
Sintia melihat ke arah pintu yang mana tadi sepertinya ia melihat ada seseorang yang tengah berdiri di sana dan memerhatikan mereka, Sintia pun kemudian pergi keluar ruangan inap ini untuk memastikan sendiri bahwa apa yang barusan ia lihat itu benar adanya dan bukannya sebuah halusinasi belaka. Ketika Sintia keluar dari ruangan inap ini, ia tidak menemukan seorang pun di sana yang mana tentu saja hal tersebut membuatnya bingung karena Sintia sangat yakin sekali kalau ia barusan melihat ada seseorang yang tengah berdiri di sana.
“Sepertinya tadi benar-benar ada orang di sini akan tetapi sekarang dia sudah tidak ada.”
Valdo menghampiri Sintia dan bertanya kenapa Sintia ke sini, Sintia pun menceritakan bahwa barusan ia melihat seperti ada orang yang berdiri di sini namun ketika ia menghampiri orang tersebut keluar ruangan, justru ia tidak menemukan siapa pun di sini.
“Mungkin saja itu hanya perasaanmu.”
Sintia sebenarnya ingin mendebat apa yang Valdo katakan namun sepertinya yang Valdo katakan ada benarnya karena ia tidak menemukan siapa pun di sini dan akhirnya mereka pun kembali masuk ke dalam ruangan inap Sakti yang mana sampai saat ini Sakti belum juga siuman. Hari sudah malam, Valdo dan Sintia berpamitan untuk pulang, Ambar berterima kasih pada mereka berdua karena sudah membantu Sakti sampai ke rumah sakit dan menghubunginya, Valdo dan Sintia pun kemudian pergi dari rumah sakit itu meninggalkan Ambar seorang diri di sini.
“Semoga saja kamu segera siuman, Sakti.”
Ambar benar-benar sedih melihat kondisi Sakti yang seperti ini, ia tidak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan suaminya dan ia berharap kalau Sakti bisa segera siuman supaya ia dapat mengetahui apa saja yang sudah Regan lakukan pada suaminya ini. Ketika Ambar tengah menggenggam tangan Sakti, seseorang membuka pintu ruangan inap rumah sakit ini dan rupanya ketika Ambar menoleh ke arah pintu nampaklah sang ibu di sana.
“Ibu? Kenapa ke sini?”
****
Sudah hampir satu minggu Sakti belum juga siuman dan Ambar tetap setia menunggui sang suami walaupun ia harus pergi bekerja setiap harinya namun setelah selesai bekerja, Ambar langsung pergi ke rumah sakit untuk mengontrol langsung kondisi Sakti. Selama Ambar bekerja di rumah sakit, Warsinih dan Sintia bergantian menjaga Sakti dan Ambar pun juga tidak henti-hentinya berdoa semoga Tuhan mengabulkan doanya supaya membuat suaminya siuman saat ini karena ia benar-benar tidak ingin kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada suaminya. Ambar akhirnya tiba di rumah sakit setelah pulang bekerja dan ia menuju ruangan inap Sakti, ia dibuat terkejut ketika ia datang Sakti sudah siuman.
“Sakti?”
__ADS_1
Sakti menoleh ke arah Ambar dan tersenyum, Ambar tentu saja langsung berlari dan memeluk Sakti dan ia pun menangis tak terkira karena begitu terharu doanya dikabulkan oleh Tuhan. Warsinih nampak terharu melihat Sakti dan Ambar saling memeluk begini apalagi Ambar yang menangis terharu karena akhirnya penantiannya dijawab oleh Tuhan yang mana Sakti bisa siuman juga.
“Kenapa Ibu tidak menghubungiku kalau Sakti sudah siuman?” tanya Ambar pada sang ibu.
“Bukannya Ibu tidak mau, hanya saja Sakti yang melarang Ibu melakukannya,” jawab Warsinih.
“Apa yang Ibu katakan memang benar, aku yang melarangnya untuk menghubungimu karena aku ingin membuat kejutan untukmu.”
****
Sakti menceritakan apa saja yang terjadi padanya sebelum ia diculik dan ketika diculik kepada Ambar, tentu saja Ambar merasa ngeri mendengar cerita Sakti itu namun untungnya saja sekarang Sakti sudah siuman dan Ambar tidak mau lagi memperpanjang masalah ini. Warsinih yang mendengar cerita Sakti nampak kesal dengan apa yang sudah Regan perbuat pada menantunya dan Warsinih mendesak supaya Sakti membuat laporan pada polisi atas apa yang sudah Regan perbuat namun Ambar menolak ide dari sang ibu itu.
“Aku tidak mau memperpanjang masalah ini apalagi berurusan dengan mas Regan lagi, Bu.”
Warsinih mengatakan bahwa ia tidak rela jika Regan tetap bebas berkeliaran di luar sana setelah apa yang ia lakukan namun Ambar mengatakan bahwa ia tidak setuju melaporkan Regan pada polisi.
“Kenapa kamu tidak setuju, Ambar?” tanya Sakti penasaran.
“Karena aku tidak mau berurusan lagi dengan mas Regan dan keluarganya, yang ada kalau kita melaporkan mas Regan pada polisi maka masalah akan semakin runyam dan aku tidak mau seperti itu.”
Warsinih nampak tak berpuas hati dengan keputusan Ambar yang tidak mau melaporkan sang mantan suami atas apa yang sudah ia perbuat pada Sakti namun tentu saja Warsinih tidak dapat melakukan apa pun karena Ambar sudah membuat keputusan.
__ADS_1
****
Regan merasa frustasi karena ia dikurung di sebuah rumah yang penjagaannya begitu ketat oleh Helga, mamanya itu melakukan semua ini untuk membuat Regan tidak dapat berkeliaran dan membuat onar lagi di luar sana seperti yang pernah ia lakukan dengan menyiksa Sakti. Helga datang menjenguk Regan untuk memastikan kalau anaknya itu baik-baik saja, Regan nampak tak suka dengan kedatangan Helga ini, ia meminta Helga untuk membebaskannya dari sini karena ia tidak betah.
“Mama tidak bisa membebaskanmu berkeliaran di luar sana setelah apa yang sudah kamu perbuat pada Sakti.”
“Jadi sekarang Mama membela pria kurang ajar itu?”
“Bukannya Mama membela Sakti namun justru saat ini Mama tengah melindungimu, Mama tidak mau kalau kamu melakukan perbuatan melawan hukum lagi yang mana akhirnya kamu akan menjelekan namamu sendiri lagi di depan publik, sudah cukup publik mengenalmu soal kasus perselingkuhanmu dulu dengan Sintia dan Mama tidak mau kalau publik kembali menyorot kejelekanmu akibat yang telah kamu lakukan pada Sakti.”
Regan nampak tak berpuas hati dengan penjelasan yang diberikan oleh sang mama, tentu saja Regan masih belum puas karena ia belum menghabisi nyawa Sakti dan besar kemungkinan kalau pria itu masih hidup dan bisa kembali bersatu dengan Ambar.
****
Ariyani sudah mendengar kabar bahwa putranya masuk rumah sakit akibat hal buruk yang telah Regan lakukan namun Ariyani masih menahan diri untuk tidak menunjukan diri di depan Sakti dan keluarga Ambar karena dirinya sendiri masih tidak mau menerima pernikahan antara Sakti dan Ambar. Ia masih marah dengan anaknya yang membahayakan diri sendiri untuk menikah dengan wanita seperti Ambar yang mana tentu saja hal tersebut tidaklah dapat diterima olehnya. Ariyani diam-diam mendatangi rumah sakit untuk melihat kondisi Sakti dan saat itu ia hampir kepergok oleh Sintia namun untungnya dapat melarikan diri sebelum wanita itu memergokinya dan kini ia kembali ke rumah sakit untuk melihat bagaimana kondisi Sakti.
“Semoga saja kali ini aku dapat melihat Sakti dan tidak ada yang mengenaliku.”
Namun rupanya baru saja Ariyani masuk ke lobi rumah sakit, dirinya berpapasan dengan Ambar yang mana tentu saja sudah terlambat untuknya menghindar.
“Nyonya?”
__ADS_1