
Sintia tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Sakti barusan namun wanita itu mengatakan bahwa Sakti tidak perlu tahu akan hal tersebut. Sakti tentu saja kesal dengan jawaban Sintia barusan, Sakti mengatakan bahwa Sintia jangan menyakiti Valdo karena ia tahu bahwa temannya itu begitu mencintai Sintia namun Sakti tahu bahwa wanita ini sama sekali tidak mencintai Valdo, ia mendekati Valdo untuk sebuah alasan yang buruk.
“Aku mendekati Valdo karena aku mencintainya.”
“Apakah kamu pikir aku akan tertipu dengan ucapanmu itu?”
Sintia menyeringai dan kemudian merebut ponsel Sakti yang sejak tadi digenggam oleh pria itu, Sintia langsung menghapus percakapan antara Sakti dan Sintia barusan yang tentu saja membuat Sakti terkejut karena Sintia rupanya tahu bahwa sejak tadi Sakti berusaha merekam pembicaraan mereka berdua yang akan menjadi bukti pada Valdo.
“Kamu terlalu bodoh, Sakti. Apakah kamu pikir aku tidak tahu apa yang hendak kamu lakukan padaku saat ini?”
Sakti marah dengan yang dilakukan oleh Sintia barusan dan Sintia mengatakan bahwa jangan pernah sekali-kali Sakti mencoba bermain-main dengannya karena Sintia tetap akan mendapatkan apa pun yang ia inginkan.
“Aku terlalu pintar untuk dapat kamu tipu, Sakti.”
Sintia mengembalikan ponsel Sakti dan kemudian pergi meninggalkan pria itu, Sakti benar-benar kesal sekali dengan Sintia yang tahu rencananya namun kemudian Sakti mendapatkan telepon dari Ambar yang tentu saja Sakti langsung menjawab telepon dari Ambar itu.
“Ada apa, Ambar?”
“Sakti, ibuku sudah siuman.”
“Benarkah? Kalau begitu, aku akan segera pergi ke sana.”
Sakti segera mematikan sambungan teleponnya dan kemudian pergi menuju rumah sakit tempat di mana Warsinih dirawat, ketika ia tiba di sana nampak seluruh keluarga Ambar sudah berkumpul dan Warsinih memang nampak telah siuman. Ambar kemudian meminta waktu untuk bicara dengan Sakti sebentar diluar dan Sakti pun mengikuti Ambar untuk keluar.
“Ada apa, Ambar?”
“Tadi ibuku sempat mengatakan sesuatu sesaat setelah ia siuman.”
“Apa itu?”
****
__ADS_1
Fadi datang ke rumah sakit tempat di mana Warsinih dirawat karena ia merasa ikut sedih dengan kejadian buruk yang menimpa mantan besannya itu, kedatangan Fadi yang tak terduga itu rupanya membuat Ambar terkejut karena ia sama sekali tidak menyangka kalau Fadi akan datang untuk menjenguk ibunya. Sakti juga kebetulan masih berada di sana jadi pria itu tahu kedatangan mantan mertua Ambar, Sakti tentu saja curiga dengan kedatangan mantan mertua Ambar ini, Sakti masih ingat betul kalau dulu Fadi meminta Ambar untuk tetap bertahan dengan Regan namun untungnya saja Ambar memilih untuk tetap bercerai dengan Regan. Fadi memberikan sedikit bantuan untuk keluarga Ambar yang tentu saja membuat Ambar menjadi sungkan dengan hal itu namun Fadi meminta Ambar untuk jangan sungkan begitu.
“Tolong terimalah sedikit bantuan ini, semoga ini dapat berguna untuk kalian dikemudian hari.”
“Terima kasih banyak, Tuan. Saya tidak akan melupakan kebaikan hati anda.”
Fadi tersenyum dan kemudian ia pun segera berbalik badan dan pamit untuk pulang dari rumah sakit ini, Fadi sempat melirik sekilas ke arah Sakti sebelum pria itu berjalan meninggalkan rumah sakit ini.
“Apakah kamu tidak curiga dengan kedatangannya?” tanya Sakti sesaat setelah Fadi pergi.
“Apa yang sedang kamu bicarakan ini?”
“Maksudku adalah, apakah kamu lupa bahwa dulu dia pernah memintamu untuk tetap memertahankan rumah tangga dengan Regan?”
****
Helga sudah mengetahui apa yang suaminya lakukan yaitu menjenguk mantan besannya yang masuk rumah sakit. Tentu saja Helga marah besar saat tahu dan ketika Fadi sudah tiba di rumah, Helga langsung saja memarahi Fadi dan menanyakan kenapa suaminya itu membantu keluarga Ambar.
“Tentu saja aku marah karena kamu sudah membantu keluarga mereka, asal kamu tahu saja kalau selama ini wanita itu sudah bertindak buruk pada anak kita.”
“Apa maksudmu?”
Helga kemudian menceritakan semuanya pada sang suami mengenai tabiat buruk yang sudah dilakukan oleh Warsinih selama bertahun-tahun tanpa diketahui oleh mereka berdua. Fadi nampak terkejut dan ia mengatakan tidak percaya dengan semua yang dikatakan oleh Helga, tentu saja Helga sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut dan ia mempersilakan kalau sang suami ingin mencari bukti yang jauh lebih konkrit mengenai kejahatan apa yang telah Warsinih lakukan pada Regan.
“Silakan saja kalau kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan, tetapi ingatlah kata-kataku ini, jangan terkejut ketika kamu mengetahui yang sebenarnya mengenai apa yang disembunyikan oleh wanita itu selama ini.”
****
Sandrina menyambut kedatangan Regan seperti biasa di rumah, Regan nampak mengacuhkan Sandrina dan kemudian masuk ke dalam kamarnya dan Sandrina masih saja mengekori langkah kakinya masuk ke dalam kamar ini. Regan nampak tidak suka dengan yang Sandrina lakukan dan meminta Sandrina untuk pergi dari kamar ini namun Sandrina tidak mau melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Regan barusan.
“Regan, apakah kamu tidak mau memiliki anak dariku?”
__ADS_1
“Aku tidak mau memiliki anak lagi, cukup Daisy saja anakku.”
Sandrina nampak tidak puas hati dengan jawaban Regan barusan, ia tetap saja berusaha menggoda Regan supaya mau tidur dengannya dan memiliki anak darinya namun Regan dengan tegas mengatakan bahwa ia tidak mau melakukan itu.
“Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tidak ingin memiliki anak lagi selain Daisy, sekarang tinggalkan aku sendiri.”
Sandrina nampak menghela napasnya dengan kelakuan Regan ini namun sebelum ia pergi, Sandrina sempat menanyakan sesuatu pada Regan yang tentu saja membuat pria itu terkejut.
“Apakah kalau Ambar yang memintanya maka kamu bersedia?”
“Apa maksudmu menanyakan hal itu?”
“Sudahlah Regan, kamu jelas tahu apa yang menjadi pertanyaanku.”
Namun Regan tidak mau membahas mengenai hal tersebut, Regan meminta supaya Sandrina pergi sekarang juga dari hadapannya dan Sandrina pun kemudian pergi dari kamar ini.
****
Helga datang ke rumah sakit untuk menjenguk Warsinih namun tentu saja seperti biasa kedatangannya membuat Ambar menjadi waspada, Ambar memiliki firasat bahwa Helga yang telah melakukan hal buruk ini pada sang ibu dan oleh sebab itu, Ambar tidak mau kalau Helga melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
“Ada apa Nyonya datang ke sini?”
“Tentu saja aku datang untuk menjenguk ibumu yang sakit, bagaimana kondisinya?”
“Kondisi ibukuku sudah jauh lebih, dia sudah siuman.”
“Aku turut bahagia mendengarnya.”
Helga hendak masuk ke dalam ruangan inap Warsinih namun Ambar menghalangi wanita itu, Ambar meminta maaf dengan sikapnya ini namun Ambar mengatakan pada Helga bahwa ia tidak mau kalau wanita ini menyakiti ibunya.
“Kamu ini bicara apa, Ambar?”
__ADS_1
“Maaf, akan tetapi aku merasa bahwa anda menjadi dalang di balik kecelakaan yang menimpa ibuku, apakah aku salah?”