Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Aku Benci


__ADS_3

Sintia nampak begitu shock dan terpukul saat tahu anak yang sedang dikandungnya tidak dapat diselamatkan nyawanya, ia meminta Valdo untuk jangan bercanda padanya namun Valdo mengatakan bahwa ia mengatakan hal yang sejujurnya. Sintia menangis pedih, ia masih tak dapat menerima nasib buruk yang menimpanya saat ini.


“Aku harap setelah ini kamu dapat menerima kenyataan ini,” ujar Valdo yang kemudian berlalu meninggalkan Sintia yang menangis pilu.


Ketika keluar dari ruangan itu, Valdo bertemu dengan Ambar yang sejak tadi diam dan memerhatikan apa yang terjadi di dalam sana, Ambar nampak meminta maaf pada Valdo namun Valdo mengatakan bahwa Ambar tak perlu meminta maaf padanya.


“Aku sama sekali tidak marah padamu, lagi pula mungkin ini adalah jalan supaya kami dapat berpisah.”


Mendengar ucapan Valdo tersebut membuat hati Ambar tidak enak, Valdo mengatakan bahwa Ambar tak perlu menyalahkan dirinya sendiri namun mustahil bagi Ambar untuk ia tak melakukan hal tersebut.


“Aku sungguh-sungguh Ambar, jangan menyalahkan dirimu untuk apa yang telah terjadi pada Sintia, kamu sama sekali tidak bersalah.”


Setelah mengatakan itu Valdo pun pergi meninggalkan Ambar, wanita itu masih berdiri di tempatnya untuk beberapa saat. Ambar ikut menangis karena merasa bersalah pada Sintia. Ia dapat merasakan bagaimana perasaan Sintia saat ini, jika Ambar ada di posisi Sintia mungkin ia juga akan bersikap sama seperti yang Sintia lakukan saat ini. Ambar pun kemudian mencoba untuk masuk ke dalam ruangan itu namun Sintia langsung menatapnya tajam.


“Sintia aku….”


“Mau apa kamu datang ke sini? Aku tak ingin melihat wajahmu!”


“Aku minta maaf, aku….”


“Keluar sekarang juga!”


Sintia menjerit pada Ambar dan membuat Ambar akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan inap itu walaupun sebenarnya ia ingin bicara dengan Sintia dan menenangkannya namun sepertinya saat ini bukanlah saat yang tepat untuknya dapat melakukan hal tersebut.


“Pergi kamu dari sini, Ambar! Aku tak mau melihat wajahmu!”


****


Ambar begitu sedih saat pulang ke rumah, ia merasa bersalah pada Sintia atas kejadian buruk yang menimpa wanita itu. Farah yang baru saja pulang kerja memutuskan untuk mampir ke rumah kakaknya untuk memastikan apakah kakaknya baik-baik saja atau tidak.

__ADS_1


“Kak, apa yang terjadi padamu?”


“Aku tadi dari rumah sakit menjenguk Sintia.”


“Memangnya apa yang terjadi padanya?”


Ambar pun menceritakan semuanya pada sang adik, Farah menyimak cerita Ambar tersebut dan membiarkan Ambar untuk menyelesaikan semua ceritanya. Ambar pun kemudian menyalahkan dirinya karena sudah berbuat jahat pada Sintia.


“Kamu sama sekali tidak bersalah, Kak. Semua ini kan bukan keinginan kita semua.”


“Tapi andai saja aku tak mendorongnya maka semua ini tak akan pernah terjadi, Sintia akan tetap memiliki anaknya hingga ia melahirkan, aku telah merenggut kebahagiaannya.”


Farah nampak bersimpati dengan yang Ambar alami saat ini, ia memeluk sang kakak dan berusaha menenangkannya yang tengah kalut saat ini. Ambar menangis dalam pelukan adiknya dan untuk beberapa saat Ambar mengeluarkan semua emosi yang ada di dalam dirinya dan akhirnya setelah itu Ambar pun perlahan melerai pelukannya dan mulai menghapus air matanya yang tadi sempat berlinang karena ia menangis dengan cukup kencang.


“Bagaimana perasaanmu setelah ini?”


“Sudah jauh lebih baik, akan tetapi untuk saat ini rasa bersalah itu tetap masih ada.”


****


“Sudahlah Ambar, berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Semua ini sudah karena kehendak Tuhan.”


“Tapi andai saja aku tak melakukan itu, Sakti maka Sintia masih akan memiliki anaknya.”


Sakti menggelengkan kepalanya, Sakti mencoba memberikan pengertian pada Ambar bahwa semua ini sudah harus terjadi karena Tuhan telah menakdirkan seperti ini. Sekuat apa pun Ambar menyangkal hal buruk yang telah terjadi semua tak akan pernah merubah apa pun.


“Berhenti untuk menyalahkan dirimu sendiri dan terima saja bahwa Sintia memang harus menjalani kehidupan yang seperti ini, Sakti.”


Mendengar ucapan Sakti barusan membuat Ambar kembali menangis namun jika sebelumnya Farah yang memeluknya kini Sakti yang memeluknya, Sakti membiarkan Ambar untuk menangis dalam pelukannya sementara Sakti sibuk untuk menenangkan Ambar. Untuk beberapa saat mereka seperti itu dan akhirnya setelah perlahan Ambar sudah mulai dapat menguasai dirinya kembali maka Ambar pun melerai pelukan mereka.

__ADS_1


“Bagaimana perasaanmu saat ini?”


“Sudah jauh lebih baik, terima kasih karena kamu sudah mau mendengarkanku tadi.”


“Tidak masalah Ambar, aku senang mendengar keluh kesahmu dan mulai sekarang berhentlah untuk menyalahkan dirimu sendiri.”


****


Kasus hukum yang menjerat Helga memasuki babak baru, wanita itu dipanggil oleh polisi sebagai saksi kembali atas kasus yang menyeret dirinya itu pembunuhan berencana Warsinih. Sudah banyak wartawan yang sedang menunggunya ketika ia datang maka para wartawan langsung menyodorkan mikrofon padanya namun Helga memilih untuk diam seribu bahasa walaupun banyak sekali wartawan yang berkerumun di sana dan ingin menanyakan apa yang akan menjadi agenda pemeriksaan kali ini sementara yang lainnya sibuk bertanya komentar Helga mengenai kasus yang tengah melilitnya.


“Tolong jangan halangi jalan, berikan kami jalan.”


Petugas keamanan membuka jalan dari mobil Helga menuju pintu masuk ke dalam gedung ,di sana tentu saja para wartawan tidak diizinkan untuk masuk ke dalam karena memang petugas keamnan sudah berjaga dan wartawan hanya boleh mengambil gambar sebatas tangga saja.


“Bu Helga, bagaimana tanggapan anda mengenai kasus ini?”


“Apakah anda yakn bahwa anda tak bersalah dalam kasus ini?”


“Bolehkah kami meminta komentar anda mengenai kasus ini?”


Namun semua pertanyaan wartawan tidak ada satu pun yang dijawab poleh Helga, wanita iu dengan pengawalan super ketat masuk ke dalam untuk menjalankan pemeriksaan.


“Awas saja kalian semua, aku tak akan pernah tinggal diam saja, tunggu pembalasanku.”


****


Ambar masih memikirkan bagaimana nasib Sintia saat ini, ia pergi ke rumah sakit tempat di mana Sintia dirawat dengan harapan kali ini suasana hati Sintia sudah jauh lebih baik dan mereka dapat bicara. Tidak ada niat jelek dalam diri Ambar ketika ingin menemui Sintia, ia tulus dan ikhlas ingin membantu Sintia kembali bangkit setelah hal buruk yang menimpa keluarganya. Ketika Ambar datang nampak Sintia sudah bangun tidur dan ia melirik ke arah Ambar yang baru saja datang, Sintia tentu saja emosi dan menanyakan kenapa saat ini Ambar masih saja datang ke sini padahal ia mengatakan bahwa ia tak mau ada siapa pun tinggal di sini.


“Aku di sini untuk meminta maaf padamu atas apa yang sudah aku lakukan padamu.”

__ADS_1


“Apa katamu? Meminta maaf padaku? Apakah kamu pikir aku akan mengampunimu?!”


__ADS_2