Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Menyadari Semua


__ADS_3

Sakti nampak terkejut ketika melihat seseorang yang dibawa masuk oleh Danu ini, ia tentu saja mengenali siapa orang ini karena tentu saja orang ini tidak lain dan tidak bukan adalah Sintia. Sakti tidak mengerti kenapa ayah mertuanya justru membawa wanita yang sudah mencelakainya datang ke sini.


“Kamu pasti merasa bingung kan kenapa dia bisa ada di sini? Mari kita dengarkan kenapa dia datang ke sini,” ujar Danu.


Sintia nampak gugup ketika ingin mengatakan sesuatu pada Sakti namun pada akhirnya Sintia pun mengatakan bahwa ia meminta maaf atas apa yang telah dilakukan olehnya.


“Aku benar-benar menyesali perbuatanku waktu itu, aku mengakui bahwa aku terlalu berpikiran pendek dan karena kebencian menguasai diriku maka aku bisa melakukan perbuatan yang jahat.”


“Apakah kamu hanya akting saja?”


“Kamu boleh tidak memercayaiku namun aku mengatakan ini dengan tulus, Sakti. Aku bisa memahami kalau kamu tak dapat memaafkanku.”


Ambar kemudian mencoba bicara pada Sakti, Ambar mengatakan bahwa ia sangat tahu bahwa Sakti mungkin saja marah dan belum dapat menerima bahwa Sintia sudah melakukan hal yang buruk padanya namun Ambar mengatakan bahwa Sakti tidak boleh membenci Sintia.


“Ambar….”


“Dia melakukan semua itu karena masa lalunya.”


Ambar menceritakan semuanya pada Sakti mengenai apa yang sudah mendiang ibunya lakukan pada Sintia hingga membuat wanita itu menjadi seperti ini, Sintia yang mendengar cerita Ambar nampak tersentuh dan kemudian ia menangis meminta maaf atas semua kejahatan yang telah ia lakukan. Ambar mengatakan bahwa ia sudah memaafkan Sintia dan sama sekali tidak mempermasalahkannya kini.


“Bagaimana denganmu Sakti? Apakah kamu mau memaafkan Sintia?” tanya Danu.


Sakti tidak langsung menjawab pada mulanya namun karena ia dapat merasakan ketulusan hati seorang Sintia maka Sakti pun akhirnya mau memaafkan apa yang sudah Sintia lakukan padanya.


“Terima kasih banyak, Sakti.”


Sintia tak menyangka bahwa Sakti mau menerima permintaan maafnya, ia mengatakan tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.


****

__ADS_1


Bukti yang kuat sudah merujuk pada Helga dan wanita itu tidak dapat lagi berkelit mengenai kasus kematian Warsinih yang didalangi olehnya, Helga tak habis pikir bagaimana polisi mendapatkan semua bukti itu dan dengan semua bukti yang lengkap maka Helga tak dapat lagi mangkir dan polisi atas desakan publik pun memenjarakan wanita itu. Helga tentu saja tak terima karena dipenjara, ia meminta untuk dibebaskan namun polisi mengatakan bahwa mereka tak dapat membebaskan Helga.


“Tolong anda taati aturan yang berlaku di negara ini.”


“Berapa yang perlu aku bayar supaya kalian membebaskanku? Aku dapat membayar kalian semua supaya aku dapat bebas dari tempat ini!”


Namun polisi mengatakan bahwa Helga harus mematuhi hukum yang berlaku dan mereka menolak untuk menerima uang dari Helga. Helga nampak hancur saat ini, ia tak menyangka bahwa akhirnya ia ditahan oleh polisi karena kejahatan yang sudah ia lakukan. Hari-hari Helga lalui dengan murung, pengacaranya sudah datang dan mencoba untuk melakukan negosiasi namun selalu gagal karena polisi didesak oleh publik dan pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini.


“Kami sudah mencoba sebisa mungkin untuk membuat anda tak lagi dipenjara, Nyonya.”


Helga sudah muak dengan kata-kata menghibur dari pengacaranya, ia sudah tak mau lagi mendengar apa pun soal proses hukumnya.


****


Sintia merasa bahagia karena diterima oleh keluarga Ambar dan Danu memerlakukannya layaknya anak kandungnya sendiri, dengan Danu Sintia merasa sama sekali tidak dibedakan dan oleh sebab itu Sintia merasa hormat pada Danu ketimbang mendiang Warsinih yang selalu bersikap membedakan antara kedua anak kandungnya dengan Sintia.


“Semoga kamu sekarang bisa berdamai dengan kami,” ujar Danu.


“Namun setidaknya kamu sudah sadar apa yang telah kamu lakukan itu adalah sesuatu hal yang salah kan?” ujar Farah.


Sintia menganggukan kepalanya, ia mengakui bahwa dirinya terlalu cemburu dan merasa sakit hati karena diperlakukan berbeda oleh mendiang Warsinih namun setelah kejadian hari itu membuat Sintia menjadi tersadar bahwa betapa besar dan tulusnya kasih sayang yang diberikan oleh Danu dan kedua anaknya padanya.


“Sejujurnya aku merasa tidak pantas ada di sini, aku sudah terlalu jahat pada kalan,” ujar Sintia.


“Jangan mengatakan hal tersebut, kamu itu adalah anakku juga,” ujar Danu.


“Apakah aku boleh memanggilmu Ayah?”


“Tentu saja, kenapa tidak? Kamu juga putriku, Sintia.”

__ADS_1


Tangis Sintia kembali pecah dan ia memeluk Danu, ia begitu bahagia karena mendapatkan seorang ayah yang baik dan pengertian seperti Danu.


“Maafkan aku, maafkan aku.”


“Sudahlah Sintia, jangan seperti ini.”


****


Kehidupan rumah tangga Ambar dan Sakti perlahan berlangsung kembali normal lagi tanpa adanya drama yang dilakukan oleh Sintia. Sakti pun juga sudah sepenuhnya memaafkan Sintia dan tak akan memperpanjang masalah ini sampai ke meja hijau. Ambar baru saja pulang dari pasar dan menemukan seseorang tengah berdiri di depan pintu rumahnya, awalnya Ambar tak mengenali siapa orang ini namun setelah ia mendekat dan menyapa orang ini maka Ambar baru menyadari kalau orang yang datang berkunjung ini adalah mamanya Sakti.


“Nyonya?”


“Aku datang ke sini untuk bicara denganmu, apakah aku boleh masuk?”


“Tentu saja, silakan masuk.”


Ambar membukakan pintu dan mempersilakan Ariyani untuk masuk ke dalam rumahnya, di sana mereka duduk di ruang tamu dan Ariyani maupun Ambar sama-sama canggung untuk memulai percakapan karena sebelumnya hubungan mereka juga sangat tidak baik sekali.


“Baiklah, aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu padamu,” ujar Ariyani.


“Apa yang ingin Nyonya katakan padaku?”


Ariyani awalnya nampak berat sekali mengatakan ini namun pada akhirnya Ariyani pun mengatakan bahwa sebenarnya ia menyesali apa yang selama ini sudah ia perbuat pada Ambar.


“Dulu aku begitu menyayangi dan menyukaimu namun setelah aku tahu bahwa mendiang ibumu begitu rakus dan gila harta maka pandanganku padamu berubah, aku memandang kamu adalah kepanjangan tangan dari mendiang ibumu dan oleh sebab itu aku jadi berubah sikap dan menentang hubunganmu dengan Sakti namun sekarang aku sadar bahwa asumsiku mengenai dirimu itu salah besar dan oleh sebab itu aku meminta maaf padamu.”


****


Sakti baru saja pulang kerja dan ia terkejut ketika menemukan sepasang sepatu di depan rumah yang mana sepasang sepatu itu sangat tidak asing di matanya, Sakti buru-buru masuk ke dalam rumah untuk memastikan bahwa Ambar baik-baik saja dan justru ia malah dibuat terkejut dengan pemandangan yang ia lihat saat ini.

__ADS_1


“Apa yang Mama lakukan di sini?” tanya Sakti.


“Mama datang ke sini untuk meminta maaf pada Ambar, Mama mengakui kesalahan Mama, kamu mau kan memaafkan Mama?”


__ADS_2