
Sintia mendesak Sakti untuk mau jujur padanya apakah yang ia curigai itu benar adanya atau tidak namun Sakti membantah itu. Sakti mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mencintai Ambar namun Sintia tidak memercayai hal itu.
“Kalau memang kamu tidak mencintai Ambar, lantas kenapa kamu sepertinya khawatir sekali padanya?”
“Aku khawatir padanya karena dia tidak dapat dihubungi, apakah menurutmu itu adalah sebuah hal yang wajar?”
“Kamu mengkhawatirkannya karena takut terjadi sesuatu hal yang buruk padanya kan? Sudahlah Sakti aku tahu bahwa kamu memang menyukai Ambar namun kamu terlalu gengsi untuk mengatakannya, apakah aku benar?”
Sakti kesal dengan Sintia yang selalu saja mendesaknya untuk mengatakan bahwa ia menyukai Ambar, Sakti kemudian meninggalkan Sintia dan berharap dapat masuk ke dalam rumah namun tentu saja satpam tidak
memperbolehkan Sakti masuk ke dalam.
“Sakti, apakah kamu mau masuk ke dalam?” tawar Sintia.
“Iya, aku ingin masuk ke dalam dan bicara secara langsung pada Ambar,” jawab Sakti.
Sintia nampak tersenyum dan kemudian ia bicara pada satpam itu untuk memberikan izin Sakti masuk ke dalam, awalnya satpam tersebut ragu dengan ucapan Sintia bagaimanapun juga ia tidak mau dipecat oleh Regan namun Sintia mengatakan bahwa satpam ini tidak akan dipecat.
“Aku yang akan bertanggung jawab atas semua ini,” ujar Sintia yang akhirnya membuat satpam itu mau membukakan jalan untuk Sakti masuk ke dalam rumah.
Sintia nampak menyeringai dan kemudian menelpon Regan, ia memberitahu Regan bahwa Sakti ada di rumahnya dan tengah bertemu dengan Ambar. Regan sontak saja marah ketika mendengar berita dari Sintia itu dan ia
mengatakan akan memberikan pelajaran pada Sakti karena sudah menggoda istrinya.
“Mas, bisakah nanti kita bertemu?”
“Aku sibuk nanti, tentu saja aku tidak dapat bertemu denganmu.”
Setelah mengatakan itu Regan langsung menutup sambungan teleponnya yang membuat Sintia kesal bukan main namun ia nampak menyeringai karena rencananya untuk mempertemukan Sakti dan Ambar berhasil.
“Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi.”
****
Regan pulang ke rumah dan tidak menemukan Sakti di sana karena memang pria itu sudah pulang jadi Regan langsung memarahi Ambar karena sudah membawa Sakti masuk ke dalam rumah. Ambar tentu saja menyangkal
__ADS_1
semua tuduhan suaminya itu karena ia sama sekali tidak merasa membawa masuk Sakti ke dalam rumah.
“Dia sendiri yang dapat masuk ke dalam rumah.”
“Apakah kamu pikir aku ini bodoh? Mana mungkin Sakti bisa masuk ke dalam kalau ada satpam yang terus berjaga di luar?”
“Sumpah Mas, aku tidak membawa Sakti masuk ke dalam rumah.”
“Kamu memang sangat keterlaluan Ambar, berani sekali kamu melakukan hal menjijikan seperti ini di rumahku!”
Ambar harus menelan rasa sakit hati akibat tuduhan yang dilayangkan oleh Regan padanya, sekuat apa pun ia membela diri namun Regan tetap saja menuduhnya yang macam-macam hingga dirinya tidak dapat mengatakan
apa pun lagi.
“Awas saja pria itu, aku akan memberikannya pelajaran supaya kamu juga merasakan efeknya.”
“Mas, apa yang akan kamu lakukan pada Sakti?”
“Semua itu bukan urusanmu!”
“Pokoknya aku tidak mau tahu, kalian harus bisa melakukan ini dengan baik.”
****
Helga terkejut ketika menemukan besannya tengah berada di luar rumah, awalnya Helga tidak mau menemui besannya itu namun karena suaminya muncul maka mau tidak mau Helga harus mau menemui besannya itu. Fadi
nampak bertanya pada Warsinih mengenai kenapa wanita ini datang ke sini dan Warsinih kemudian meluapkan kekesalannya akibat perlakuan Regan dan Helga yang buruk pada putrinya. Fadi tentu saja terkejut dengan ucapan besannya ini namun Helga langsung membela diri, Helga mengatakan bahwa ia tidaklah seperti yang dituduhkan oleh Warsinih.
“Sayang, kamu jangan percaya begitu saja dengan yang wanita ini katakan, dia hanya mencoba memfitnah Regan dan diriku.”
“Untuk apa saya berbohong Tuan Fadi? Saya melihat dan mendengar semua yang dilakukan serta dikatakan oleh mereka pada putri saya, sebagai seorang ibu tentu saja saya tidak terima kalau anak saya diperlakukan tidak dengan baik.”
Helga masih membela dirinya dihadapan suaminya hingga akhirnya Fadi meminta Helga untuk tidak bicara lagi, tentu saja Helga terkejut dengan ucapan suaminya barusan yang cenderung lebih memihak Warsinih ketimbang
dirinya.
__ADS_1
“Sayang, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kamu bisa dengan mudahnya memercayai apa yang wanita ini katakan ketimbang istrimu sendiri?”
****
Selepas Warsinih pulang, Fadi bicara dengan Helga mengenai cerita Warsinih tadi dan tentu saja Helga menolak dan menyangkal semua tuduhan yang dilayangkan besannya itu padanya dan juga Regan. Helga mengatakan
bahwa suaminya jangan memercayai yang keluar dari mulut Warsinih karena semua hanyalah sebuah dusta dan omong kosong.
“Asal kamu tahu saja sayang, wanita itu adalah parasit di dalam keluarga kita, dia mengambil uang Regan setiap bulan demi membiayai keluarga mereka.”
“Kamu jangan asal menuduh besan kita, aku tahu dengan pasti seperti apa besan kita, Helga.”
“Aku tidak asal menuduh Regan sendiri yang bercerita padaku bahwa selama ini wanita itu menjadikan Regan sebagai sapi perahnya untuk membuat kehidupan keluarga mereka lebih baik.”
“Apakah kamu pikir aku akan dengan mudahnya percaya pada semua omong kosongmu ini?”
“Apa katamu? Aku bicara omong kosong? Ya Tuhan, aku benar-benar tidak percaya ketika kamu mengatakan itu.”
“Sudahlah Helga, aku muak bicara denganmu.”
Setelah itu Fadi langsung pergi meninggalkan Helga dan masuk ke ruangan kerjanya, Helga masih misuh-misuh dengan perlakuan suaminya barusan. Helga kemudian bersumpah akan membalas Warsinih atas apa yang sudah
wanita itu lakukan padanya barusan.
“Berani sekali wanita miskin itu melakukan hal seperti ini padaku, aku tidak akan membiarkannya lolos kali ini.”
Helga segera meraih ponselnya dan kemudian menelpon seseorang, ia memerintahkan sesuatu pada seseorang di seberang sana.
“Jangan sampai tidak berhasil mengerjakan ini, paham?!”
****
Sakti terkejut ketika mobil yang ditumpanginya dicegat oleh orang tidak dikenal yang berboncengan sepeda motor. Orang itu turun dari sepeda motor dan langsung menyuruh Sakti untuk turun dari dalam mobilnya, Sakti pun turun dari mobilnya dan hendak bertanya ada apa yang sebenarnya terjadi karena dirinya merasa tidak memiliki salah apa pun pada kedua orang ini. Tanpa banyak basa-basi justru kedua orang ini langsung menyerang Sakti tanpa ampun dan bertubi-tubi, karena kalah jumlah Sakti pun tidak dapat melawan dan akhirnya malah jatuh terkapar di aspal jalanan dengan bersimbah darah.
“Rasakan itu!”
__ADS_1
Kedua orang itu kemudian melarikan diri sebelum ada saksi mata yang melihat kejadian itu, Sakti masih setengah sadar dan berusaha menelpon seseorang lewat ponselnya namun kemudian ia pun tak sadarkan diri.