
Orang yang memerhatikan Sakti dan Ambar saat ini adalah Regan, pria itu secara tidak sengaja melintas di depan toko di mana Ambar bekerja dan kemudian ia melihat sosok yang seperti Ambar. Untuk memastikan apa yang ia lihat itu adalah benar maka Regan pun berjalan menghampiri toko tersebut dan rupanya memang benar sosok yang ia lihat adalah Ambar namun rupanya Ambar tidaklah sendirian di toko tersebut melainkan bersama dengan Sakti. Ada rasa marah dalam diri Regan ketika melihat Ambar dekat dengan pria lain walaupun saat ini merek berdua sudah resmi bercerai namun ia masih membayangkan kenangan ketika dirinya dan Ambar dulu masih bersama.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?” lirih Regan.
Regan menghela napasnya dan kemudian memutuskan untuk balik badan menuju mobilnya yang terparkir namun sebelum ia mencapai mobilnya, justru ia malah bertemu dengan Sintia yang membuatnya kesal.
“Mas Regan? Apa yang Mas lakukan di sini?”
Tentu saja sudah sangat terlambat untuk Regan dapat berbalik badan dan tidak bertemu dengan wanita ini karena Sintia sudah melihatnya dan tentu saja mau tidak mau Regan harus menghadapi wanita ini.
“Bisakah kamu tidak menggangguku?”
“Aku mengganggumu? Aku kan hanya bertanya saja apa yang Mas Regan lakukan di sini?”
“Apa yang aku lakukan di sini jelas bukan urusanmu, jadi menyingkirlah dan jangan ganggu aku.”
Setelah mengatakan itu Regan langsung memilih untuk masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Sintia, tentu saja Sintia tidak paham kenapa Regan sangat emosional sekali saat bertemu dengannya dan ketika
melihat Sakti keluar dari toko di mana Ambar bekerja barulah Sintia paham kenapa Regan begitu marah barusan.
“Jadi karena Sakti.”
Sakti melihat Sintia dan langsung saja Sakti menghampiri Sintia dan bertanya kenapa Sintia ada di sini, Sakti mengusir Sintia dan mengatakan pada wanita itu untuk jangan pernah mencoba mengusik Ambar lagi.
“Sakti, apakah kamu akan segera menikahi Ambar?”
****
Regan masih uring-uringan akibat melihat Ambar dan Sakti barusan, ia tidak dapat bekerja dengan benar karena masih terlalu fokus dengan apa yang tadi ia lihat. Pada akhirnya Regan pun memilih untuk pulang lebih awal hari ini karena ia tidak dapat fokus bekerja di kantor dan ia ingin istirahat saja di rumah namun baru saja ia tiba di rumah, ponselnya berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk dan ketika ia melihat layar ponselnya tertera nama Sintia di sana, Regan sama sekali tidak berniat untuk menjawab telepon dari Sintia dan memilih mengabaikannya. Sintia tidak menelpon sekali namun berjali-kali dan selama itu juga Regan memilih untuk tidak menjawab telepon darinya karena Regan sudah menebak apa yang akan Sintia katakan padanya dan ia tidak mau mendengar wanita itu mengomel akibat tadi mereka bertemu secara tak sengaja ketika di dekat toko di mana Ambar bekerja. Saat ia tengah istirahat di dalam kamarnya, asisten rumah tangga mengganggunya dan membuatnya marah, asisten rumah tangga mengatakan bahwa Sandrina ada di sini dan ia ingin bertemu dengan Regan.
“Apa katamu? Sandrina di sini?”
“Iya Tuan, beliau menunggu Tuan di ruang tamu.”
__ADS_1
Regan sontak saja keluar dari dalam kamarnya untuk menemui wanita itu, benar saja Sandirna tengah menunggunya di ruang tamu dengan tenang, Regan tersenyum pada wanita itu dan bertanya apa yang membuat Sandrina datang ke sini malam-malam.
****
Sakti berpikir apakah ia harus mengungkapkan apa yang ia rasakan pada Ambar sesegera mungkin seperti apa yang menjadi saran dari mamanya atau tidak, Ambar dan Regan belum terlalu lama mereka resmi bercerai
dan Sakti tidak mau membuat Ambar tidak nyaman dengan pernyataan cintanya kelak.
“Dia baru saja bercerai dan pasti dia akan sangat terkejut kalau aku tiba-tiba saja mengungkapkan rasa cintaku padanya.”
Sakti berusaha memejamkan matanya malam ini namun ia tidak bisa melakukan itu karena masih saja memikirkan soal Ambar dan perasaan yang ia rasakan pada wanita ini. Awalnya memang Sakti menolak perasaan ini, ia
berpikir bahwa perasaan ini hanya sebuah perasaan biasa ketika ia bertemu dengan Ambar setelah sekian lama mereka tidak berjumpa namun akhirnya ia sadar bahwa ia memang menyukai Ambar dan ini adalah kesempatannya untuk mendapatkan wanita itu.
“Apa yang harus aku lakukan?”
Sakti keesokan paginya nampak masih memikirkan apa yang akan ia lakukan, apakah ia harus mengutarakan perasaannya pada Ambar atau tidak hingga akhirnya ponselnya berdering, ketika ia melihat nama yang tertera
di ponselnya nama sang mama di sana, Sakti menghela napasnya sebelum menjawab telepon dari sang mama.
****
sebenarnya tidak mempermasalahkan apa yang Sintia lakukan karena ia tahu bagaimana sifat Sintia kalau Sintia dilaporkan pada polisi maka Ambar khawatir kalau sikap Sintia akan semakin menjadi-jadi dan hal tersebut pasti akan sangat mengganggunya.
“Kamu tidak perlu khawatir Ambar, aku akan berjaga di toko ini selama kamu bekerja jadi jangan merasa takut kalau tiba-tiba wanita itu datang dan mengusikmu.”
“Terima kasih.”
Saat keadaan toko sedang sepi, seorang pembeli masuk ke dalam toko, Ambar menyambut pelanggan itu dan rupanya pelanggan itu adalah mamanya Sakti. Tentu saja Ambar terkejut dengan kedatangan mamanya Sakti ke
tokonya ini.
“Tante?”
__ADS_1
“Halo Ambar, rupanya kamu bekerja di sini sekarang.”
“Iya Tante, Tante ke sini mau beli apa?”
“Tante ke sini ingin bicara denganmu sebentar.”
“Tapi ….”
“Tante akan bicaraa dengan pemilik toko jadi kamu jangan khawatir.”
Mamanya Sakti kemudian bicara dengan pemilik toko untuk mengajak Ambar ikut dengannya sebentar karena ada sesuatu yang perlu ia bicarakan dan pemilik toko pun mengizinkan Ambar untuk pergi bersama mamanya Sakti.
****
Ambar diajak oleh mamanya Sakti makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempatnya bekerja, Ambar tentu saja merasa tidak enak dengan apa yang mananya Sakti lakukan namun wanita itu mengatakan bahwa
Ambar tidak perlu memikirkan soal biaya dan lain sebagainya.
“Ambar, sebenarnya aku mengajakmu makan di sini karena ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
“Memangnya apa yang ingin Tante bicarakan denganku?”
“Ini menyangkut soal Sakti.”
“Sakti? Apa yang terjadi padanya, Tante?”
“Sakti, dia menyukai seseorang sekarang.”
“Benarkah?”
“Iya namun sayangnya dia tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya itu pada wanita tersebut padahal Tante sudah berusaha sekuat tenaga mendorongnya untuk berani mengungkapkan perasaannya namun dia takut kalau ditolak oleh wanita itu.”
“Oh seperti itu rupanya.”
__ADS_1
“Tante bisa minta bantuanmu Ambar? Bisakah kamu bicara dengan Sakti dan membujuknya untuk segera mengutarakan perasaannya pada wanita itu, Nak?”