
Sintia baru saja berbalik badan dan dirinya nampak terkejut ketika menemukan seseorang yang tengah berdiri tepat di belakangnya dan orang itu nampak melipat kedua tangannya di depan dada seraya memerhatikannya. Sintia nampak berusaha mengendalikan diri supaya tidak terlalu nampak terkejut dengan kehadiran orang ini.
“Siapa yang barusan menelponmu?” tanya orang itu yang tidak lain adalah Valdo.
“Tidak, bukan siapa-siapa,” jawab Sintia.
Jawaban Sintia barusan nyatanya tidak membuat Valdo dengan mudah percaya apa yang Sintia katakan, Valdo yakin bahwa saat ini Sintia tengah berusaha menyembunyikan sesuatu darinya walaupun Sintia berkelit bahwa saat ini ia sama sekali tidak menyembunyikan apa pun dari suaminya.
“Kamu ini bicara apa? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa aku tidak sedang menyembunyikan apa pun darimu? Kenapa kamu tidak percaya?”
Valdo nampak menatap Sintia tajam dan Sintia berusaha meluluhkan hati suaminya itu dengan menggodanya, Valdo akhirnya luluh dan ia pun akhirnya tidak lagi menungkit apa yang barusan ia secara tidak sengaja dengar. Untuk saat ini Sintia dapat bernapas lega karena Valdo tidak lagi menanyakan hal apa yang tadi ia bicarakan dengan Helga akan tetapi Sintia pun juga tidak boleh lengah begitu saja karena ia tahu persis karakter Valdo seperti apa. Setelah dari rumah keluarga Ambar itu, Valdo dan Sintia pulang ke apartemen mereka, Sintia meminta Valdo untuk mandi terlebih dahulu dan Valdo pun menuruti apa yang Sintia katakan.
“Tidak, pokoknya kamu jangan panik dan jangan sampai dia tahu apa yang sedang aku rencanakan pada Ambar dan Sakti.”
Sintia nampak menghela napasnya berulang kali untuk meredakan ketegangan yang ia rasakan akibat nyaris saja Valdo mengetahui rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Setelah Valdo selesai mandi kini giliran Sintia untuk mandi ketika Sintia mandi itulah Valdo melirik ponsel milik istrinya.
“Apakah aku harus melakukannya?”
Valdo kemudian meraih ponsel Sintia untuk melihat daftar riwayat panggilan di ponsel itu namun sayangnya Sintia menggunakan sensor jari untuk membuka ponselnya.
****
Valdo menceritakan apa yang terjadi kemarin pada Sakti saat ini ketika Valdo sudah selesai pulang bekerja, Sakti sendiri juga akhirnya ikut penasaran sebenarnya apa yang sedang Sintia sembunyikan dari Valdo.
“Apakah kamu menduga bahwa Sintia berselingkuh di belakangmu?”
“Tidak, aku tidak yakin akan hal tersebut karena kemarin dia menyebut nama Tante.”
__ADS_1
“Bisa saja itu samaran kan karena dia tidak mau ketahuan untuk selingkuh.”
Valdo terdiam, Sakti mengatakan bahwa sebaiknya mulai sekarang Valdo jangan memercayai apa yang Sintia katakan karena bisa saja Sintia mengatakan hal yang bohong padanya. Valdo sendiri nampak bimbang, apakah keputusan yang harus ia ambil saat ini.
“Apakah aku sudah salah karena tidak mendengarkanmu?” lirih Valdo.
“Sudahlah, jangan menyesali apa yang sudah terjadi, kalau kamu yakin bahwa Sintia tidak berselingkuh maka kamu harus membuktikannya dan kemudian hatimu akan jauh lebih lega dan kamu dapat memercayai dia lagi kan?”
Valdo tersenyum mendengar ucapan Sakti barusan, Valdo berterima kasih atas saran yang diberikan oleh Sakti barusan dan setelahnya Valdo pun kemudian pamit untuk pulang ke rumahnya dan Sakti pun juga ikut pulang karena pasti Ambar sudah menunggunya di rumah dan benar saja ketika ia sampai di depan rumah nampak Ambar sudah menunggunya di teras rumah.
****
Valdo baru saja tiba di apartemen tempatnya dan Sintia tinggal, Sintia seperti biasa menyapanya dan membawakan tas kerjanya namun Valdo masih menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun pada Sintia.
“Aku sudah memasak makan malam untukmu.”
“Iya, kenapa? Apakah kamu sudah makan malam?”
Valdo menggelengkan kepalanya dan ia mengatakan akan makan malam setelah mandi, Valdo bergegas masuk ke dalam kamar untuk mandi sementara Sintia sibuk mempersiapkan makan malam untuk mereka di meja makan. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Valdo pergi ke meja makan untuk makan malam dan Sintia sudah menunggunya di sana, Sintia melayaninya dengan baik namun Valdo jadi mengingat semua yang ia dan Sakti bicarakan tadi.
“Valdo, kenapa kamu diam saja? Apakah kamu tidak suka menu makanan yang aku masak hari ini?”
“Apa? Oh tidak kok, aku suka.”
Valdo mulai menyendok makanan yang ada di depannya sementara Sintia nampak curiga dengan kelakuan Valdo yang tidak biasa ini, ia sangat yakin bahwa pasti ada sesuatu hal yang terjadi pada Valdo dan tentu saja ia harus mulai mencari tahu mengenai hal ini.
“Valdo, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”
__ADS_1
“Iya, memangnya apa yang hendak kamu tanyakan padaku?”
“Apakah sebelum ini kamu pergi menemui seseorang?”
****
Regan nampak frustasi karena ia tidak dapat keluar dari rumah ini dan Helga ingin membawanya ke psikater untuk memeriksakan kejiwaannya, Regan tentu saja menolak semua itu namun Helga tak bergeming. Mamanya itu tetap pada keputusannya hingga akhirnya hari itu pun tiba juga, Helga dengan orang suruhannya membawa Regan menuju rumah sakit jiwa untuk memeriksakan keadaan Regan.
“Aku tidak gila, Ma. Lepaskan aku!”
“Jangan dengarkan dia, bawa saja dia masuk,” perintah Helga tegas pada orang suruhannya.
Regan dipaksa masuk ke dalam mobil sementara itu Helga menghela napasnya sebelum masuk ke dalam mobil dan membawa Regan menuju rumah sakit jiwa, sebelumnya Helga sudah membuat janji dengan salah seorang dokter di rumah sakit ini hingga akhirnya mereka bisa langsung menemui dokter tersebut tanpa harus menunggu lebih lama.
“Ma, aku tidak gila.”
“Diam Regan, kita akan tahu sebenarnya apa yang terjadi padamu,” ujar Helga.
Akhirnya Regan dibawa masuk oleh perawat ke dalam ruangan di mana dokter yang dihubungi Helga melakukan praktiknya, dokter itu nampak begitu ramah menyambut kedatangan mereka sementara Regan berkeras bahwa ia tidak gila dan ia tidak seharusnya ke sini. Dokter itu nampak tersenyum dan berusaha menenangkan Regan, dokter itu tahu bagaimana mengambil hati Regan hingga pria itu sama sekali tidak berontak dan pemeriksaan bisa segera dilakukan.
****
Valdo diam-diam mengikuti ke mana perginya Sintia hari ini, ia ingin memastikan apakah Sintia benar-benar selingkuh atau tidak dan jalan satu-satunya untuk membuktikan semua itu adalah dengan mengikuti wanita itu. Valdo tetap tidak dapat membuka ponsel Sintia karena ponsel itu hanya dapat dibuka dengan sidik jari Sintia dan wanita itu selalu saja memiliki alasan untuk tidak memerlihatkan ponselnya pada Valdo yang mana tentu saja hal tersebut makin membuat Valdo penasaran, sebenarnya apa yang tengah Sintia coba sembunyikan darinya.
“Baiklah, kalau memang kamu tidak mau memberitahuku maka aku akan mencari tahunya sendiri.”
Valdo mengikuti Sintia diam-diam menuju sebuah café yang mana ia duduk agak jauh dari Sintia dan menutupi wajahnya dengan buku menu, diam-diam ia mengawasi Sintia dan penasaran siapa orang yang hendak ditemui oleh Sintia dan tidak lama orang itu pun datang dan membuat Valdo terkejut.
__ADS_1
“Bukankah itu ….”