Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Kebakaran


__ADS_3

Ambar terkejut ketika tahu yang datang ke rumah ini adalah Sakti, ia kemudian menjamu Sakti di teras rumah seraya bertanya kenapa pria ini datang ke sini. Sakti mengatakan bahwa ia datang karena mendengar kalau Ambar dan suaminya akan bercerai dan oleh sebab itu Sakti pun bertanya langsung pada Ambar mengenai apakah benar berita yang ia dengar tersebut.


“Siapa yang memberitahumu mengenai hal tersebut?”


“Apakah harus aku memberitahumu mengenai hal tersebut, Ambar?”


“Apakah Sintia yang memberitahumu?”


“Tidak, bukan dia yang memberitahuku.”


Ambar menghela napasnya, walaupun Sakti tidak mengatakan yang sebenarnya mengenai siapa orang yang memberitahunya soal perceraiannya dengan Regan namun Ambar yakin bahwa Sintia orang yang melakukan


semua itu.


“Aku turut sedih dengan apa yang menimpamu.”


“Tidak apa, mungkin ini yang terbaik untuk kami.”


“Kalau aku boleh tahu, apakah suamimu masih marah padaku dan akhirnya ia memutuskan untuk menceraikanmu?”


Ambar menggelengkan kepalanya, ia mengatakan pada Sakti bahwa masalah itu tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan mereka. Sakti sendiri menganggukan kepalanya sementara itu Sintia memutuskan untuk


menghampiri mereka berdua dan kedatangan Sintia membuat keduanya terkejut.


“Mau apa kamu datang ke sini?” tanya Ambar sengit.


“Sepertinya kamu tidak suka sekali ketika aku datang ke sini? Kenapa sikapmu padaku jauh berbeda saat melayani Sakti, Ambar?”


“Sintia, lebih baik kamu jangan mencari masalah di sini,” tegas Sakti.


“Siapa yang hendak mencari masalah di sini? Aku datang ke sini karena ingin menemui Ambar, sebagai sahabat lama.”


Ambar nampak tidak suka dengan ucapan Sintia barusan, ia meminta Sintia untuk pergi saja dari sini karena ia tak mau membuat keributan namun Sintia mengatakan bahwa Ambar mengusirnya karena membencinya.


“Kamu memang membenciku, Ambar?”


“Sintia, lebih baik kamu pergi sekarang juga dari


sini.”


“Kok kamu jadi ikut-ikutan mengusirku, Sakti? Apakah kehadiranku di sini mengganggu waktu kalian?”

__ADS_1


Warsinih muncul dari dalam rumah karena mendengar keributan di luar dan ia menemuikan Sintia di sana, amarahnya tidak dapat terbendung lagi dan langsung mengusir Sintia dari rumah ini.


****


Helga menghampiri suaminya yang tengah duduk termenung sendirian di ruangan kerjanya, Helga kemudian mengusap punggung sang suami seraya bertanya apa yang sedang dipikirkan oleh pria itu dan Fadi mengatakan


bahwa ia tengah memikirkan perceraian Regan dan Ambar.


“Kenapa kamu memikirkan itu? Bukankah itu adalah sebuah hal yang bagus, sayang?”


“Aku masih tidak percaya saja kalau Regan menjalin hubungan dengan Sintia selama ini.”


Helga menghela napasnya panjang, ia pun juga merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya, rasanya masih tak percaya kalau Regan selama ini menjalin cinta dengan Sintia namun akibat perselingkuhan itu maka Helga memiliki alasan untuk Regan menceraikan Ambar.


“Namun bukankah ini memang jalan terbaik untuk mereka?”


“Apa maksudmu?”


“Maksudku adalah dari pada Ambar dan Regan tetap bersama mereka hanya akan menyakiti diri mereka satu sama lain dan berpisah adalah jalan terbaik.”


“Kamu sepertinya bahagia sekali dengan perpisahan antara Regan dan Ambar?”


Helga kemudian memutuskan untuk pergi keluar dari ruangan kerja suaminya dan menghela napasnya kesal, obrolan dengan sang suami sangat membuatnya emosi karena Fadi sepertinya sangat menyayangi Ambar sebagai


menantunya.


“Sebenarnya apa sih yang membuat dia menyukai Ambar?”


****


Sintia dan Sakti tengah berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah keluarga Ambar, di sana Sintia menceritakan pada Sakti bahwa hubungannya dengan Regan berjalan dengan baik dan sebentar lagi ia dan


Regan akan menikah. Sakti yang mendengar itu nampak muak sekali, Sakti mengatakan pada Sintia bahwa seharusnya Sintia malu pada dirinya sendiri karena melakukan hal seperti ini.


“Untuk apa aku malu, Sakti? Aku dan mas Regan kan saling mencintai.”


“Namun kamu mencintai orang yang salah, Sintia. Regan sudah memiliki istri dan kamu malah mendekatinya hal tersebut berakibat dengan rusaknya rumah tangga Ambar dan Regan.”


“Namun dengan rusaknya rumah tangga mereka maka kamu memiliki kesempatan untuk mendekati Ambar bukan?”


“Apa maksudmu menanyakan hal tersebut?”

__ADS_1


“Sudahlah Sakti, kamu jangan berpura-pura tidak tahu maksudku, aku tahu bahwa kamu saat ini tengah bahagia sekali karena tidak lama lagi Ambar akan menjadi janda dan kamu bisa bebas mendekatinya bahkan menikahi


wanita itu.”


Sakti yang mendengar ucapan Sintia barusan merasa tersinggung, Sakti mengatakan bahwa ia tidaklah sama seperti Sintia dan Sintia hanya tertawa saja dengan sikap Sakti yang masih menolak semua kenyataan.


“Akan ada kalanya semua ucapanku ini akan menjadi kenyataan.”


“Berharaplah seperti itu, Sintia.”


****


Warsinih masuk ke dalam kamar Ambar yang mana ketika ia masuk ke dalam kamar nampak Ambar tengah duduk termenung di atas kasur dan Ambar nampak terkejut ketika menemukan sang ibu masuk ke dalam kamarnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan, Nak?”


“Bukan apa-apa, Bu.”


Warsinih tahu bahwa Ambar tengah menyembunyikan sesuatu darinya dan ia tak mau membahas masalah ini, Warsinih sama sekali tidak memaksa untuk Ambar mengatakan semuanya padanya jika memang Ambar sedang tidak mau membahasnya. Warsinih kemudian meminta Ambar untuk membantunya di dapur dan Ambar pun segera pergi mengikuti ibunya, di dapur nampak Warsinih diam-diam pun memerhatikan Ambar yang mana sepertinya Ambar sedang tidak fokus dan nyaris melukai dirinya sendiri.


“Maafkan aku, Bu.”


“Sudah Ibu duga bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja, Nak.”


Ambar terdiam mendengar ucapan ibunya barusan, ia menundukan kepalanya dan hal tersebut membuat Warsinih langsung memeluknya dan mengatakan bahwa Ambar dapat menceritakan apa pun pada dirinya. Ambar pun


akhirnya memilih untuk jujur pada ibunya bahwa saat ini dirinya merindukan sosok Daisy, sebagai seorang ibu tentu saja Ambar ingin bertemu dengan putrinya yang secara sengaja dipisahkan oleh Regan.


“Ibu mengerti sekali kerinduanmu ini, Nak.”


“Aku ingin bertemu dengan Daisy namun mas Regan tidak memberikanku izin, apa yang harus aku lakukan sekarang?”


****


Malam hari telah tiba dan nampak ada dua orang yang mengendarai sepeda motor berhenti di depan rumah keluarga Ambar, salah seorang dari mereka mengeluarkan jerigen berisi bensin dan menyiramkan isi jerigen itu


ke rumah Ambar dan kemudian api pun disulut, kobaran api langsung membesar dan membakar apa pun yang ada di depannya, sebelum ada warga yang melihat kejadian ini kedua orang tersebut langsung melarikan diri dari tempat kejadian. Ambar mencium bau gosong yang membuatnya membuka mata dan ia terkejut ketika menemukan api berkobar di dekatnya.


“Apa yang terjadi saat ini?”


Ambar kemudian segera keluar dari kamarnya menuju luar rumah namun sayangnya justru ia terjebak di dalam rumah karena jalan untuk keluar sudah tertutup oleh api dan tiba-tiba saja dari atas reruntuhan kayu jatuh mengenainya dan membuat Ambar tak sadarkan diri di tengah kobaran api yang semakin membesar.

__ADS_1


__ADS_2