
Fadi memaksa Regan untuk bercerai dengan Ambar karena apa yang dilakukan oleh Regan ini sangat menyiksa Ambar lagi pula Regan sudah tidak mencintai Ambar lagi namun Regan masih enggan melakukan hal itu dengan
alasan bahwa semua ini hanya salah paham saja. Fadi tidak mau begitu saja memercayai apa yang Regan katakan, papa dari Regan itu memberikan ultimatum jika Regan tidak mau menceraikan Ambar maka ia akan dicoret dari daftar warisan keluarga dan tentu saja Regan terkejut dengan apa yang papanya katakan barusan.
“Papa tidak bercanda, pikirkan itu baik-baik.”
Selepas mengatakan itu Fadi pun pergi meninggalkan rumah ini, Regan nampak frustasi setelah mendapatkan ancaman dari papanya sendiri, ia kemudian menatap tajam Ambar dan kebenciannya pada Ambar langsung
naik secara siginfikan.
“Ini kan yang kamu inginkan, Ambar?”
“Tidak Mas, tolong jangan salah paham dulu.”
Regan tidak dapat lagi menahan emosinya dan menampar wajah Ambar hingga Ambar jatuh ke lantai sambil terisak, Regan memaki Ambar dengan kata-kata kasar dan mengatakan bahwa Ambar harusnya mau membelanya tadi namun wanita ini malah menyudutkannya. Ambar hanya dapat menangis sambil mendengarkan omelan Regan yang tidak ada henti-hentinya dan setelah puas menumpahkan emosinya Regan kemudian pergi meninggalkan Ambar namun tidak lama kemudian ia muncul kembali dengan koper milik Ambar.
“Silakan kamu pergi sekarang juga dari rumah ini.”
“Mas, aku ….”
“Bukankah ini yang selama ini kamu inginkan? Aku sudah mengabulkan keinginanmu jadi silakan pergi sekarang juga dari rumah ini!”
Ambar tak dapat menahan air matanya untuk tetap tidak tumpah apalagi Regan menahan Daisy yang hendak memeluk Ambar namun dihalangi oleh Regan.
“Mama hendak pergi, kamu jangan halangi dia.”
“Tidak mau, aku mau bersama dengan mama.”
Ambar nampak berat sekali pergi dari rumah ini tanpa anaknya namun Regan sudah mengusirnya jadi Ambar tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain pergi dari rumah ini dengan hati yang sedih karena meninggalkan anaknya di rumah ini bersama Regan.
****
Regan datang ke rumah keluarganya untuk menemui Fadi, Helga terkejut saat melihat Regan datang dan ingin menemui Fadi, ia khawatir kalau akan terjadi sesuatu hal yang buruk antara suami dan anaknya.
“Tidak Ma, aku datang menemui papa karena aku ingin mengatakan kalau aku sudah memutuskan untuk berpisah dengan Ambar.”
Wajah Helga nampak berbinar saat tahu keputusan yang diambil oleh Regan barusan, Helga meminta Regan untuk mengatakan yang sejujurnya dan jangan menipunya dan Regan pun mengatakan bahwa memang keputusannya
sudah bulat bahwa ia akan berpisah dengan Ambar.
“Aku mau menemui papa dulu.”
__ADS_1
Regan pergi menuju ruangan kerja suaminya sementara Helga begitu bahagia sekali saat tahu Regan akhirnya mau bercerai juga dengan Ambar.
“Akhirnya setelah sekian lama penantianku, Regan terbuka juga mata hatinya untuk bercerai dengan wanita itu.”
Helga menunggu di ruang tengah sampai Regan selesai bicara dengan sang suami dan setelah Regan keluar dari ruangan kerja suaminya, Helga mengajak Regan mengobrol sejenak sebelum Regan pulang ke rumahnya.
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?”
“Papa mengancamku akan mencoret namaku dari daftar keluarga jika memertahankan rumah tanggaku dengan Ambar.”
“Sudah Mama duga kalau berhubungan dengan warisan maka kamu pasti tidak akan tahan kan?”
“Memangnya siapa yang tidak tahan dengan harta wairsan, Ma? Mama sendiri juga pasti mengharapkan warisan papa jika papa sudah meninggalkan?”
“Jaga bicaramu, Regan.”
****
Warsinih begitu terkejut sekaligus bahagia karena putrinya kembali ke rumah dan mengatakan bahwa Regan akhirnya mau menceraikannya namun kebahagiaan Warsinih belum lengkap karena Daisy tidak ikut bersama dengan Ambar pulang ke sini.
“Mas Regan tidak memberikan izin Daisy untuk ikut denganku, Bu.”
“Sudahlah yang penting akhirnya Regan mau berpisah juga denganmu itu sudah membuat Ibu bahagia.”
pengadilan agama maka Ambar benar-benar hidup seperti dulu seperti sebelum memiliki suami dan anak. Ambar tentu saja tidak dapat melakukan itu karena Daisy adalah anaknya dan sebagai seorang ibu tentu saja tidak mau dipisahkan oleh anaknya begitu saja.
“Kamu kenapa, Nak?”
“Bukan apa-apa, Bu.”
“Apakah kamu tengah memikirkan Daisy?”
Ambar terdiam sejenak mendengar ucapan ibunya barusan, Warsinih menghela napasnya panjang dan menggenggam tangan Ambar, Warsinih tentu saja paham betul apa yang tengah Ambar rasakan ini karena walau bagaimanapun ia seorang ibu juga. Warsinih turut bersedih dengan sikap Regan yang arogan ingin memisahkan Ambar dengan Daisy.
****
Sakti sudah diizinkan pulang oleh dokter dan ia diminta untuk tinggal di rumah orang tuanya sampai ia sembuh total. Sakti sebenarnya sudah menolak dan ingin tetap tinggal di apartemennya namun sayangnya sang mama tidak mau mengabulkan semua itu.
“Mama khawatir kalau kamu sendirian tinggal di apartemen maka kejadian buruk lain akan kembali terulang.”
“Mama terlalu khawatir, aku akan baik-baik saja.”
__ADS_1
“Mama melakukan ini karena Mama peduli padamu.”
Sakti akhirnya memilih diam dan tak mau mendebat apa yang dikatakan oleh mamanya barusan, mamanya kemudian meninggalkan Sakti di kamar ini supaya Sakti dapat beristirahat sementara itu Sakti meraih ponselnya
dan mencari kontak Ambar karena ia rindu dengan wanita itu.
“Kira-kira apakah aku dapat menghubunginya atau tidak, ya?”
Sakti kemudian mencoba menghubungi Ambar dan ia sebenarnya tidak terlalu berharap kalau Ambar akan menjawab telepon darinya namun justru diluar dugaannya karena teleponnya ini tersambung dan Ambar langsung menjawab telepon darinya.
“Kenapa kamu menelponku?”
“Ambar, apa kabarmu?”
“Aku baik, kamu sendiri masih di rumah sakit?”
“Tidak, aku sudah pulang ke rumah.”
“Syukurlah kalau begitu, aku turut senang mendengarnya.”
Sakti mendengar sepertinya mengetahui bahwa Ambar sedang tidak baik-baik saja dan kemudian ia pun meminta Ambar untuk bercerita padanya.
“Kamu pasti sedang ada masalah kan?”
“Apa maksudmu?”
****
Sintia datang ke rumah Regan untuk menemui pria itu hari ini dan ia terkejut ketika tiba di rumah itu ternyata Ambar sudah tidak ada di sana, Regan mengatakan bahwa ia dan Ambar sudah sedang dalam proses bercerai.
“Kamu serius, Mas?”
“Tentu saja aku serius, kalau tidak serius mungkin Ambar masih ada di sini.”
Sintia tentu saja bahagia bukan main karena akhirnya Ambar dan Regan akan segera bercerai dan langkahnya untuk menjadi istri Regan semakin mulus saja.
“Aku tidak bisa berlama-lama mengobrol denganmu karena aku harus pergi, ada sesuatu yang harus aku kerjakan.”
“Baiklah kalau begitu.”
Sintia pun kemudian memutuskan untuk pulang juga saat Regan pergi, Sintia melajukan mobilnya menuju rumah keluarga Ambar dan di sana ia menemukan Ambar dan Sakti tengah duduk di teras rumah.
__ADS_1
“Mereka sedang membicarakan apa, ya?”