Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Teman Harus Tolong Menolong


__ADS_3

Helga mengusir Sintia pergi dari rumah Regan walaupun Sintia menolak namun Helga tetap saja bergeming, ia mengusir paksa Sintia dari rumah ini. Sintia tentu saja tidak dapat menerima perlakuan Helga yang kasar ini apalagi dirinya tidak lama lagi akan menikah dengan Regan dan akan segera menjadi menantu Helga namun kenapa wanita ini justru memerlakukannya dengan sangat kasar?


“Mas, kenapa kamu hanya diam saja? Katakan sesuatu pada mamamu dong.”


Regan sama sekali tidak mengatakan apa pun yang membuat Helga semakin leluasa untuk mengusir Sintia dari rumah ini dan tentu saja sikap Regan ini menimbulkan kekecewaan dalam benak Sintia, ia tidak menyangka kalau


Regan akan mau mendengarkan apa yang mamanya katakan dan membiarkan mamanya ini mengusirnya.


“Mas, kenapa kamu diam saja?”


“Sudahlah jangan banyak bicara, keluar dari rumah ini sekarang juga!”


Sintia dipaksa keluar oleh satpam dari rumah ini dan selepas Sintia pergi kini Helga menghela napasnya kesal, sejak awal ia tidak suka dengan Sintia ditambah lagi sekarang wanita itu membuat ulah yang tentu saja makin membuat Helga semakin membencinya.


“Regan, kamu tidak akan menikah dengan wanita itu kan?”


Regan terdiam dan tak menjawab pertanyaan Helga barusan, Helga kemudian memberikan peringatan pada Regan untuk tidak menikah dengan Sintia karena Helga tidak menyukai wanita itu.


“Dia bukan wanita yang baik, kamu tahu itu kan?”


“Ma aku ….”


“Apa? Kamu ingin melawan Mamamu?”


Regan kembali terdiam dan Helga mengatakan bahwa Regan jangan pernah menikah dengan Sintia karena pada akhirnya nasib rumah tangga mereka pasti akan sama saja dengan Ambar sekarang.


“Percayalah pada Mama karena Mama ingin yang terbaik untuk anak Mama.”


Regan tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh mamanya dan memilih segera berbalik badan dan pergi ke kamarnya sementara Helga menghela napasnya, ia tidak akan membiarkan Sintia mendekati anaknya apalagi


sampai menikah dengannya.


“Wanita itu pikir dia siapa? Berani sekali melakukan ini.”


****

__ADS_1


Semenjak kejadian di rumah itu, Sintia berusaha pergi menemui Regan kembali namun satpam tidak pernah mengizinkannya masuk ke dalam walau Sintia sudah memohon berkali-kali namun tetap saja tidak dapat dibukakan


pintunya.


“Maaf kami hanya menjalankan perintah dari Nyonya.”


Tentu saja Sintia tahu siapa dalang di balik semua ini yaitu mamanya Regan, ia tidak dapat menerima semua ini begitu saja. Ia tidak akan membiarkan mamanya Regan menghancurkan rencananya untuk menikah dengan


Regan, bagaimanapun juga Regan akan menjadi suaminya dan tidak ada seseorang pun yang berhak menghalanginya seperti ini. Sintia kemudian pergi ke kantor Regan dan lagi-lagi ia mendapatkan hadangan dari petugas keamanan.


“Maaf namun anda tidak boleh masuk ke dalam.”


“Apakah semua ini karena mamanya Regan lagi yang melarangku untuk datang menemuinya di kantornya sendiri?”


“Kalau anda datang hanya untuk membuat keributan, silakan pergi dari sini.”


Sintia merasa tersinggung dengan ucapan satpam barusan, ia memaksa masuk namun tentu saja usahanya sia-sia saja karena satpam tetap saja tak mengizinkannya masuk. Sintia marah dan mengancam akan terus ada


di sini sampai Regan mau menemuinya dan saat itu Fadi muncul dari dalam mobil setelah ia melakukan pertemuan dengan seorang investor yang ingin bekerja sama dengan perusahaan mereka.


****


Sakti kembali mendatangi Ambar dan meminta Ambar untuk menerima pemberiannya itu namun Ambar tetap tidak mau menerimanya karena menurutnya apa yang Sakti lakukan terlalu berlebihan.


“Aku tidak berlebihan Ambar, aku ikhlas melakukannya.”


“Namun tetap saja aku merasa tidak enak harus menerima


itu.”


Sakti masih berusaha meyakinkan Ambar untuk menerima pemberiannya itu namun Ambar tetap tidak mau melakukannya karena Sakti sudah terlalu banyak membantunya apalagi bantuan Sakti kali ini terlalu berlebihan untuknya dan keluarga. Sakti akhirnya menyerah namun ia mengatakan pada Ambar untuk memikirkannya sekali lagi karena ia melakukan semua ini karena peduli padanya. Sakti pun akhirnya pergi dan Ambar dapat menghela napasnya lega dengan kepergian pria itu dan setelah Sakti pergi nampak Warsinih muncul dan bertanya pada Ambar apa saja yang dibicarakan oleh mereka berdua tadi namun Ambar sama sekali tidak mau mengatakannya pada sang ibu.


“Sebenarnya ada apa, Nak?”


“Bukan apa-apa kok, Bu.”

__ADS_1


Warsinih menghela napasnya panjanga, ia tahu bahwa Ambar menyembunyikan sesuatu darinya saat ini dan ia tidak mau memaksa kalau Ambar memang tidak mau mengatakan apa pun padanya. Pada akhirnya keesokan


paginya Warsinih bertemu dengan Sakti ketika ia hendak pergi ke pasar, Sakti mencegat Warsinih dan mengatakan kalau ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan wanita ini.


“Kamu memangnya ingin bicara apa, Sakti?”


****


Regan akhirnya bersedia mau menemui Sintia di bawah, Sintia tentu saja girang bukan main karena akhirnya Regan mau menemuinya juga. Ketika Regan mau menemuinya itu Sintia langsung memeluknya tanpa merasa malu


namun Regan langsung melepaskan pelukan Sintia itu yang mana tindakan Regan barusan sangat membuat Sintia kecewa.


“Kok kamu melakukan ini padaku, Mas?”


“Apa-apaan kamu Sintia? Ini adalah kantor tolong jaga sikapmu.”


“Apakah kamu tidak akan mau menikahiku, Mas? Setelah apa yang sudah terjadi di antara kita selama ini dan kamu tidak mau menikah denganku? Bukankah kamu sudah berjanji untuk mau menikah denganku?”


Sintia terus saja meracau dan hal tersebut menarik banyak mata untuk melihat ke arah mereka, Regan sendiri berusaha menghentikan Sintia untuk jangan membicarakan hal seperti itu di kantor namun pada kenyataannya Sintia sama sekali tidak memedulikan hal tersebut.


“Katakan padaku kalau kamu mencintaiku dan kamu akan menikahiku, kamu akan melakukan itu kan Mas?”


“Sintia jangan bicara hal seperti itu di kantor!”


“Apakah kamu akan menuruti apa yang dikatakan oleh mamamu? Apakah kamu tidak akan mau menikahiku?”


“Nanti kita bicarakan ini tapi jangan sampai banyak orang yang melihat apalagi sampai ada yang merekam nanti semua akan jauh lebih rumit!”


****


Ambar terkejut ketika Warsinih datang dengan Sakti dan raut wajah Warsinih begitu bahagia sekali saat ini, Ambar bertanya pada Warsinih apa yang terjadi saat ini dan kemudian Warsinih pun menceritakan semuanya pada Ambar. Ambar terkejut ketika rupanya sang ibu diajak oleh Sakti menuju rumah yang waktu itu ditunjukan oleh pria itu padanya, Sakti meminta Warsinih untuk membujuk Ambar supaya Ambar mau pindah ke sana bersama keluarganya.


“Bu, aku sudah mengatakannya pada Sakti bahwa aku menolaknya.”


“Nak, Sakti tidak ada niat apa pun, dia tulus ingin membantu keluarga kita.”

__ADS_1


“Apa yang dikatakan oleh ibumu itu benar Ambar, aku sama sekali tidak ada niat apa pun kecuali membantumu dan keluargamu, bukankah kita ini teman? Dan sebagai teman tentu saja kita saling tolong menolong ketika salah satunya sedang mengalami kesulitan.”


__ADS_2