
Regan nampak tersinggung dengan ucapan mamanya yang menyinggung soal gagalnya pernikahannya dengan Ambar terdahulu yang berakibat sampai mereka bercerai. Regan mengatakan bahwa ia tidak mencintai Ambar dan
oleh sebab itu mereka berdua bercerai. Helga tentu saja menyangkal semua itu, Helga mengatakan bahwa Regan awalnya sangat mencintai Ambar dan bahkan ia rela tidak dianggap anak olehnya namun pada akhirnya Helga pun luluh dan mau menerima pernikahan Regan dan Ambar hingga keduanya dikaruniai anak. Sekarang di waktu yang sudah berlalu lama sejak Regan dan Ambar menikah, keduanya memutuskan untuk berpisah dan berpisahnya karena kemunculan Sintia sebagai orang ketiga, tentu saja Helga merasa khawatir kalau Regan kembali menikah
dengan Sintia maka nasib rumah tangganya akan berakhir juga sama seperti dulu.
“Mama hanya tidak ingin kamu bercerai lagi untuk kedua kalinya, kamu bercerai dengan Ambar karena kamu tidak mau mendengarkan saran dari Mama.”
“Bisakah Mama tidak perlu mengaitkan hal itu dengan perceraianku?”
“Tentu saja Mama bisa mengaitkan karena memang seperti itulah faktanya. Kamu dan Ambar menikah dengan menentang Mama pada akhirnya kamu lihat sendiri kan? Nasib rumah tanggamu dengan Ambar berakhir dengan jalan perceraian.”
“Mama tolong jangan bicara hal-hal tidak masuk akal seperti itu, aku dan Ambar bercerai karena memang kami tidak saling mencintai lagi.”
Namun Helga menggelengkan kepalanya, ia tetap pada pendiriannya dan mengatakan bahwa kali ini Regan harus mengikuti apa yang ia katakan.
“Mama mengatakan ini karena Mama peduli padamu, Mama tidak ingin kalau kamu gagal lagi dalam membina rumah tangga.”
Regan malas memperpanjang masalah ini dengan Helga karena semakin ia mendebat mamanya maka semakin senang juga Helga mengeluarkan tangkisannya dan berujung Helga semakin memaksa Regan untuk mengikuti semua yang ia katakan.
“Tolong kamu pikirkan lagi ucapan Mama.”
Setelah mengatakan itu maka Helga pun pergi juga dari rumah ini, Regan menghela napasnya panjang dan kemudian ia pun berjalan menuju kamarnya untuk istirahat.
****
Sintia menelpon Regan dan menanyakan apa saja yang mereka berdua bicarakan tadi setelah ia pulang. Awalnya Regan tidak mau membahas hal tersebut namun karena Sintia yang sangat memaksa ingin tahu maka Regan pun mengatakan semua yang tadi ia bicarakan dengan sang mama.
“Mama tadi mengatakan kalau aku tidak boleh menikah denganmu, mama juga mengatakan bahwa kegagalan rumah tanggaku dengan Ambar karena aku tidak mau mendengarkan apa kata mamaku.”
Sontak saja Sintia terkejut sekaligus marah dengan cerita Regan barusan, ia tentu saja tidak dapat menerima kalau Helga menolak dirinya sebagai menantunya dengan alasan bahwa nanti nasib rumah tangganya dengan Regan akan bernasib sama seperti dengan Ambar dulu. Sintia pun berusaha meyakinkan Regan untuk tetap menikahinya dan jangan mendengarkan apa yang mamanya katakan barusan.
“Entahlah, apakah aku harus memercayai mama atau tidak.”
“Tentu saja kamu jangan mau terpengaruh dengan ucapan mamamu, Mas.”
__ADS_1
“Sudahlah Sintia, aku tidak ingin membahas masalah ini lebih dalam lagi.”
“Tentu saja kita harus membahas hal ini lagi, Mas. Aku ingin kejelasan bahwa nanti kamu akan menikah denganku!”
“Sintia, aku kan sudah mengatakannya padamu waktu itu.”
“Tapi kamu benar-benar akan menikahiku kan, Mas? Kamu janji padaku.”
“Sintia, aku sudah mengatakannya dan kamu jangan tanyakan itu lagi.”
****
Sintia mendatangi rumah keluarga Regan dan tentu saja kedatangannya ini untuk menemui Helga namun justru satpam di depan pagar rumah keluarga Regan malah mengusirnya, satpam itu mengatakan bahwa Helga tidak mau ditemui oleh siapa pun saat ini. Sintia berusaha membujuk satpam itu untuk mau membukakan pintu namun tetap saja satpam itu tidak mau melakukannya.
“Saya hanya menjalankan apa yang nyonya perintahkan.”
Sintia tentu saja kesal bukan main dengan semua ini, ia meraih ponselnya dan mencoba untuk menelpon Helga namun sayangnya Helga tidak mau menjawab telepon darinya. Satpam semakin membuat Sintia marah karena
ia diminta untuk segera pergi dari sini.
“Berani sekali kamu mengusirku dari sini, kamu tidak tahu siapa aku?!”
Namun satpam itu bergeming, Sintia masih mencoba menghubungi Helga namun hasilnya tetap saja nihil, ia tetap tidak dapat menemui Helga dan pada akhirnya ia pun harus kembali dengan tangan kosong. Ketika Sintia kembali ke apartemennya justru ia bertemu dengan Valdo, Sintia nampak menghela napasnya panjang dan tidak mau berurusan dengan mantan kekasihnya itu.
“Sintia, kamu dari mana?”
“Kenapa kamu datang ke sini? Bukankah sudah tidak ada apa pun di antara kita?”
“Aku datang ke sini untuk menanyakan sesuatu padamu.”
****
Keluarga Ambar akhirnya pindah ke rumah yang waktu itu diberikan oleh Sakti kuncinya, keluarga Ambar nampak bahagia ketika pindah ke rumah ini kecuali Ambar sendiri yang merasa terbebani karena Sakti terlalu baik pada keluarganya. Ambar mengatakan pada Sakti bahwa ia akan membayar untuk semua ini namun Sakti menolaknya.
“Aku ikhlas melakukannya.”
__ADS_1
Namun walaupun Sakti mengatakan demikian tetap saja Ambar tidak dapat menerima begitu saja kebaikan dari Sakti ini. Ia tidak mau mengambil keuntungan dari Sakti yang sudah baik padanya.
“Bagaimanapun juga aku akan mencicil semua ini, tolong kamu mau menerimanya.”
Sakti hanya dapat menghela napasnya ketika melihat betapa keras kepalanya Ambar untuk tetap mau membayar semua ini padahal Sakti mengatakan bahwa Ambar tidak perlu melakukannya.
“Baiklah kalau memang seperti itu yang kamu inginkan.”
Ambar akhirnya merasa lega karena Sakti mau menerima saran darinya, kini Ambar berpikir ia harus mencari pekerjaan supaya dapat melunasi semua utangnya pada Sakti. Rupanya dari jauh di dalam sebuah mobil
yang terparkir agak jauh dari rumah itu, Regan memerhatikan mereka, pria itu mengenakan kacamata hitam dan nampak kesal sekali dengan kebahagiaan keluarga Ambar saat ini apalagi sekarang Sakti seperti sudah terang-terangan mendekati Ambar tanpa sungkan.
“Ambar, aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan pria itu.”
****
Sakti baru saja tiba di apartemennya dan ia terkejut menemukan mamanya ada di dalam apartemennya, mamanya langsung berdiri dan menghampiri Sakti seraya bertanya dari mana saja anaknya.
“Aku baru bertemu dengan temanku, Ma.”
“Benarkah?”
“Mama sendiri apa yang Mama lakukan di apartemenku?”
Mamanya Sakti masih menatap Sakti namun ia tidak menjawab pertanyaannya barusan, Sakti pun heran dengan reaksi mamanya yang seperti ini.
“Kenapa Mama menatapku begitu? Apakah ada yang salah dengan wajahku?”
“Sakti, bisakah kamu katakan dengan jujur pada Mama apa yang sebenarnya tengah kamu lakukan?”
“Maksud Mama apa?”
“Mama tahu kalau kamu memberikan rumah yang Mama hadiahkan untukmu pada orang lain.”
Sakti nampak terkejut dengan ucapan mamanya barusan, Sakti tidak dapat berkata-kata setelah mendengar ucapan mamanya barusan.
__ADS_1
“Katakan pada Mama, siapa dia?”