
Ambar tahu betapa sakit dan sedihnya Sintia ketika ia mendapatkan kabar buruk ini, Ambar mengakui kesalahannya dan ia meminta maaf pada Sintia atas apa yang telah ia lakukan.
“Kalau memang kamu menyesali apa yang sudah kamu lakukan padaku, apakah kamu dapat mengembalikan anakku ke dunia ini lagi?”
Ambar terdiam mendengar pertanyaan yang Sintia ajukan barusan, Sintia mengatakan bahwa ia tak mau bertemu dengan Ambar lagi karena ia membenci Ambar. Ambar sedih sekali dengan sikap Sintia yang seperti ini dan rasa bersalahnya pada wanita ini semakin besar.
“Aku tahu bahwa aku tidak dapat untuk dimaafkan olehmu, akan tetapi aku benar-benar menyesali apa yang sudah aku lakukan padamu.”
Sintia hendak melukai Ambar namun seseorang datang untuk menyelamatkan Ambar yaitu Sakti. Sakti langsung membawa Ambar keluar sementara perawat masuk ke dalam ruangan inap Sintia untuk menenangkan wanita itu.
“Kamu baik-baik saja kan?”
“Bagaimana bisa kamu tahu aku ada di sini?”
Sakti mengatakan bahwa tadi ia diam-diam mengikuti Ambar karena ia khawatir kalau sesuatu hal yang buruk akan terjadi dan rupanya perasaannya benar, jika tadi ia tidak datang maka mungkin saja Sintia akan melakukan hal yang buruk pada Ambar.
“Namun semua ini salahku, Sakti. Aku yang telah membuatnya menjadi seperti itu”
“Bisakah kamu tak menyalahkan dirimu sendiri, Ambar? Semua yang telah terjadi memang karena sudah ditakdirkan oleh Tuhan.”
Ambar terdiam mendengar ucapan suaminya barusan, Sakti pun mengajak Ambar untuk pergi dari rumah sakit ini dan mereka mampir ke sebuah restoran yang tak jauh dari restoran ini. Sakti menanyakan apa yang ingin Ambar pesan namun Ambar mengatakan bahwa ia sama sekali tidak berselera untuk makan.
“Jangan seperti ini, Ambar.”
“Rasa bersalah ini membuatku tersiksa, Sakti.”
Sakti menghela napasnya dan kemudian memeluk Ambar untuk menangkan kegelisahan yang dialami oleh Ambar, untuk sementara Ambar dapat merasa aman dan nyaman ketika ia dipeluk oleh Sakti dan ia pun berterima kasih karena Sakti sudah mau datang dan memeluknya.
“Terima kasih banyak.”
****
Sakti membawa Ambar untuk pulang ke rumah, di sana Sakti menanyakan apakah ada sesuatu yang ingin Ambar inginkan atau makan namun Ambar mengatakan bahwa ia tak ingin apa pun dan hanya ingin istirahat saja. Ambar langsung tidur di kasur dan rupanya ketika ia bangun, hari sudah malam dan ketika keluar kamar dirinya melihat Sakti tengah menyiapkan makan malam untuknya.
“Sakti?”
“Kamu bangun?”
__ADS_1
“Aku sepertinya tertidur terlalu lama sampai malam begini baru bangun.”
“Itu artinya kamu sangat lelah sekali saat ini, Ambar.”
Ambar mengatakan bahwa ia ingin membantu Sakti menyiapkan makan malam namun Sakti mengatakan bahwa ia tak memerlukan bantuan dari Ambar.
“Aku dapat melakukannya sendiri.”
Terdengar suara pintu diketuk dan Ambar segera pergi menuju pintu untuk melihat siapa gerangan yang datang dan ketika ia membukakan pintu, rupanya yang datang adalah adiknya.
“Farah?”
“Aku dengar dari ayah kalau tadi kamu pergi ke rumah sakit menemui Sintia, apakah itu benar?”
“Iya, tadi siang aku memang pergi ke rumah sakit dan menemui Sintia.”
“Bagaimana kondisinya? Apakah dia sudah baik-baik saja? Dia tidak melakukan hal yang buruk padamu kan?”
“Kondisinya sudah membaik namun dia sepertinya masih belum dapat menerima kepergian anaknya.”
****
“Kenapa dia mengubah passwordnya begini?”
Sintia mencoba untuk menghubungi Valdo namun sayangnya Valdo tak menjawab telepon dari Sintia ini, Sintia tentu saja kesal kalau harus menunggu sampai Valdo kembali karena ini masih siang hari. Sintia memutuskan untuk pergi menuju kantor Valdo dan mencari pria itu di sana, ketika ia tiba di sana nampak Valdo yang hendak makan siang ke sebuah restoran dekat kantor.
“Valdo!”
Merasa ada yang memanggil namanya, Valdo sontak saja menoleh dan melihat kalau orang yang memanggilnya barusan adalah Sintia. Valdo tentu saja terkejut karena Sintia sudah boleh diizinkan pulang oleh dokter.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?”
“Tentu saja karena dokter telah mengizinkanku untuk pulang.”
Valdo nampak mengacuhkan apa yang Sintia katakan dan hendak kembali berjalan namun Sintia menahannya, Sintia menanyakan kenapa Valdo mengubah password untuk membuka pintu apartemen.
“Karena kita sudah tidak perlu tinggal satu rumah lagi.”
__ADS_1
“Apa maksudmu?”
“Aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa kita akan bercerai kan?”
“Bagaimana bisa kamu masih ingin kita berpisah, Valdo?”
****
Ambar sudah mulai dapat mengurangi rasa bersalahnya dengan apa yang menimpa Sintia, kini Ambar sedang mencari pekerjaan karena ingin membantu perekonomian keluarga. Sakti sebenarnya sudah melarang Ambar untuk bekerja dan ia ingin Ambar di rumah saja namun Ambar tidak ingin menjadi beban untuk Sakti hingga akhirnya dengan berat hati Sakti pun mengizinkan Ambar untuk mencari pekerjaan dan mungkin dengan Ambar memiliki kesibukan maka Ambar akan dapat melupakan rasa bersalahnya pada Sintia. Ketika ia sedang mencari pekerjaan itu, dirinya malah secara tak sengaja bertemu dengan Regan dan pria itu langsung menyapanya.
“Ambar, apa yang kamu lakukan?”
“Mas Regan?”
“Naiklah ke dalam mobilku.”
Namun Ambar menolak, ia mengatakan bahwa ia ada urusan dan harus pergi sekarang, Regan tahu bahwa Ambar tengah mencoba untuk menghindarinya. Regan memarkirkan mobilnya dan segera berlari mengejar Ambar sebelum ia kehilangan jejak wanita itu. Regan berhasil menangkap tangan Ambar namun Ambar meminta Regan untuk dilepaskan.
“Mas, apa yang kamu lakukan ini? Lepaskan aku!”
“Lepaskan aku? Sebenarnya kamu ini kenapa, Ambar? Kok kamu langsung pergi begitu saja saat tahu aku menyapamu?”
“Sekarang kita sudah tak memiliki hubungan apa pun, tolong berhenti mengejar-ngejarku.”
“Namun aku ingin tahu apa yang sedang kamu lakukan, barang kali aku dapat membantumu.”
“Maaf Mas, akan tetapi aku tak butuh bantuanmu.”
****
Sakti baru saja datang ke rumah dan ia melihat ada Daisy yang tengah bermain dengan Ambar, Sakti nampak agak heran karena Daisy bisa ada di sini dan Ambar tadi pagi juga tak mengatakan apa pun soal anaknya ini yang mau datang.
“Ambar, boleh kita bicara sebentar?”
Sakti kemudian pergi ke dalam kamar dan diikuti oleh Ambar, ketika tiba di kamar itulah Sakti bertanya kenapa Ambar tak mengatakan kalau akan ada Daisy datang. Ambar mengatakan bahwa semua tidak direncanakan.
“Maksudmu?”
__ADS_1
Ambar pun menceritakan bahwa tadi ia bertemu dengan Regan secara tak sengaja ketika ia mencari pekerjaan. Regan mendesak Ambar mengatakan apa yang Ambar butuhkan namun Ambar menolaknya dan oleh sebab itu Regan kemudian mengajak Ambar menjemput Daisy di sekolah.
“Tolong jangan cemburu pada mas Regan, Sakti.”