Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Sudah Tahu Kebenaran


__ADS_3

Sintia mengikuti ke mana Sakti akan membawanya dan rupanya saat ini Sakti membawanya untuk bicara di koridor rumah sakit yang sedang sepi. Sintia nampak melipat kedua tangannya dan menanyakan kenapa Sakti ingin bicara dengannya dan Sakti pun akhirnya mengatakan kenapa ia membawa Sintia ke sini.


“Kamu benar-benar tidak tahu alasanku mengajakmu bicara di sini?”


“Tentu saja tidak, kamu saja tidak memberitahuku sejak tadi bagaimana bisa aku tahu.”


Sakti nampak menyeringai dan kemudian Sakti pun mengatakan sesuatu yang membuat Sintia benar-benar terkejut.


“Kamu yang sudah melakukan hal buruk pada ibunya Ambar kan?”


“Apa maksudmu menanyakan itu?”


“Sudahlah Sintia, aku tahu dengan pasti bahwa kamu adalah dalang di balik ini semua.”


“Bagaimana bisa kamu menuduhku seperti itu? Mana buktinya?”


Sakti pun kemudian mengeluarkan ponselnya dan memerlihatkan rekaman kamera CCTV tepat di mana Sintia menabrakan mobilnya ke arah Warsinih, Sintia nampak terkejut dan hendak merampas ponsel Sakti namun tentu saja sebelum Sintia melakukan itu, Sakti sudah terlebih dahulu menjauhkan ponselnya dari jangkauan Sintia.


“Bagaimana? Apakah kamu ingin mengelak jika aku sudah mendapatkan bukti kuat seperti ini?”


“Apa yang ingin kamu lakukan padaku?”


“Mudah saja, jangan ganggu Ambar lagi dan jauhi Valdo, aku tidak akan membiarkanmu mengusik orang-orang yang aku sayangi.”


Sintia nampak menyeringai dan kemudian mengatakan pada Sakti bahwa ia akan terus bersama dengan Valdo dan ia akan kembali menjadi sahabat Ambar, Sakti tentu saja geram dengan tindakan Sintia ini yang tidak merasa bersalah sedikit pun atas apa yang telah ia lakukan pada Warsinih.


“Apakah kamu benar-benar sudah ditutup mata hatinya, Sintia? Bagaimana bisa kamu tidak merasakan sedikit pun rasa bersalah setelah melakukan hal yang buruk seperti itu?”


“Aku melakukan semua itu karena aku diperintahkan oleh mamanya Regan!”


“Apa katamu? Mamanya Regan yang menyuruhmu melakukan semua itu? Kenapa kamu mau saja disuruh oleh beliau?”

__ADS_1


“Tentu saja karena aku membenci Ambar, aku akan melakukan apa pun untuk membalas apa yang sudah Ambar lakukan padaku!”


****


Sakti kembali ke ruangan inap Warsinih tanpa Sintia, Ambar tentu saja penasaran ke mana Sintia pergi saat ini dan ia bertanya pada Sakti pergi kemana wanita itu namun Sakti tidak mau menjawab ke mana Sintia pergi. Ambar tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Sakti saat ini dan meminta Sakti untuk bicara namun Sakti tidak mau memberitahukan pada Ambar mengenai apa yang sedang disembunyikan olehnya.


“Aku pulang dulu.”


Sakti berpamitan pada Warsinih dan Ambar, ia pun melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit ini namun di lobi rumah sakit, ia berpapasan dengan Regan yang baru saja tiba dan hendak menjenguk Warsinih. Regan melirik ke arah Sakti dengan tatapan sinis, Regan nampak tak mau menyapa Sakti dan melengos pergi begitu saja namun Sakti menahan Regan karena ia ingin mengatakan sesuatu pada pria itu.


“Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.”


“Tentu saja ada yang perlu aku bicarakan denganmu, apakah kamu tidak mau tahu apa yang sudah mamamu lakukan?”


Regan nampak penasaran dengan apa yang Sakti katakan barusan hingga akhirnya Regan pun bersedia untuk bicara dengan Sakti. Regan mendesak Sakti untuk mengatakan apa yang barusan ia bicarakan itu dan tentu saja tanpa membuang waktu Sakti langsung mengatakan pada Regan bahwa mamanya dalang di balik kecelakaan yang menimpa Warsinih.


****


Helga nampak geram bukan main saat mendapatkan telepon dari Sandrina bahwa Regan tidak pulang ke rumah, tentu saja Helga tahu ke mana perginya Regan dan sudah pasti anaknya itu menemui Ambar di rumah sakit. Helga tidak dapat duduk diam dan membiarkan semua ini terjadi, ia langsung menuju rumah sakit di mana Warsinih dirawat namun sebelum Helga tiba di sana, ia melihat mobil Regan muncul di depan rumah dan tentu saja Helga langsung menghampiri Regan dan bertanya ke mana saja Regan.


“Ma, apakah benar kalau Mama dalang di balik kecelakaan mamanya Ambar?”


“Bicara apa kamu ini?”


“Jawab saja pertanyaanku, Ma.”


Helga nampak menghela napasnya panjang, ia mengatakan bahwa apa yang barusan dikatakan oleh Regan memang benar adanya, ia adalah dalang di balik semua ini dan Helga mengatakan bahwa Regan jangan pernah kembali menemui Ambar namun Regan tidak mau mendengarkan apa yang Helga katakan barusan.


“Aku akan melaporkan Mama pada polisi atas kejahatan Mama ini.”


“Jadi kamu ingin melaporkan Mama pada polisi? Silakan saja namun jangan salahkan Mama kalau kamu tidak akan dapat melihat Ambar lagi untuk selamanya dan juga kamu akan dikeluarkan dari kartu keluarga, kamu tidak akan mendapatkan uang satu sen pun warisan keluarga ini!”

__ADS_1


****


Sintia nampak gelisah setelah mendengar ancaman Sakti siang tadi namun ia tidak mau terlalu memikirkan itu, Sintia yakin bahwa Sakti tidak akan melaporkannya pada polisi namun kalau Sakti tetap melaporkannya pada polisi maka Sintia akan menyeret Helga juga karena ia melakukan semua itu atas dasar perintah Helga.


“Iya, aku tidak perlu panik kalau dia melaporkanku pada polisi, mudah saja.”


Sintia tengah bersantai di apartemennya ketika pintu apartemennya diketuk, ia pikir orang yang datang saat ini adalah Valdo namun rupanya ketika ia membuka pintu justru ia dibuat terkejut karena orang yang datang padanya adalah Regan.


“Mas Regan?”


Regan menatap dingin Sintia namun Sintia tentu saja bahagia karena Regan menemuinya, ia memeluk pria itu dan mengatakan sangat merindukan Regan. Regan tidak membalas pelukan Sintia namun ia mendorong Sintia masuk ke dalam apartemennya ini.


“Mas, apa yang hendak kamu lakukan?”


Regan tidak menjawab namun ia membawa Sintia ke dalam kamar, Sintia nampak penasaran dengan apa yang hendak Regan lakukan karena sejak tadi pria ini tidak mengatakan apa pun padanya.


“Kamu menginginkanku bukan? Maka sekarang lakukanlah, Sintia,” bisik Regan yang membuat Sintia menyeringai dan tentu saja tanpa menunggu waktu lama Sintia menyererobot bibir Regan dan mendorong pria itu hingga rebah di atas kasur dan membuka satu persatu kancing kemeja yang Regan kenakan.


****


Warsinih akhirnya diizinkan pulang ke rumah, tentu saja Ambar dan keluarganya begitu bahagia dengan kabar gembira ini namun ketika mereka hendak pulang Sakti menjemput mereka dan mengatakan bahwa ia juga ingin tahu di mana Ambar dan keluarganya tinggal saat ini.


“Tidak perlu Sakti, kami bisa pulang sendiri.”


“Kenapa kamu ingin sekali merahasiakan di mana tempat tinggalmu, Ambar?”


“Bukannya aku tidak mau memberitahumu hanya saja….”


“Hanya saja apa? Katakan padaku.”


Sebelum Ambar buka suara nampak Ariyani muncul dan menarik tangan Sakti untuk ikut pulang bersamanya namun Sakti menolak.

__ADS_1


“Aku tidak mau, Ma. Aku ingin tahu di mana Ambar tinggal.”


“Kamu jangan menolak permintaan Mama, Sakti!”


__ADS_2