Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Insiden Tak Mengenakan


__ADS_3

Regan seperti memburu Ambar untuk menjawab pertanyaannya dengan segera, tatapan mata Regan seolah menuntut bahwa Ambar harus mengatakan kalau ia menyesali keputusannya menikah dengan Sakti namun Ambar tetap teguh dalam pendiriannya, ia tidak akan menyesali keputusannya untuk menikah dengan Sakti.


“Aku sama sekali tidak menyesali keputusanku, Mas.”


“Kenapa kamu memilih menikah dengan orang yang tidak kamu cintai, Ambar?”


“Karena itu adalah keputusanku, tolong setelah ini Mas Regan berhenti menanyaiku berbagai hal yang sama setiap harinya.”


Regan masih saja menolak jawaban yang diutarakan oleh Ambar karena Regan tahu bahwa Ambar saat ini tengah berbohong, Regan ingin Ambar mengatakan yang sejujurnya bahwa ia menyesal menikah dengan Sakti dan ingin berpisah dengannya.


“Kalau kamu meninggalkan Sakti maka aku juga memiliki alasan supaya dapat meninggalkan Sandrina, kita bisa memulai semuanya dari awal lagi, kita akan hidup bahagia seperti apa yang selama ini kita impikan, Ambar.”


Ambar menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Regan barusan, Ambar mengatakan bahwa ia dan Regan hanya masa lalu dan Ambar tidak ingin mengingat semua masa lalu yang menyakitkan itu.


“Bagaimana bisa kamu mengatakan kalau pernikahan kita di masa lalu adalah sesuatu hal yang menyakitkan, Ambar? Kamu mencintaiku kan?”


“Aku memang mencintaimu, Mas. Akan tetapi apakah Mas Regan lupa apa yang terjadi hingga akhirnya membuat kita berakhir?”


“Ambar, bisakah kamu tidak mengungkit masalah itu lagi? Apakah kamu masih marah dengan hal itu?”


“Aku sama sekali sudah tidak marah padamu, Mas hanya saja untuk bisa seperti dulu itu adalah sesuatu hal yang tidak mungkin.”


Regan nampak menghela napasnya frustasi karena kekeras kepalaan Ambar, Regan pun akhirnya memilih untuk berbalik badan dan pergi Ambar pun akhirnya dapat bernapas lega karena sang mantan suami akhirnya pergi juga dari sini.


“Aku minta maaf Mas, akan tetapi memang sampai kapan pun kita tidak akan pernah kembali bersama seperti dulu dan itu yang perlu kamu pahami.”


****


Regan menemui Sintia untuk berkeluh kesah mengenai apa yang terjadi padanya barusan, Sintia nampak terkejut saat tahu Regan menemui Ambar dan mengatakan untuk meninggalkan Sakti saja padahal mereka baru saja menikah.


“Apakah kamu sudah kehilangan akal sehatmu, Mas?”


“Aku tidak bisa membiarkan mereka bahagia, Ambar adalah milikku dan aku harus memilikinya bagaimanapun caranya.”

__ADS_1


“Tapi sekarang kamu dan Ambar sudah tidak bersama lagi, hubungan kalian sudah tidak sama seperti dulu dan kamu harus menerima itu.”


“Kenapa bicaramu seperti Ambar saja, sih?”


Sintia kemudian terdiam pun dengan Regan yang sama-sama terdiam hingga akhirnya Regan bertanya apakah Sintia bisa dekat lagi dengan Ambar setelah apa yang terjadi di masa lalu mereka dan tentu saja Sintia mengatakan dengan bangga bahwa ia dan Ambar bisa kembali menjadi sahabat lagi yang mana tentu saja membuat Regan terkejut bukan main.


“Apa maksudmu? Apakah kamu saat ini sedang bercanda, Sintia?”


“Untuk apa saat ini aku bercanda, Mas? Aku hanya mengatakan yang sejujurnya saja.”


“Kalau dia bisa berbaikan denganmu lagi, kenapa dia tidak mau berbaikan lagi denganku?”


“Mana aku tahu, aku tidak tahu alasan pasti kenapa dia tidak mau berbaikan denganmu.”


Regan merasa bahwa ia harus kembali bicara dengan Ambar apa pun caranya, Regan kemudian segera pergi meninggalkan Sintia yang mana wanita itu menyeringai.


“Sepertinya semakin lama ini akan menarik saja.”


****


“Untuk apa kamu ingin menemui anakku lagi? Kamu dan dia sudah tidak ada lagi urusan, pergi sana.”


“Ibu tidak mengerti apa pun, izinkan aku masuk sekarang.”


Akhirnya terjadilah perdebatan panas antara Warsinih dan Regan yang mana akhirnya perdebatan mereka baru berhenti ketika Sakti muncul di rumah ini, kebencian Regan pada Sakti semakin menjadi-jadi dan ia hendak menyerang Sakti namun Warsinih keburu menghalau Regan.


“Jangan membuat onar di sini atau aku akan memanggil warga supaya kamu babak belur!”


Regan terpaksa menahan dirinya padahal saat ini dirinya sangat ingin memberikan pelajaran pada Sakti, Regan tetap bertahan di sana dan ingin bertemu dengan Ambar namun tentu saja baik Sakti maupun Warsinih tidak mengizinkannya, mereka justru meminta Regan untuk pergi dan jangan membuat onar lagi di sini.


“Urusan kita belum selesai, awas saja kamu.”


Regan menunjuk Sakti sebelum pria itu berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka berdua menuju mobilnya.

__ADS_1


****


Sejujurnya Ambar sudah ada di dalam rumah dan ia mendengar semua pertengkaran yang terjadi antara Regan dengan suami serta ibunya, tadi ketika Regan datang Warsinih meminta Ambar untuk jangan keluar dan dirinya saja yang menghadapi pria itu namun Ambar awalnya menolak karena takut kalau Regan akan melakukan hal yang buruk pada sang ibu. Setelah ditenangkan oleh sang ibu akhirnya Ambar pun menuruti apa yang diperintahkan oleh ibunya yaitu ia menunggu di dalam, sepanjang pertengkaran Ambar gelisah sekali dan ingin keluar untuk menghentikan semua itu namun syukurnya pertengkaran pun mereda dan Regan memilih untuk pergi. Setelah Regan pergi, Warsinih dan Sakti masuk ke dalam rumah, Ambar bertanya apakah ibunya baik-baik saja dan sang ibu pun mengatakan kalau ia baik-baik saja.


“Syukurlah kalau Ibu baik-baik saja.”


“Kalau kamu yang keluar maka Ibu yakin sekali pasti pria itu akan melakukan hal yang buruk padamu tadi.”


“Sebenarnya tadi mas Regan menemuiku di toko.”


“Apa katamu?” tanya Sakti terkejut.


Ambar pun menceritakan semuanya pada sang ibu dan suaminya mengenai percakapann singkat antara dirinya dan Regan di toko tempat Ambar bekerja.


“Tapi mas Regan sama sekali tidak berbuat kekerasan padaku tadi.”


“Tentu saja dia tidak akan melakukan itu karena ada di tempat umum, mungkin kalau di jalan atau tempat lain maka bisa saja dia melakukan hal yang buruk padamu,” ujar Sakti.


****


Keesokan paginya Sakti sudah berangkat kerja dan Ambar juga sudah bersiap untuk pergi kerja namun entah kenapa firasatnya mengatakan kalau ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi namun Ambar menggelengkan kepalanya.


“Kamu kenapa, Nak?”


“Oh tidak kok, Bu. Aku baik-baik saja.”


Sementara itu Sakti tengah berjalan menuju tempat kerjanya yang mana tiba-tiba saja sebuah mobil menghadang jalannya, dua orang turun dari dalam mobil itu dan langsung menarik Sakti untuk masuk ke dalam namun Sakti menolak dan melawan.


“Kalian siapa? Lepaskan aku!”


“Diam kamu jangan berisik!”


BUGH

__ADS_1


__ADS_2