
Ambar tentu saja tak menyangka kalau ketika Sakti masih ada di sini justru suaminya sudah kembali ke rumah dan tentu saja seperti yang telah ia duga sebelumnya kalau Regan pasti akan marah besar karena mendapati seorang pria asing di rumahnya.
“Siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada di rumahku?” tanya Regan tajam pada Sakti.
“Kamu pasti suaminya Ambar kan? Aku Sakti, temannya Ambar,” jawab Sakti seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Regan namun Regan tak mau berjabat tangan dengan Sakti dan malah mengusir pria
ini dari rumahnya.
“Keluar kamu sekarang juga dari rumahku!”
“Baiklah, aku akan segera pergi, nanti akan aku hubungi kamu.”
Setelah mengatakan itu pada Ambar maka Sakti pun keluar dari rumah ini dan selepas Sakti keluar barulah Regan menarik tangan Ambar untuk masuk ke dalam kamar, di sana Regan mendorong tubuh Ambar hingga jatuh ke kasur.
“Siapa pria itu?! Apakah dia itu selingkuhanmu? Berani sekali kamu membawa selingkuhanmu ke rumah ini!”
“Mas itu bukan selingkuhanku, dia itu temanku.”
“Apakah kamu pikir aku akan memercayaimu begitu saja? Kamu pasti berbohong kan?!”
“Tidak Mas, aku bersumpah bahwa Sakti adalah temanku, kami tidak memiliki hubungan spesial apa pun.”
Namun Regan tak mau mendengarkan penjelasan dari Ambar yang menurutnya hanya sedang mencari alasan saja untuk membodohinya. Regan mengatakan bahwa Ambar jangan pernah menemui Sakti lagi atau kalau Ambar berani melakukan itu maka sesuatu hal yang buruklah yang akan terjadi. Selepas mengatakan itu Regan pergi dari kamar Ambar dan pergi menuju kamar tamu, Ambar sendiri menangis tersedu-sedu setelah mendapatkan perlakuan tidak baik dari Regan, selama mereka menikah baru kali ini Regan bersikap kasar dan menuduhnya
yang tidak-tidak padahal ia sudah mengatakan yang sebenarnya bahwa ia dan Sakti memang tidak memiliki hubungan apa pun.
“Mas, kenapa kamu berubah begini, hiks?” isak Ambar.
Ambar melirik ke arah ponselnya yang berdering, ketika ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya ia tidak mau menjawab telepon tersebut.
****
Sakti merasa heran karena Ambar tidak mau menjawab telepon darinya, ia sudah mencobanya beberapa kali namun Ambar tetap saja tak mau menjawab telepon darinya.
“Apakah suaminya tidak mengizinkannya untuk menjawab telepon dariku?”
__ADS_1
Sakti menghela napasnya panjang dan kemudian memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian, setelah ia selesai mandi dan berganti pakaian kembali lagi Sakti mengecek ponselnya apakah ketika tadi ia ada di kamar mandi Ambar menelponnya balik namun ternyata Ambar sama sekali tidak menelponnya balik dan hal tersebut cukup membuat Sakti kecewa.
“Kenapa Ambar tidak menelponku balik, ya? Apakah dia baik-baik saja?”
Sakti agak khawatir dengan Ambar sebenarnya karena tadi ketika ia pergi dari rumah itu, suaminya sedang salah paham pada Ambar dan sepertinya wanita itu akan mendapatkan perlakuan buruk akibat suaminya yang tempramental.
“Semoga saja tidak ada sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.”
Bel pintu apartemen Sakti berbunyi, Sakti pun berjalan menuju pintu untuk melihat siapa gerangan yang datang pada malam ini dan ketika melihat monitor dekat pintu yang terhubung dengan kamera CCTV depan pintu, Sakti dapat melihat dengan jelas siapa tamunya yang datang malam ini.
“Mama tahu kalau kamu ada di dalam, buka pintunya.”
Sakti menghela napasnya dan kemudian membukakan pintu untuk sang mama, tanpa membuang waktu mamanya langsung masuk ke dalam.
****
Warsinih kembali datang ke rumah Ambar untuk memastikan kalau putrinya baik-baik saja namun rupanya Ambar sedang tidak baik-baik saja, Warsinih tentu saja geram dan ingin bicara dengan menantunya supaya Ambar dapat bercerai dengannya namun Ambar malah menghalangi niat sang ibu.
“Bu, tolong jangan lakukan ini, aku kan sudah mengatakan pada Ibu bahwa aku akan mengurus semuanya.”
“Ibu tidak bisa diam lagi, pria itu sudah keterlaluan padamu, pokoknya Ibu harus memintanya untuk segera bercerai denganmu.”
“Aku sampai kapan pun tidak akan pernah menceraikan Ambar, ini semua hanya salah paham saja.”
“Apa katamu? Semua ini hanya salah paham saja? Ya ampun, aku tidak percaya hal ini.”
“Bu, aku sudah mengatakan padamu bahwa aku akan mengurus semua ini,” ujar Ambar.
“Pokoknya Ibu tidak bisa tinggal diam begitu saja, Nak. Kamu dan pria ini harus bercerai bagaimanapun caranya, Ibu tidak mau kalau sampai kamu menderita terlalu lama lagi.”
“Bu, tolong jangan bicara seperti itu, aku akan mengurusnya, Ibu tak perlu khawatir.”
****
Regan nampak kesal dengan ucapan ibu mertuanya, Regan kemudian menyindir Warsinih dengan mengatakan bahwa Warsinih hanya benalu dalam rumah tangganya dan Ambar selama ini yang membuat Warsinih tentu saja kesal dan tak terima dengan ucapan sang menantu.
__ADS_1
“Apa maksudmu mengatakan itu?”
“Maksudku adalah selama ini apakah uang bulanan yang dikirim olehku tidaklah cukup untuk kebutuhan sehari-hari hingga Ibu menyuruh Ambar untuk mencari selingkuhan lain?”
“Apa maksudmu menuduh anakku berselingkuh? Justru kamu yang berselingkuh dengan Sintia, sebuah perbuatan yang sangat menjijikan sekali!”
“Asal Ibu tahu saja kemarin aku memergoki Ambar bersama dengan pria lain di rumah ini dan dia adalah selingkuhannya.”
Warsinih terkejut dengan ucapan Regan barusan namun Ambar buru-buru membantahnya dan mengatakan pada sang ibu bahwa ucapan Regan itu sama sekali tidak benar.
“Benarkah? Aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri namun kamu masih saja mau mengelak dengan fakta itu?”
“Aku memang kemarin menemui temanku namun bukan artinya kami memiliki hubungan spesial seperti yang kamu pikirkan, Mas.”
“Sudahlah Ambar, kamu tidak perlu mengelak lagi, toh nyatanya kita sama-sama tidak setia kan? Jadi untuk apa kamu begitu ngotot untuk bercerai denganku? Apakah karena pria itu lebih tampan dariku? Kalau memang iya
apakah dia sanggup membiayai keluargamu yang miskin itu?”
****
Warsinih begitu sakit hati dengan ucapan menantunya yang mengatakan bahwa keluarga mereka miskin apalagi Regan juga menuduh putrinya berselingkuh padahal ia tahu sekali bahwa Ambar tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu.
“Bu, sudahlah.”
“Bagaimana mungkin selama ini Ibu salah dalam mengenali menantu Ibu sendiri? Ibu pikir Regan orang yang baik dan mencintaimu dengan tulus namun sekarang, lihatlah dia.”
“Bu aku ….”
“Pokoknya Ibu mau kamu dan Regan segera berpisah bagaimanapun caranya.”
“Aku ….”
“Apa? Jangan bilang kalau semua yang Regan katakan itu benar.”
“Tentu saja tidak Bu, hanya saja mas Regan tidak mau berpisah denganku, dia ngotot ingin memertahankan rumah tangga kami.”
__ADS_1
Tiba-tiba saja Helga datang ke rumah ini dengan raut wajah marah dan tanpa mengatakan apa pun ia langsung menampar wajah Ambar yang membuat Warsinih terkejut.
“Apa yang kamu lakukan pada putriku?!”