya saja aksi Helga itu berhasil dihentikan oleh Sintia yang sedang ada di sana, tentu saja Ambar begitu shock dengan perlakuan Helga ini, ia tak menyangka bahwa setelah sekian lama Helga kembali datang ke sini dan hendak menyerangnya.
“Kenapa kamu mengganggu anakku? Kenapa kamu masih saja hidup di muka bumi ini?!”
“Nyonya saya tidak tahu apa yang sedang anda bicarakan.”
“Kamu harus mati sekarang juga, aku tidak akan membiarkanmu hidup, kamu sudah merusak anakku dan aku tidak akan memaafkanmu!”
Sintia menahan Helga dan mengatakan bahwa Helga seharusnya tidak ada di sini dan pergi, Sintia sempat memberikan kode pada Helga yang mana akhirnya wanita itu dapat mengendalikan emosinya dan membuat Helga pergi dari sini namun sebelum Helga pergi nampak wanita itu menunjuk Ambar dan mengatakan bahwa urusan mereka belum selesai.
“Aku akan membuat perhitungan denganmu, Ambar.”
Setelah Helga pergi, Sintia menenangkan Ambar yang sedang shock perihal kejadian yang barusan dialaminya, tidak lama kemudian kedua orang tua Ambar keluar dari dalam rumah karena mendengar suara ribut barusan dan mereka bertanya apa yang barusan terjadi. Sintia pun menceritakan bahwa barusan Helga datang dan hendak melakukan hal yang buruk pada Ambar namun syukurnya bahwa Helga sudah pergi dan Ambar baik-baik saja.
“Syukurlah kalau begitu, untungnya kamu tidak apa-apa, Nak.”
“Iya Bu, untungnya aku baik-baik saja.”
Sintia kemudian pamit dari rumah ini dan Ambar serta kedua orang tuanya pun masuk ke dalam rumah, ketika sudah ada di dalam rumah nampak Warsinih kembali memastikan bahwa anaknya baik-baik saja dan Ambar mengatakan bahwa ia tidak kenapa-kenapa.
“Ibu jangan khawatir karena aku baik-baik saja.”
“Apa yang membuat Sintia datang ke sini dan apa yang barusan kalian bicarakan?”
Ambar tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ibunya dan membuat Warsinih penasaran, bahkan Ambar memilih untuk menghindari pertanyaan seperti itu barusan.
****
Ambar memikirkan apa yang Sintia katakan padanya kemarin, ia memikirkan bahwa ia harus menelpon Sakti dan memastikan apakah pria itu baik-baik saja. Kalau mendengar cerita Sintia, Ambar merasa iba dan sedih dengan kondisi Sakti saat ini, Ambar tak menyangka kalau efek yang ditimbulkan olehnya begitu kompleks hingga membuat Sakti sakt.
__ADS_1
“Apakah aku harus menelponnya?”
Ambar bergelut dengan batinnya sendiri untuk beberapa saat hingga akhirnya Ambar pun memutuskan untuk menelpon Sakti setelah ia menyakinkan dirinya sendiri. Sakti langsung menjawab telepon dari Ambar dan nada bicara pria itu nampak begitu bahagia sekali saat ini.
“Ambar, aku senang sekali karena akhirnya kamu menelponku.”
“Bagaimana kabarmu? Apakah kamu baik-baik saja?”
“Iya tentu saja, terima kasih karena kamu sudah mau menanyakan bagaimana kabarku.”
Ambar kemudian mengajak Sakti untuk bertemu di sebuah tempat dan Sakti mengatakan bahwa ia akan datang ke sana sesegera mungkin. Ambar menghela napasnya dan mematikan sambungan teleponnya ini sebelum bergegas menuju tempat yang tadi sudah mereka berdua sepakati sebagai tempat janjian bertemu. Ambar sudah berada di tempat janjian mereka bertemu sebelum Sakti tiba karena tempat ini lebih dekat dari rumahnya ketimbang tempat Sakti tinggal, beberapa saat kemudian Ambar dapat melihat pria itu datang menghampirinya.
****
Sakti tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya ketika Ambar menelponnya dan menanyakan kabar bahkan yang membuat Sakti bahagia adalah Ambar mengajaknya bertemu di taman. Ketika Sakti tiba di sana nampak Ambar sudah menunggunya dan tentu saja hal tersebut membuat Sakti jadi tidak enak hati karena telah membuat wanita ini menunggunya.
“Aku minta maaf karena telah membuatmu menunggu di sini.”
Sakti kemudian duduk di dekat Ambar dan ia bertanya kenapa Ambar mau bertemu dengannya, Ambar tidak langsung menjawab pertanyaan Sakti namun ia memerhatikan pria itu yang membuat Sakti bingung.
“Kenapa menatapku seperti itu, Ambar? Apakah ada yang salah dengan wajahku?”
“Tidak, hanya saja aku sudah mendengar semuanya dari Sintia dan aku tidak tahu kalau efek yang ditimbulkan olehku begitu besarnya.”
Sakti terdiam beberapa saat setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Ambar barusan, Sakti menundukan kepalanya dan membuat Ambar merasa bersalah, Ambar meminta maaf karena telah menyakiti perasaan Sakti dan Ambar mengatakan bahwa ia akan mencoba membalas kebaikan Sakti ini.
“Apa maksudmu, Ambar?”
“Kamu tahu apa yang aku bicarakan ini, Sakti. Aku mau menikah denganmu.”
__ADS_1
“Namun aku tidak mau kalau kamu menjalani pernikahan ini dengan terpaksa, aku tidak menginginkannya.”
Ambar mengatakan bahwa ia akan mencoba mencintai Sakti dan ia mohon pria ini untuk percaya padanya, Sakti tentu saja bahagia karena akhirnya rencananya berhasil juga.
****
Sakti mengantarkan Ambar pulang ke rumah, sebelum Ambar turun dari dalam mobilnya nampak Sakti memastikan apakah Ambar serius dengan apa yang dikatakan olehnya di taman barusan dan Ambar mengatakan bahwa ia mengatakan yang sesungguhnya, tentu saja Sakti begitu bahagia dan berterima kasih pada Ambar yang mana karena wanita itu mau mengabulkan permintaannya walaupun Sakti tahu bahwa Ambar tidak mencintainya saat ini namun Sakti yakin bahwa akhirnya Ambar pasti akan mencintainya.
“Baiklah, aku turun dulu, terima kasih tumpangannya.”
“Tidak masalah.”
Ambar turun dari dalam mobil Sakti dan kemudian masuk ke dalam rumah dan Sakti melajukan kendaraannya meninggalkan rumah ini, Sakti begitu bahagia karena rencananya berhasil dan Sakti tidak menyangka kalau Sintia benar-benar membantunya dalam membuat Ambar mau menikah dengannya.
“Entah apakah aku harus senang atau sebaliknya namun kalau aku tidak memanfaatkan ini maka aku tidak akan selamanya mendapatkan Ambar.”
Sakti menelpon Sintia dan mengajak wanita itu bertemu, Sintia meminta Sakti mengirimkan saja di mana alamat mereka hendak bertemu dan ia akan pergi ke sana. Sakti kemudian mengirimkan alamat yang menjadi tempat mereka janjian sambil ia kembali melajukan mobilnya.
****
Warsinih penasaran dengan kenapa Ambar tiba-tiba diantarkan oleh Sakti tadi ke rumah padahal Warsinih mengetahui kalau hubungan Ambar dan Sakti sedang tidak baik-baik saja, Warsinih kemudian bertanya pada Ambar mengenai apa yang terjadi pada putrinya ini dan Ambar yang awalnya tidak mau mengatakan apa pun pada sang ibu akhirnya memilih untuk jujur.
“Sebenarnya tadi aku memang menemui Sakti dan kami tengah membicarakan sesuatu hal.”
“Sesuatu hal seperti apa, Nak?”
“Aku memutuskan untuk menerima Sakti.”
Warsinih nampak terkejut dengan ucapan Ambar barusan, Warsinih meminta Ambar untuk jangan bercanda dan Ambar mengatakan bahwa saat ini ia serius, ia menerima lamaran dari Sakti yang tentu saja membuat Warsinih bahagia.
__ADS_1
“Syukurlah kalau kamu menerimanya, Nak. Ibu senang sekali.”
Ternyata diam-diam ada seseorang yang berdiri di depan pintu rumah kontrakan mereka dan mencuri dengar apa yang mereka bicarakan di dalam.