Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Kebencian Membara


__ADS_3

Regan datang ke rumah untuk menjemput anaknya yang tadi ia titipkan di rumah Ambar sejak pulang sekolah, Daisy sendiri begitu bahagia karena dapat bertemu dengan sang mama yang sangat ia rindukan. Daisy pun nampak agak berat ketika dijemput oleh papanya untuk pulang ke rumah.


“Ayo sayang, kita pulang.”


“Aku masih mau di sini, Pa.”


Ambar membantu Regan untuk membujuk Daisy pulang pada akhirnya Daisy pun mau juga untuk diajak pulang oleh Regan. Daisy mengatakan bahwa ia ingin lebih banyak waktu dengan sang mama dan Regan mengatakan kapan pun Daisy mau bertemu maka ia akan mengantarkan Daisy ke sini.


“Papa janji kan?”


“Tentu saja, sekarang ayo beri salam pada mama dan om Sakti.”


Daisy mencium tangan Ambar dan Sakti sebelum anak itu pergi bersama Regan, sebelum pulang dan berpamitan Regan berterima kasih pada Ambar yang mau menjaga Daisy. Regan sempat melempar senyum pada Ambar yang mana tentu saja Sakti tidak suka dengan hal tersebut.


“Aku pulang dulu.”


“Hati-hati mengemudi, Mas.”


Regan dan Daisy masuk ke dalam mobil dan Daisy melambaikan tangannya dari dalam mobil, Ambar membalas lambaian tangan Daisy itu sebelum mobil yang dikemudikan oleh Regan perlahan meninggalkan area rumah di mana Ambar dan Sakti tinggal.


“Apakah kamu bahagia hari ini?” tanya Sakti setelah mereka sudah masuk ke dalam rumah dan hanya ada mereka berdua saja di rumah ini.


“Apakah kamu masih cemburu pada mas Regan? Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?”


Sakti menghela napasnya panjang, ia meminta maaf kalau ia cemburu pada Regan karena ia sendiri masih khawatir kalau mantan suami Ambar itu masih mencoba ingin kembali pada Ambar.


“Semua itu tidak mungkin terjadi, berhenti memikirkan sesuatu yang bukan-bukan.”


Setelah mengatakan itu, Ambar pun pergi menyiapkan makan malam untuk Sakti dan dirinya karena sejak tadi mereka belum makan malam.


“Ayo Sakti, kita makan malam, aku sudah menyiapkan ini di meja makan.”


“Baiklah.”

__ADS_1


****


Ariyani nampak masih tak puas hati karena rencananya untuk memisahkan Ambar dan Sakti belum juga berhasil walaupun kini Sakti percaya bahwa bukan dirinya yang membuat Warsinih meninggal dunia namun Ariyani masih saja belum dapat menerima semua ini.


“Berhenti untuk mengusik kehidupan rumah tangga, Sakti.”


“Kamu ini bicara apa?”


Suami Ariyani mengatakan bahwa selama ini ia tahu apa yang sudah istrinya ini perbuat namun ia memilih diam saja, akan tetapi sekarang ia mengatakan tidak dapat hanya diam saja dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


“Bukankah dulu kamu menentang hubungan Sakti dengan Ambar?”


“Iya, awalnya dulu aku memang menentang hubungan mereka namun sekarang aku sudah tidak lagi menentangnya, Sakti terlihat begitu gigih dalam memertahankan rumah tangganya dan ia membuktikan bahwa sangat mencintai wanita itu, kenapa kamu tidak dapat menerimanya saja?”


“Aku tidak suka dengan wanita itu, dia bisa saja hanya memanfaatkan Sakti saja dan tidak benar-benar tulus dalam mencintai Sakti.”


“Kamu bersikap seperti ini karena sikap mendiang ibunya Ambar? Sekarang dia sudah tidak ada di dunia ini namun kamu masih saja mengungkit hal buruk orang yang sudah tidak ada, apakah kamu tidak takut akan dosa?”


Ariyani terdiam mendengar ucapan sang suami, suaminya memberikan nasihat bahwa Ariyani sudah seharusnya mulai berdamai dengan masa lalu dan keadaan karena memang inilah yang diinginkan oleh Sakti.


****


“Kenapa kamu bersikap seperti ini, Valdo? Anak itu adalah anakmu, aku yakin sekali.”


Sintia kembali sedih saat mengingat mengenai anaknya yang seharusnya masih ada namun karena kejadian buruk itu maka membuatnya kehilangan anaknya dan semua itu gara-gara Ambar.


“Ambar, dia semua dalang di balik kehancuran hidupku, kenapa dia harus melakukan hal ini padaku berulang kali?!”


Sintia berteriak frustasi dan ia mengeluarkan air matanya sampai ia puas menangis, setelah menangis Sintia bersumpah akan membuat Ambar membayar atas apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu pada hidupnya.


“Kamu pikir semua ini akan berakhir begitu saja Ambar? Tidak, aku tidak akan pernah membiarkanmu lolos! Kamu harus membayar atas apa yang sudah kamu lakukan pada hidupku!”


Sintia kemudian keluar dari kamar hotelnya dan ia menuju rumah di mana Ambar dan Sakti tinggal, Sintia menggedor pintu dan meneriakan nama Ambar dan tidak lama pintu pun terbuka dan nampak Sakti di sana.

__ADS_1


****


Sakti nampak heran kenapa Sintia datang malam-malam begini ke rumah ini namun Sintia mengatakan bahwa ia datang ke sini karena ia ingin bertemu Ambar, sesuatu harus mereka selesaikan malam ini.


“Kamu terlihat tidak baik-baik saja malam ini, jangan bicara saat emosi sedang menguasaimu.”


“Jangan menghalangiku!” seru Sintia mendorong Sakti hingga ia bisa masuk ke dalam rumah dan mencari Ambar.


Ambar terkejut ketika melihat Sintia ada di rumahnya dan wanita itu langsung menariknya keluar rumah, Ambar berusaha melawan namun Sintia terus memaksanya keluar dari rumah ini.


“Sintia, apa yang hendak kamu lakukan padaku?”


“Kamu tak perlu tahu apa yang hendak aku lakukan padamu, kamu harus membayar atas apa yang sudah kamu lakukan pada hidupku!”


Sakti tidak tinggal diam, ia mendorong Sintia untuk menjauh dari Ambar, Sakti mengatakan bahwa Sintia harus pergi sekarang juga dari rumahnya sebelum ia memanggil warga untuk mengusir Sintia.


“Aku tidak akan pergi sebelum bisa membuat perhitungan dengan Ambar, dia adalah sebab kenapa hidupku menjadi hancur begini!”


“Berhenti menyalahkan orang lain, Sintia. Seharusnya kamu berkaca pada dirimu sendiri, kenapa semua hal buruk terjadi padamu itu semua karena kamu yang menginginkannya!”


Sintia tidak terima dengan apa yang Sakti katakan dan terjadilah kericuhan malam itu di rumah ini, Sakti mengusir paksa Sintia dan mengatakan jangan pernah coba kembali datang ke sini.


****


Ambar tidak dapat tidur semalaman karena ucapan Sintia yang mengatakan bahwa semua hal buruk yang terjadi pada hidup wanita itu adalah salahnya, Sakti berusaha menenangkan Ambar namun Ambar tidak dapat tidur dengan lelap karena ucapan wanita itu. Pagi sudah datang dan Sakti sudah siap untuk pergi bekerja, ia berpamitan pada Ambar untuk berangkat pagi ini.


“Aku berangkat dulu, hari ini jangan pergi ke mana pun dan jangan bukakan pintu untuk siapa pun sebelum aku pulang, kamu paham?”


“Iya Sakti, aku paham.”


Sakti tersenyum dan kemudian ia membuka pintu rumah namun ia terkejut karena Sintia berdiri di depan sana dan langsung memukul kepalanya dengan kayu hingga ia jatuh ke lantai, tak cukup sekali namun Sintia memukul Sakti dengan kayu itu hingga Sakti pingsan dan mengalami pendarahan di kepalanya.


“Sakti!”

__ADS_1


“Ikut denganku sekarang juga!” seru Sintia menarik paksa Ambar untuk ikut dengannya walaupun Ambar menolak dan meronta.


__ADS_2