Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Permintaan Maaf


__ADS_3

Sintia menarik Ambar untuk ikut dengannya masuk ke dalam mobil walaupun Ambar sudah berusaha untuk melawan dan meronta namun Sintia tetap saja membawanya masuk ke dalam mobil akan tetapi sebelum Sintia berhasil melakukan aksinya, Farah memergoki aksi wanita itu dan meneriaki Sintia.


“Apa yang hendak kamu lakukan pada kakakku?”


“Kamu jangan ikut campur dalam masalahku ini!”


Farah tentu saja tak akan tinggal diam, ia tahu bahwa Sintia akan melakukan hal yang buruk pada kakaknya dan oleh sebab itu dirinya langsung menarik Ambar untuk ikut dengannya namun Sintia tidak tinggal diam, ia tidak mau melepaskan Ambar begitu saja.


“Apa yang hendak kamu lakukan pada kakakku?”


“Aku sudah mengatakan padamu untuk jangan ikut campur dalam masalah pribadiku!”


“Kalau kamu tetap memaksa kakakku untuk ikut denganmu, maka aku akan panggil warga! Kamu akan dalam masalah besar saat ini!”


Sintia merasa kesal dengan tindakan Farah ini, Sintia kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan ternyata Sintia membawa sebuah senjata api dan menodongkan senjata api itu pada Farah.


“Kalau kamu masih berkeras untuk menghalangiku maka jangan salahkan aku kalau nyawamu akan melayang saat ini!”


“Silakan saja, lakukan itu kalau aku mati maka aku akan menghantuimu seumur hidupmu, kamu tidak akan pernah tenang setelah berhasil membunuhku!”


Ambar berusaha menahan Sintia supaya jangan melakukan kekerasan pada adiknya, Ambar memohon pada Sintia dan Sintia mengatakan supaya Ambar mau ikut dengannya.


“Jangan dengarkan apa yang dia katakan, Kak.”


Farah berusaha menahan Ambar untuk jangan ikut dengan Sintia, kini Ambar jadi dilema yang mana harus ia dengarkan saat ini namun di tengah kekalutannya itu nampak Danu yang datang dan melerai perdebatan mereka.


“Sintia, bisakah kita bicara baik-baik saat ini?”


“Aku tak mau bicara apa pun dengan kalian semua, aku membenci kalian!”


Namun Danu malah melakukan sesuatu hal yang membuat Sintia terkejut yaitu memeluknya, Danu meminta maaf atas nama mendiang istrinya.

__ADS_1


“Tolong kamu maafkan mendiang istriku, ya?”


****


Sintia seketika terkejut dengan apa yang Danu lakukan ini, Danu menangis dan memohon Sintia memaafkan mendiang istrinya yang sudah berbuat banyak salah padanya. Bahu Sintia bergetar, dadanya terasa begitu sesak dan air matanya tumpah begitu saja mendengar permintaan maaf dari seorang Danu. Perlahan Sintia memeluk tubuh Danu dan menangis dalam pelukan itu, Farah dan Ambar hanya dapat memerhatikan mereka dan air mata mereka pun ikut turun setelah kejadian ini.


“Hiks, kenapa dia memerlakukanku seperti itu? Kenapa?!” jerit Sintia.


“Aku tahu bahwa kamu masih mendendam pada mendiang istriku dan apa yang dilakukan oleh istriku memang tidak dapat dibenarkan, aku sudah berusaha bicara dengannya supaya jangan pernah membeda-bedakanmu dengan kedua anakku namun dia keras kepala menganggapmu sebagai orang asing. Aku sudah berusaha meyakinkannya bahwa dia harus menganggapmu sebagai anak kandungnya sendiri namun aku tidak berhasil hingga kamu bisa menjadi seperti ini, ini semua adalah salahku. Kalau memang kamu ingin membunuh seseorang maka bunuh saja aku, aku yang membuat semua ini terjadi.”


Sintia menggelengkan kepalanya, ia mengatakan bahwa Danu tidak bersalah sama sekali dalam hal ini, ia meminta maaf atas semua hal buruk yang telah ia lakukan pada Danu.


“Aku minta maaf, aku minta maaf karena sudah bersikap buruk padamu selama ini.”


****


Sakti sudah dibawa ke rumah sakit akibat apa yang sudah Sintia lakukan padanya, kini Sakti sudah siuman dan ketika ia membuka kedua matanya untuk pertama kali, ia melihat Ambar yang tengah menungguinya dengan cemas di kursi dekat ranjang di mana ia tidur.


“Sakti, kamu sudah siuman? Syukurlah.”


“Iya, aku baik-baik saja, kamu tak perlu mengkhawatirkanku.”


“Lalu bagaimana dengan Sintia?”


Ambar mengatakan pada Sakti bahwa Sintia sudah berhasil ditangani dan Sakti tak perlu merisaukan oleh wanita itu, Sakti tentu saja penasaran dengan apa yang telah terjadi saat ia tak sadarkan diri namun Ambar mengatakan bahwa nanti ia akan menceritakan semuanya pada Sakti.


“Aku ingin menemui dokter dulu dan mengatakan kalau kamu sudah siuman.”


Ambar kemudian pergi keluar ruangan inap untuk menemui dokter dan mengatakan kalau suaminya sudah siuman, ketika kembali nampak Ambar datang bersama dokter dan perawat yang mana dokter dan perawat itu akan memeriksa bagaimana keadaan Sakti saat ini. Setelah memeriksa bagaimana keadaan Sakti, dokter mengatakan kalau tidak ada keluhan yang berarti nanti Sakti sudah diizinkan pulang ke rumah.


“Terima kasih banyak, dokter.”

__ADS_1


“Tidak masalah, saya permisi dulu.”


Ambar dan Sakti tentu saja lega mendengar ucapan dokter yang mengatakan kalau Sakti bisa segera pulang hari ini dan tak perlu dirawat.


****


Sintia mendatangi rumah di mana Danu dan Farah tinggal, di sana Danu memerlakukan Sintia dengan baik dan menganggapnya seperti anaknya sendiri yang mana Sintia jadi merasa tidak enak dengan sikap Danu yang seperti ini padahal Sintia sudah berlaku buruk pada keluarganya sejak dulu.


“Kamu jangan sungkan begitu, kita ini kan keluarga.”


“Tapi aku sudah melakukan hal yang buruk.”


“Kamu tak perlu merisaukan soal hal itu, Ambar pasti akan memaafkanmu begitu pula dengan Farah, mereka sama sekali tidak membencimu.”


“Tapi aku sudah melakukan hal yang buruk pada mereka, bagaimana bisa mereka tidak membenciku?”


Farah kemudian pergi menemui Sintia dan mengatakan bahwa ia tak membenci Sintia karena ayahnya yang memintanya untuk melakukan itu. Farah mengatakan bahwa selama ini ayahnya selalu mengajarkan untuk menganggap Sintia sebagai kakaknya dan Ambar pun juga melakukan hal yang sama.


“Kamu tahu? Walaupun ibu selalu saja mencekokiku untuk membencimu dan bersikap tidak baik padamu namun Ayah dan kak Ambar selalu mengatakan aku tak boleh membencimu, aku harus menyayangimu dan aku harus menganggapmu seperti kakakku sendiri walaupun itu sulit setelah apa yang sudah kamu lakukan pada rumah tangga kakakku dulu.”


“Aku minta maaf.”


****


Sakti sudah diizinkan pulang oleh dokter dan Ambar juga sudah mengabarkan keluarganya bahwa Sakti sudah boleh pulang, tidak lama setelah mereka sampai di rumah nampak Farah dan Danu tiba di rumah ini untuk menjenguk Sakti, mereka khawatir dengan keadaan Sakti setelah tahu apa yang terjadi pada pria ini.


“Kamu baik-baik saja kan? Dokter mengatakan tidak ada luka yang serius kan?”


“Iya Ayah, aku baik-baik saja,” jawab Sakti.


“Syukurlah kalau begitu.”

__ADS_1


Danu kemudian mengatakan bahwa ia membawa seseorang dan orang itu ingin mengatakan sesuatu pada Sakti, tentu saja Sakti penasaran dengan siapa orang yang sedang Danu bicarakan ini.


“Masuklah,” ujar Danu dan kemudian orang itu pun masuk, Sakti nampak terkejut dengan sosok yang dimaksud oleh Danu ini.


__ADS_2