Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Tidak Mudah Untuk Percaya


__ADS_3

Sakti nampak terkejut dengan ucapan Ambar barusan yang mengatakan bahwa ia hanya mencintai satu orang pria yaitu papanya Daisy dan tentu saja ia tahu siapa orang yang dibicarakan oleh Ambar itu tentu saja siapa lagi kalau bukan Regan. Sakti tidak langsung percaya begitu saja dengan apa yang Ambar katakan ini, ia pun bertanya bahwa apa maksud Ambar mengenai orang yang ia cintai itu adalah Regan.


“Kamu sudah tahu dengan jelas kalau alasan aku tidak mau menikah lagi dengan orang lain dan membuka hati tentu saja karena aku masih mencintai papanya Daisy.”


“Tidak, apakah kamu pikir dapat menipuku begitu saja Ambar? Aku tahu bahwa kamu saat ini sedang mencari alasan, kamu mengatakan ini karena ditekan oleh mamaku kan? Mamaku sudah pernah ke sini dan ia menekanmu untuk aku menjauh darimu dengan cara seperti ini?”


“Tidak Sakti, kamu jangan menyalahkan mamamu, dia tidak tahu kami tinggal di sini.”


Namun tentu saja Sakti tidak memercayai Ambar begitu saja, ia yakin bahwa apa yang ada dalam pikirannya itu benar dan meminta Ambar untuk mengatakan yang sebenarnya saja namun Ambar tetap bersikukuh bahwa ia mengatakan yang sebenarnya.


“Dari pada kamu membuang waktumu di sini, lebih baik kamu pergi saja.”


“Tidak, aku tidak akan pernah pergi dari sini kalau kamu tidak memberitahukanku alasan yang sebenarnya, Ambar.”


“Alasan apalagi, Sakti? Aku sudah mengatakannya barusan padamu? Kenapa kamu tidak kunjung mau mengerti juga?”


“Aku tahu bahwa kamu menyembunyikan sesuatu, Ambar. Kenapa kamu tidak mau berterus terang padaku?”


Ambar tidak sanggup lagi dengan perbincangannya ini, ia memutuskan berbalik badan dan menutup pintu dengan segera sebelum sempat Sakti menahannya. Sakti menggedor pintu dan memanggil nama Ambar namun Ambar tetap tidak mau membukakan pintu untuk Sakti justru Ambar malah menangis tersedu-sedu dalam diam di balik pintu itu, ia merasa bersalah karena sudah melakukan hal ini pada Sakti.


“Maafkan aku, Sakti.”


****


Sakti tidak dapat menerima begitu saja apa yang sudah Ambar katakan padanya barusan karena menurutnya tidak mungkin begitu saja Ambar mengatakan itu kalau ia tidak ditekan oleh seseorang dan tentu saja satu-satunya orang yang tengah menekan Ambar dan keluarganya adalah Ariyani dan Sakti harus bicara dengan mamanya itu. Sakti langsung pergi ke rumah keluarganya untuk menemui sang mama dan tentu saja Ariyani begitu bahagia karena Sakti datang ke rumahnya.


“Sakti sayang, kenapa kamu datang ke sini?”


“Apakah Mama yang sudah menyuruh Ambar untuk menjauhiku?”


“Apa maksudmu datang-datang menuduh Mama seperti ini, Nak?”


“Sudahlah Ma, aku tahu dengan persis bahwa Mama yang sudah menjadi dalang di balik semua ini, Mama sengaja mendesak Ambar supaya menjauhiku kan? Supaya Ambar takut menikah denganku kan?”

__ADS_1


“Sakti, kamu jangan bicara yang bukan-bukan seperti ini.”


“Kenapa Mama melakukan semua ini? Mama tahu dengan persis bahwa aku hanya mencintai Ambar!”


“Jangan bicara hal omong kosong seperti ini lagi, Sakti! Kamu membuat Mama sakit, ketika kamu mengatakan betapa kamu mencintai wanita itu maka kamu akan dimanfaatkan oleh ibunya yang tamak dan gila harta itu untuk mengeruk keuntungan dari kita.”


“Aku sama sekali tidak memedulikan hal itu, aku mencintai Ambar.”


“Sakti, kamu sepertinya sudah kehilangan akal sehatmu akibat wanita itu.”


****


Daisy meminta Regan untuk mengantarkannya menemui Ambar, Regan tentu saja bingung karena semenjak keluar dari rumah sakit maka ia tidak tahu di mana keberadaan Ambar dan keluarganya. Regan juga sudah mencoba untuk menghubungi nomor telepon Ambar namun tidak pernah dijawab dan puncaknya saat ini Daisy ingin bertemu dengan Ambar dan meminta Regan untuk mengantarkannya ke sana.


“Sayang, Papa tidak bisa mengantarkanmu ke sana karena hari ini Papa ada pertemuan penting di kantor.”


“Pokoknya aku mau bertemu dengan mama sekarang, kalau Papa tidak mau mengantarkanku maka aku akan pergi sendiri.”


“Mama ini aku Daisy.”


“Daisy? Ya ampun, nomor siapa ini, Nak?”


“Ini nomor….”


Regan meminta Daisy dari isyarat jangan menyebutkan ini nomornya dan anak itu sepertinya paham dengan bahasa isyarat Regan dan Daisy menjawab kalau ini adalah nomornya.


****


Regan hendak mengantarkan Daisy menuju lokasi di mana Ambar tinggal namun Sandrina mengatakan bahwa dirinya yang akan mengantarkan Daisy pergi ke sana. Regan tidak dapat percaya kalau anaknya diantarkan oleh Sandrina mengingat hubungan mereka tidaklah baik belakangan ini akibat ia tidur dengan Sintia.


“Kenapa kamu tidak mengzinkanku untuk pergi dengan Daisy? Bukankah kamu bilang sendiri ada rapat penting yang tidak dapat diundur?”


“Iya kamu memang benar hanya saja aku khawatir dengan keselamatan anakku.”

__ADS_1


“Daisy akan aman denganku, kamu tidak perlu khawatir.”


Regan sebenarnya sangat berat sekali melepas Daisy pergi dengan Sandrina namun apa boleh buat karena ia sudah sangat terlambat untuk pergi ke pertemuan penting yang sangat tidak dapat ditinggal itu maka Regan pun akhirnya mengizinkan Daisy pergi dengan Sandrina namun tentu saja dengan catatan bahwa Daisy harus menghubunginya jika Sandrina melakukan hal yang buruk padanya.


“Papa pergi dulu, sayang.”


Regan mencium anaknya dan kemudian pergi dari rumah ini sementara Daisy sangat bersemangat untuk bertemu mamanya, Sandrina meminta alamat di mana Ambar berada dan Daisy segera memberikan alamat itu pada mama sambungnya.


“Baiklah, ayo segera kita ke sana.”


Daisy begitu bahagia dan langsung masuk ke dalam mobil Sandrina terlebih dahulu dibandingkan wanita itu yang menyusul tak lama kemudian.


****


Sintia dan Valdo tengah mengukur baju yang akan mereka kenakan di hari pernikahan yang sudah semakin dekat. Valdo memuji Sintia ketika wanita itu mengenekan gaun yang akan menjadi pakaiannya di acara pesta pernikahan mereka. Setelah selesai mengukur baju yang akan mereka kenakan di hari pernikahan nampak ponsel Valdo berdering menandakan ada panggilan masuk dan ketika ia melihat layar ponselnya rupanya orang yang menelponnya adalah Sakti.


“Siapa yang menelpon?” tanya Sintia penasaran.


“Sakti yang menelpon,” jawab Valdo.


“Kalau begitu jawablah, siapa tahu ada hal penting yang ingin ia bicarakan.”


Valdo kemudian menjawab telepon dari Sakti yang mana pada akhirnya Valdo dan Sakti janjian untuk bertemu di sebuah restoran dan Sintia mengatakan ingin pergi juga dengan mereka.


:”Kamu yakin?”


“Tentu saja, kenapa tidak?”


Akhirnya mereka berdua pergi menuju restoran yang menjadi tempat bertemunya Valdo dan Sakti, ketika Valdo dan Sintia datang nampak Sakti sudah datang terlebih dahulu dan Sakti melirik ke arah Sintia, dari tatapan matanya nampak Sakti tidak suka dengan kedatangan Sintia di sini.


“Kenapa kamu membawa dia ke sini?”


“Apakah kamu adalah masalah dengan itu, Sakti?” seringai Sintia.

__ADS_1


__ADS_2