
Regan mendatangi rumah keluarga Ambar yang mana rumah ini adalah rumah kontrakan karena keluarga Ambar belum memiliki uang untuk memiliki rumah baru. Kedatangan Regan itu disambut oleh Ambar yang terkejut
ketika pria ini muncul di depan rumahnya setelah sekian lama mereka tak berjumpa. Ambar pun waspada kalau Regan ingin melakukan hal yang buruk pada keluarganya.
“Untuk apa Mas Regan datang ke sini?”
“Ambar, aku ingin bicara denganmu.”
“Apa yang perlu kita bicarakan, Mas?”
“Apakah kamu yakin ingin bercerai denganku?”
“Kenapa Mas menanyakan itu? Bukankah Mas sudah setuju kalau kita bercerai?”
“Iya, aku memang sudah setuju untuk kita bercerai namun apakah kamu ingin kita bercerai?”
Ambar menghela napasnya dan mengatakan bahwa keputusannya untuk bercerai dengan Regan sudah bulat dan ia tidak akan menyesalinya. Mendengar jawaban Ambar barusan membuat Regan seketika marah dan menuduh bahwa Ambar melakukan semua ini supaya dapat dekat dengan Sakti.
“Kok Mas Regan jadi menuduhku yang tidak-tidak, sih?”
“Sebab aku bicara fakta di sini, bukankah begitu Ambar? Kamu memang sengaja ingin bercerai denganku karena ingin dekat dengan pria itu kan?”
Ambar tidak habis pikir dengan pola pikir Regan saat ini, Ambar yang tidak ingin terjadi keributan di sini pun meminta pada Regan untuk pergi saja dari sini namun justru malah Regan jadi tambah marah pada Ambar dan menuduh Ambar yang bukan-bukan. Keributan itu membuat Warsinih keluar untuk melihat apa yang terjadi dan ia merasa kesal karena melihat Regan di rumah ini.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku ingin bicara dengan Ambar namun justru dia malah
mengatakan bahwa ingin tetap bercerai denganku dan memilih Sakti!”
“Keputusan Ambar untuk berpisah denganmu adalah sebuah keputusan yang benar, memangnya Ambar akan sanggup untuk bertahan lebih lama dengan sikapmu yang seperti ini?”
“Bu, sudahlah jangan membuat masalah semakin besar saja.”
“Kenapa? Ibu kan hanya mengatakan yang sebenarnya supaya pria ini tahu.”
****
__ADS_1
Sintia datang ke rumah dan tidak menemukan Regan di sini, Sintia penasran ke mana perginya Regan dan baru saja ia hendak menelpon Regan justru orang yang ingin sekali ia temui itu akhirnya muncul juga. Sintia langsung bertanya pada Regan dari mana saja dia namun Regan tidak mau menjawab dan raut wajahnya mengatakan bahwa ia sedang kesal sekali saat ini.
“Apa yang membuatmu kesal, sayang?”
“Kenapa kamu datang ke sini?”
“Tentu saja aku datang ke sini karena aku merindukanmu, memangnya kamu tidak merindukanku?”
“Aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun, tolong kamu mengerti akan hal itu.”
“Sebenarnya siapa yang membuatmu kesal begini, sih? Siapa tahu dengan kamu bercerita maka kamu akan merasa lebih lega.”
Regan tidak mau mengatakan siapa orang yang telah membuatnya kesal namun Sintia terus saja mengorek siapa orang yang telah membuat Regan kesal yang mana pada akhirnya Regan pun mengatakan bahwa orang
yang membuatnya kesal adalah Ambar. Ia pun kemudian menumpahkan kekesalannya pada Ambar karena wanita itu ingin tetap bercerai dengannya dan memilih Sakti. Sintia nampak terkejut dengan cerita Regan barusan, ia bukan terkejut kalau Ambar memilih Sakti namun ucapan Regan yang seolah mengisyaratkan pria ini masih tidak mau bercerai dengan Ambar.
“Mas, apakah kamu benar-benar tidak mau bercerai dengan Ambar?”
****
Warsinih mencak-mencak dengan Regan yang datang-datang langsung membuat keributan sementara Ambar berusaha menenangkannya, tidak banyak obrolan yang terjadi di meja makan pada malam ini dan selepas makan
“Halo, Sakti? Kenapa menelponku?”
“Tidak, apakah aku mengganggumu?”
“Tidak kok, memangnya ada apa?”
“Begini besok apakah kamu ada acara? Aku ingin kamu membantuku.”
“Tidak kok, baiklah besok aku akan membantumu.”
“Benarkah? Terima kasih banyak, Ambar.”
“Tidak masalah.”
Setelah obrolan singkat itu akhirnya berakhir, Ambar menutup sambungan teleponnya dan ia menghela napasnya panjang. Ambar sendiri sebenarnya penasaran apa yang akan dilakukan Sakti besok namun ia tak mau
__ADS_1
terlalu memikirkan hal tersebut dan memilih untuk segera tidur karena memang hari sudah larut malam. Keesokan paginya nampak Sakti sudah menjemputnya di rumah dan Warsinih segera bertanya pada Sakti apa yang akan dilakukan oleh pria itu pada Ambar namun Sakti mengatakan pada Warsinih untuk jangan khawatir.
****
Ambar dibawa menuju sebuah rumah oleh Sakti yang mana tentu saja Ambar merasa heran kenapa ia justru dibawa ke rumah ini oleh Sakti. Sakti sendiri bertanya pada Ambar mengenai rumah ini apakah rumah ini bagus
atau tidak dan tentu saja Ambar menjawab kalau rumah ini bagus, betapa terkejutnya Ambar ketika Sakti menyerahkan kunci rumah ini pada Ambar.
“Apa maksud semua ini, Sakti?”
“Tentu saja ini sekarang jadi rumahmu, Ambar.”
“Apa maksudmu, Sakti?”
“Rumah ini sebenarnya ingin dikontrakan oleh mamaku namun setelah kebakaran yang terjadi di rumahmu maka aku berpikir bahwa lebih baik kamu dan keluargamu dapat tinggal di rumah ini.”
Ambar menggelengkan kepalanya, ia mengembalikan kunci rumah ini pada Sakti dan mengatakan kalau ia tidak dapat menerima pemberian dari Sakti ini.
“Kenapa kamu tidak dapat menerimanya, Ambar? Apakah kamu tidak suka rumah ini?”
“Bukan seperti itu, hanya saja aku merasa tidak pantas mendapatkan ini, kamu sudah terlalu banyak melakukan kebaikan untukku dan keluargaku hingga membuatku menjadi tidak enak.”
Sakti nampak tersenyum dan kemudian mengatakan pada Ambar bahwa ia melakukan ini dengan ikhlas dan ia ingin Ambar menerima rumah ini namun Ambar menolaknya dan mengatakan ia tidak dapat menerima semua ini.
“Maafkan aku Sakti akan tetapi untuk hal ini aku tidak dapat melakukannya.”
****
Sintia marah sekali pada Regan karena pria itu seperti masih mencintai Ambar walaupun Regan mengelak namun Sintia bisa tahu bahwa pria itu masih mencintai Ambar dan tidak ingin berpisah dengannya. Sintia tidak dapat membiarkan Ambar dan Regan kembali bersatu dan perceraian mereka batal, ia mendekati Daisy dan berusaha merebut hati anak itu untuk membuat Daisy memiliki ikatan yang kuat dengannya hingga anak itu nantinya dapat menerimanya sebagai ibu sambungnya. Daisy yang memang sejak kecil sudah dekat dengan Sintia tidak
merasa aneh dan ia mau saja ketika diajak Sintia pergi karena selama ini Sintia selalu berlaku baik padanya hingga akhirnya Daisy pun meminta sesuatu pada Sintia.
“Tante aku boleh meminta sesuatu?”
“Apa yang kamu inginkan, sayang?”
“Bolehkah Tante mengantarkanku bertemu dengan mama?”
__ADS_1
“Apa?”