Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Maafkan Aku


__ADS_3

Keesokan paginya Ambar benar-benar telah memutuskan untuk pergi dari rumah ini karena ia merasa tidak enak hati pada Sakti yang selama ini telah membantunya, ia tidak mau kalau Sakti dimanfaatkan oleh ibunya seperti yang pernah ibunya lakukan pada Regan di masa lalu. Ketika melihat Ambar sudah hendak pergi dari rumah ini, tentu saja Warsinih terkejut dan berusaha menahan Ambar, ia tidak mau kalau Ambar pergi dari rumah ini dan sebisa mungkin ia harus membuat Ambar tetap ada di rumah ini.


“Kamu mau pergi ke mana kalau tidak tinggal di rumah ini, Nak?”


“Tentu saja aku akan mendapatkan tempat tinggal yang baru, akan tetapi tidak di sini, Bu. Aku tidak bisa kalau tetap tinggal di sini.”


“Kenapa tidak bisa? Bukankah Sakti yang meminta kita untuk tinggal di sini?”


Namun Ambar langsung menggelengkan kepalanya, Ambar mengatakan bahwa ia melakukan semua ini karena ia tidak mau Sakti dimanfaatkan oleh Warsinih yang mana ucapan Ambar itu membuat Warsinih terkejut dan terdiam. Ambar mengatakan bahwa sebaiknya ibunya mulai berkemas karena mereka akan pergi dari rumah ini.


“Aku tidak mau kalau Ibu memanfaatkan Sakti, dia pria yang baik, Bu.”


Warsinih berusaha membela dirinya, ia mengatakan bahwa tidak berusaha untuk memanfaatkan Sakti saat ini, justru dirinya ingin bertahan di rumah ini karena Sakti meminta mereka untuk tetap tinggal di sini.


“Ini semua kan permintaan Sakti, Ibu ingin tetap kita tinggal di sini sampai Sakti mengusir kita.”


Ambar benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran sang ibu, akhirnya dari pada berdebat lebih panjang dengan sang ibu, Ambar memilih untuk segera pergi dari rumah ini. Danu dan adiknya Ambar juga sudah bersiap untuk pergi bersama Ambar dan hanya Warsinih saja yang memilih tetap bertahan di rumah ini.


“Kalian semua hendak pergi dari sini?”


“Kami akan pergi bersama Ambar, kalau memang kamu mau di sini, silakan saja,” ujar Danu yang kemudian mereka pun pergi dari rumah ini.


****


Ariyani datang ke rumah dan ia terkejut karena hanya mendapati Warsinih saja yang tinggal di rumah ini, Ariyani bertanya pada Warsinih ke mana yang lain dan Warsinih memilih berdusta pada wanita ini dengan mengatakan bahwa yang lain sedang pergi sendiri.

__ADS_1


“Jadi kenapa anda datang ke sini?”


“Apakah kamu yakin tidak tahu apa maksud serta tujuanku datang ke sini?”


“Aku benar-benar tidak tahu, memangnya ada apa Nyonya datang ke sini?”


Ariyani nampak tersenyum dan kemudian wanita itu mengatakan bahwa ia telah mengetahui semuanya dari cerita Sakti. Raut wajah Warsinih begitu terkejut saat Ariyani mengatakan itu, ia khawatir kalau Ambar telah menceritakan semua pada Sakti dan akhirnya Sakti melaporkan tindakan dirinya pada sang mama yang tentu saja saat ini Warsinih dalam bahaya.


“Nyonya, apa yang sudah Sakti ceritakan pada anda?”


“Kamu yakin tidak tahu apa pun? Aku yakin bahwa sebenarnya kamu tahu namun kamu pura-pura untuk tidak tahu bukan?”


Ucapan Ariyani barusan cukup membuat Warsinih terdiam, ia takut sekali kalau Ariyani akan mengusirnya dari rumah ini dan kemudian Ariyani mengatakan bahwa memang Warsinih harus keluar dari rumah ini karena ia tidak mau kalau Sakti dimanfaatkan olehnya.


****


Helga datang ke rumah di mana Warsinih tinggal dan di sana ia melihat Warsinih menangis dan memohon pada Ariyani supaya tidak mengusirnya, Helga tentu saja bahagia karena Ariyani sudah tahu yang sebenarnya dan mengusir Warsinih dari rumah ini. Ariyani tetap saja pada keputusannya dan sama sekali tidak terpengaruh dengan ratapan Warsinih yang menginginkan tetap tinggal di sini.


“Maaf namun keputusanku sudah bulat, tolong kamu segera kemasi barang bawaanmu dan pergi dari sini.”


Ariyani langsung keluar dari rumah ini dan mengacuhkan Warsinih yang memanggilnya dan memohon supaya Ariyani tidak melakukan ini namun tetap saja Ariyani tidak bergeming, ia tetap pada pendiriannya bahwa Warsinih harus tetap pergi dari rumah ini. Helga yang melihat ini tentu saja bahagia bukan main, ia tidak menyangka kalau akhirnya hari ini akan tiba juga. Warsinih melihat Helga yang tengah berdiri di dekat rumahnya dan tentu saja Warsinih tidak suka dengan kedatangan wanita ini.


“Apa yang anda lakukan di sana?”


“Akhirnya wanita itu tahu yang sebenarnya, bagaimana rasanya diusir dari rumah ini? Bukankah aku sudah pernah mengatakan jangan terlalu berlagak di rumah ini padahal rumah ini bukanlah milikmu? Kamu itu hanya menumpang dan sudah seharusnya kamu menjaga etika di sini.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Helga barusan tentu saja membuat Warsinih marah bukan main, ia mengatakan bahwa semua ini adalah salah Helga namun wanita itu tidak peduli.


****


Ambar, ayah dan adiknya akhirnya mendapatkan rumah kontrakan yang baru, di sana memang rumahnya sangat sederhana dan sama sekali tidak mewah seperti rumah yang diberikan oleh Sakti pada mereka namun setidaknya Ambar lega karena ia tidak memiliki utang budi lagi pada Sakti dan setidaknya ia dapat bernapas lega di sini. Ambar jadi teringat dengan ibunya dan Ambar jadi khawatir dengan keadaan ibunya yang tetap memilih untuk bertahan di rumah itu dibandingkan ikut dengan mereka.


“Kamu kenapa, Nak?” tanya Danu.


“Aku sedang memikirkan Ibu, apakah dia akan baik-baik saja di sana?”


Danu nampak tersenyum dan kemudian ia mengatakan bahwa Ambar tidak perlu mengkhawatirkan soal Warsinih, lebih baik sekarang Ambar istirahat saja di sini dan jangan memikirkan apa pun. Ambar menganggukan kepalanya dan ia pun akhirnya memilih untuk istirahat namun baru saja ia rebah, ia mendapatkan telepon dari seseorang dan ketika ia melihat layar ponselnya ia terkejut karena orang yang menelponnya saat ini adalah Sakti. Ambar tidak langsung menjawab telepon dari Sakti itu, ia mendiamkan telepon itu beberapa saat hingga akhirnya Ambar memutuskan untuk menjawab telepon tersebut.


“Halo, Sakti?”


****


Sakti begitu senang karena Ambar menjawab telepon darinya saat ini, Sakti sudah datang ke rumah di mana Ambar tinggal namun di sana ia tidak menemukan Ambar dan keluarganya hingga Sakti pun segera menelpon Ambar untuk mencari tahu di mana keberadaan mereka. Ambar mengatakan pada Sakti bahwa mereka memang sudah pindah dari rumah itu.


“Kenapa kamu pindah? Aku kan tidak memaksamu untuk pindah, Ambar?”


“Aku tidak mau memiliki utang budi padamu, Sakti. Kamu sudah terlalu baik padaku dan keluarga dan tidak seharusnya aku memanfaatkan kebaikanmu itu.”


“Tidak Ambar, aku sama sekali tidak merasa dimanfaatkan olehmu, justru aku senang membantumu dan keluarga.”


“Maaf Sakti namun aku tidak dapat menerima semua itu.”

__ADS_1


__ADS_2