
Sakti pergi menemui Valdo yang di depan rumah tengah menunggunya, Sakti langsung menyambut Valdo dengan ramah dan kemudian ia pun bertanya kenapa Valdo datang ke sini.
“Aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu padamu, Sakti bahwa tidak lama setelah anak Sintia lahir maka aku akan bercerai dengannya.”
Sakti tentu saja terkejut dengan pernyataan Valdo barusan, Sakti jadi merasa tidak enak dengan Valdo karena ia menduga bahwa Valdo ingin bercerai dengan Sintia akibat apa yang pernah terjadi di antara mereka waktu itu.
“Valdo, apakah semua ini karena aku? Aku tidak bermaksud melakukan itu, aku tahu bahwa aku bersalah di sini dan tidak pantas membela diri di hadapanmu namun aku bersumpah bahwa aku tak menyukai Sintia.”
“Kamu ini bicara apa, Sakti? Aku sama sekali tidak marah atau menuduhmu yang macam-macam, aku datang ke sini karena aku ingin berbagi saja mengenai apa yang aku pikirkan.”
“Namun sepertinya dari ceritamu barusan, kamu sampai berani mengambil keputusan tersebut karena didorong oleh rasa kecewa pada Sintia kan? Kamu takut kalau Sintia mengandung bukan anakmu?”
Valdo tidak langsung menjawab pertanyaan Sakti barusan, Valdo kemudian mengatakan kalau sejujurnya ia memang takut menghadapi kenyataan bahwa kalau memang anak yang Sintia kandung bukanlah anak kandungnya.
“Namun aku tidak dapat melakukan apa pun karena semua telah terjadi.”
Sakti meminta maaf atas apa yang pernah terjadi di antara dirinya dan Sintia karena ia merasa bersalah akan hal tersebut apalagi kalau sampai Valdo dan Sintia bercerai karenanya.
“Semua bukan salahmu, kamu tak perlu merasa bersalah begitu, lagi pula aku mengambil keputusan ini karena sebenarnya Sintia tak pernah mencintaiku.”
“Apa maksudmu mengatakan itu?”
“Aku yang terlalu naif dan menganggap bahwa Sintia akan dapat mencintaiku dikemudian hari namun ternyata sampai saat ini pun dia tak pernah mencintaiku.”
“Valdo aku….”
“Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan padamu, kelak kalau kamu mendengar kabar bahwa aku dan Sintia bercerai maka jangan salahkan dirimu lagi.”
****
Sakti masuk ke dalam rumah dengan perasaan bersalah yang besar, ia merasa telah berkhianat pada Valdo karena pernah tidur dengan Sintia namun itu semua bukan karena kehendaknya namun rencana yang Sintia rancang untuk menghancurkan rumah tangganya dengan Ambar, untungnya saja Ambar mau memaafkannya dan sama sekali tidak terpancing dengan apa yang coba Sintia lakukan.
“Tadi sepertinya Valdo datang, ya?” tanya Ambar.
“Iya, barusan memang Valdo datang dan ia bicara sesuatu padaku,” jawab Sakti.
__ADS_1
Sakti kemudian menceritakan apa yang Valdo ceritakan padanya barusan, Ambar sendiri menyimak cerita Sakti dan Ambar dapat menangkap bahwa saat ini Sakti merasa bersalah pada Valdo karena ia menanggap bahwa perceraian antara Valdo dan Sintia karena dirinya ditambah lagi kalau memang anak yang dikandung oleh Sintia adalah anaknya.
“Aku minta maaf juga padamu, Ambar.”
“Tidak Sakti, kamu jangan meminta maaf padaku karena aku dapat memahaminya, Sintia melakukan semua ini untuk menghancurkan rumah tangga kita.”
“Iya, akan tetapi apakah kamu tetap akan dapat menerimaku walaupun kelak yang aku takutkan dan tak mau terjadi anak yang Sintia kandung itu ternyata adalah anak kandungku?”
Ambar tidak langsung menjawab pertanyaan Sakti yang mana Sakti sendiri takut kalau setelah semua terjadi maka Ambar akan pergi meninggalkannya.
****
Helga tertawa puas dengan penderitaan yang dialami oleh Ambar dan keluarganya, ia sudah berhasil menyingkirkan mantan besannya yang mata duitan dan kini misinya selangkah langi akan berhasil, Helga kali ini tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan Ambar sampai lolos.
“Satu jegalan sudah bisa aku selesaikan dan kini tinggal satu lagi sampai misiku ini benar-benar selesai.”
“Apa yang sedang kamu bicarakan ini?” tanya Fadi yang membuat Helga terkejut dan buru-buru Helga bersikap biasa saja.
“Aku tidak mengatakan apa pun.”
“Fadi, bisakah kamu tak perlu ikut campur mengenai masalah pribadiku?”
“Jadi apa yang barusan aku tanyakan itu memang benar, Helga?”
Helga tak menjawab namun ia memilih untuk pergi meninggalkan suaminya, Fadi tentu saja tak tinggal diam, ia ingin mendengar secara langsung dari Helga apa yang sebenarnya sudah Helga lakukan.
“Katakan padaku sekarang juga Helga, kejahatan apa lagi yang sudah kamu lakukan dan siapa korbannya?”
“Aku tak mau mengatakan apa pun padamu karena aku tak bersalah di sini.”
“Bagaimana bisa kamu mengatakan dirimu tak bersalah, Helga?”
“Aku tidak bersalah dalam hal ini, tidak bersalah!”
****
__ADS_1
Setelah kepergian Warsinih untuk selama-lamanya, Danu memutuskan pergi dari rumah keluarga Sakti bersama Farah dan Ambar sebenarnya ingin ikut dengan mereka namun ia teringat apa yang sudah menjadi janjinya pada Ariyani.
“Apakah kamu ingin melupakan janjimu padaku, Ambar?” tanya Ariyani.
“Tidak Nyonya, saya tidak akan melupakan janji yang telah saya buat,” jawab Ambar.
Ariyani nampak tersenyum senang karena Ambar rupanya tidak mengingkari apa yang sudah pernah ia janjikan padanya, Danu tak paham dengan janji apa yang sudah dilakukan oleh Ambar pada wanita ini ketika ia mencoba bertanya pada Ambar mengenai janji apa yang sudah pernah anaknya buat pada Ariyani namun Ambar tak mau menjawabnya.
“Maafkan aku Ayah akan tetapi aku tak dapat mengatakannya padamu.”
Danu sebenarnya berat sekali meninggalkan putrinya sendirian di rumah ini namun ia juga tak bisa tinggal selamanya di rumah ini hingga ia dan Farah pun pergi, Ambar tentu saja sedih karena tak dapat ikut pergi bersama mereka dan Ariyani nampak puas sekali karena rencananya perlahan mulai berhasil.
“Apakah kamu ingin melakukan protes padaku, Ambar?”
“Sama sekali tidak, Nyonya.”
“Baguslah kalau begitu karena seperti apa yang pernah aku katakan bahwa kamu tidak akan pernah dapat keluar dari rumah ini, ingat itu baik-baik.”
Setelah mengatakan itu Ariyani langsung pergi meninggalkan Ambar yang masih termenung di tempatnya berdiri.
****
Sakti bertanya pada Ambar mengenai ke mana perginya ayah dan adik istrinya dan Ambar mengatakan bahwa mereka sudah pergi dari rumah ini.
“Apakah mama yang mengusir mereka?”
Ambar menggelengkan kepalanya, Ambar mengatakan bahwa Ariyani sama sekali tidak mengusir mereka dan semua ini murni karena keinginan Danu namun Sakti tidak memercayai apa yang Ambar katakan barusan.
“Kamu mengatakan ini karena mamaku mengancamu kan? Sebenarnya mamaku yang menyuruh mereka untuk pergi?”
“Tolong percayalah padaku, Sakti bahwa memang ayah dan Farah memutuskan untuk pergi bukan karena mamu yang mengusir namun karena keinginan mereka sendiri.”
“Kalau begitu bagaimana kalau kita juga pindah dari rumah ini?”
“Apa?”
__ADS_1