
Ambar nampak masih sangat menyesali apa yang telah ia lakukan pada Sakti hingga membuat pria itu jadi mengalami berbagai hal buruk yang menimpanya namun bayangan pengakuan Sintia dan bukti yang diberikan oleh Valdo mengenai apa saja yang sudah Sintia dan Sakti lakukan di belakangnya membuat hati Ambar begitu sakit. Ambar semalaman memutuskan untuk bermalam di rumah sakit walaupun orang tuanya sudah memintanya untuk pulang karena sudah semalam suntuk Ambar tidak tidur dan hanya menangis di depan ruang ICU berharap kalau kondisi Sakti membaik.
“Nak, kamu lebih baik pulang sekarang,” ujar Warsinih yang begitu sedih melihat kondisi Ambar yang sangat memperihatinkan saat ini.
Namun Ambar menggelengkan kepalanya, Ambar mengatakan pada ibunya bahwa ia tetap akan berada di sini untuk memastikan kalau Sakti baik-baik saja dan ia tidak mengalami hal yang buruk lagi. Warsinih menteskan air matanya kembali dan langsung memeluk Ambar, melihat kondisi putrinya yang seperti ini membuat Warsinih begitu sedih apalagi Ambar selalu saja menyalahkan dirinya sendiri akibat kecelakaan yang membuat Sakti masuk rumah sakit.
“Kamu sama sekali tidak salah, Ambar jadi tolong jangan menyalahkan dirimu seperti ini.”
“Namun apa yang mereka katakan itu memang benar, Bu. Mereka benar, aku pembawa masalah, aku pembawa sial.”
Warsinih menggelengkan kepalanya, ia berusaha meyakinkan pada Ambar bahwa semua yang ada di dalam kepalanya adalah salah, Ambar tetap berharga dan ia layak untuk mendapatkan kebahagiaan tanpa harus merasa bersalah dengan yang terjadi pada Sakti saat ini.
“Sekarang tolong kamu dengarkan Ibu, kamu harus kembali ke rumah dan istirahatkan tubuh dan pikiranmu,” pinta Warsinih.
Bukan hanya Warsinih yang meminta itu namun Danu juga meminta itu, ia sebagai seorang ayah juga khawatir dengan kondisi putrinya yang begitu menderita akibat ucapan buruk yang dilontarkan oleh Ariyani dan Helga semalam.
“Semua akan baik-baik saja, Nak.”
Akhirnya Ambar pun pergi dari rumah sakit ini menuruti apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya walaupun sebenarnya ia masih ingin tetap berada di sini.
****
Ambar sudah tiba di rumah namun ia tidak dapat memejamkan matanya, ia tidak bisa beristirahat setelah mengingat bahwa saat ini Sakti masih belum stabil kondisinya dan yang ia khawatirkan Sakti akan pergi meninggalkannya. Ambar berusaha menepis pikiran buruk itu namun entah kenapa pikiran buruk itu semakin menjadi mengambil alih kewarasannya dan membuat Ambar merasa nyaris gila dengan perasaan bersalah yang begitu menumpuk di dalam benaknya.
“Kenapa harus aku? Kenapa harus aku?” isak Ambar penuh kesakitan.
Saat Ambar melampiaskan kesakitan yang ia alami akibat Sakti, seseorang mengetuk pintu rumahnya dan Ambar pun segera bergegas untuk membukakan pintu. Ketika pintu sudah dibuka nampak pemilik rumah kontrakan tengah memerhatikannya dengan raut wajah yang tidak suka.
__ADS_1
“Ada apa Ibu datang ke sini, ya?” tanya Ambar polos.
“Kamu bertanya kenapa aku datang ke sini? Tentu saja aku datang ke sini untuk menagih uang sewa bulanan rumah ini!”
Ambar terkejut dengan bentakan pemilik rumah kontrakan barusan yang nampak begitu marah padanya, Ambar mengakui bahwa ia sudah dua bulan ini terlambat membayar uang kontrakan rumah namun Ambar berjanji akan segera melunasinya nanti setelah uangnya terkumpul namun alasan yang Ambar berikan itu sangat tidak memuaskan wanita ini. Pemilik rumah kontrakan mengatakan bahwa Ambar harus segera melunasi biaya sewa rumah ini atau ia akan diusir sekarang juga.
****
Ambar tentu saja meminta supaya mereka tidak diusir dari rumah ini namun pemilik rumah kontrakan nampak tidak memedulikan tangisan Ambar, ia tetap mengusir Ambar dan keluarganya dari rumah ini karena Ambar sudah tidak sanggup membayar uang kontrakan. Pemilik rumah kontrakan langsung mendorong Ambar keluar dari sini dan mengunci pintu rumah kontrakan, ia mengatakan akan membukakan pintu kalau Ambar dan keluarganya datang untuk mengambil pakaian mereka dalam waktu 24 jam kalau mereka tidak mengambil pakaian mereka maka akan dibakar olehnya.
“Kamu dengar itu baik-baik.”
Ucapan pemilik rumah kontrakan sungguh sangat meyakitkan untuk Ambar, ia tentu saja tidak bisa pergi menemui kedua orang tuanya saat situasi sedang seperti ini dan lagi-lagi saat Ambar tengah berada di posisi terburuknya sosok Helga mengamati dari dalam mobilnya dan ia nampak begitu bahagia dengan penderitaan yang Ambar alami.
“Senang rasanya kamu mendapatkan masalah beruntun, Ambar. Kamu memang layak mendapatkan semua ini.”
“Sekarang dia akan merasakan penderitaan yang sesungguhnya.”
****
Ambar tiba di rumah sakit dengan raut wajah penuh duka, kedua orang tuanya nampak penasaran dengan apa yang terjadi saat ini namun Ambar hanya meminta maaf padanya.
“Nak, kenapa ini? Tolong kamu jelaskan pada kami.”
“Aku minta maaf.”
“Kenapa kamu meminta maaf?”
__ADS_1
Ambar pun kemudian menjelaskan semuanya pada kedua orang tuanya bahwa pemilik rumah kontrakan sudah mengusir mereka dari rumah karena tidak membayar biaya sewa kontrakan selama dua bulan belakangan. Ambar mengatakan bahwa ia yang bertanggung jawab atas semua ini dan ia mengakui kesalahannya bahwa ia memang tidak memiliki cukup uang selama dua bulan untuk melunasi sewa rumah karena uangnya selalu saja habis untuk keperluan pernikahan dan sekarang pemilik rumah kontrakan tidak lagi memiliki belas kasihan dan mengusir mereka.
“Sekarang aku tidak tahu kita harus tidur di mana, maafkan aku.”
Danu memeluk putrinya untuk menenangkan Ambar, Ambar menangis dalam pelukan sang ayah dan ia tidak henti-hentinya untuk meminta maaf pada ayahnya karena sudah membuat masalah seperti ini.
“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Nak.”
“Tapi semua ini memang salahku, Ayah.”
Danu memberikan pengertian bahwa semua ini bukan salah Ambar dan ia meminta Ambar untuk jangan bersikap seperti ini.
“Kita pasti akan menemukan jalan keluarnya, Nak. Percayalah.”
****
Valdo datang ke rumah sakit untuk menjenguk Sakti yang katanya kecelakaan. Awalnya Valdo tidak mau untuk pergi menjenguk Sakti di rumah sakit, hatinya masih begitu sakit saat mengetahui Sakti dan Sintia melakukan hubungan terlarang diam-diam di belakangnya. Valdo tentu saja tidak dapat mengampuni Sakti begitu saja setelah perbuatan biadabnya itu namun setelah mendengar bahwa Sintia rupanya belum berubah dan ia berambisi menghancurkan hidup Ambar membuat Valdo menjadi iba dan hatinya pun luluh untuk mengunjungi Sakti di rumah sakit ini.
“Valdo?”
“Ambar, kamu nampak tidak baik-baik saja.”
“Syukurlah kamu mau datang untuk menjenguk Sakti.”
“Apakah Sakti masih belum siuman?”
Ambar menggelengkan kepalanya, Valdo kemudian melihat ke dalam ruang ICU dari kaca pintu dan di sana Sakti masih belum siuman dan tubuhnya dipenuhi alat-alat medis.
__ADS_1
“Sebenarnya ada apa, Ambar?”