
Ambar nampak terkejut ketika menemukan sosok Valdo dan juga Sakti di dalam ruangan inap ini, Ambar sendiri kemudian berjalan menghampiri Sakti dan bertanya kenapa Valdo bisa ada di sini dan Valdo pun menjelaskan bahwa ia dan Sakti berteman. Ambar tentu saja terkejut dengan fakta ini karena selama ini ia tidak pernah mengetahuinya namun kemudian Sakti bertanya pada Ambar mengenai kenapa Ambar bisa ke sini.
“Sintia mengatakan bahwa kondisimu kritis dan oleh sebab itu aku datang ke sini.”
“Sintia mengatakan itu?”
“Iya, Sintia yang mengatakan itu.”
“Lantas bagaimana kamu bisa keluar dari rumah?”
Ambar menceritakan semuanya pada Sakti dan Sakti sendiri nampak heran ketika dengan mudahnya Regan memberikan izin pada Ambar untuk pergi keluar menjenguknya di rumah sakit ini namun ia bersyukur akan hal
tersebut karena saat ini ia dapat bertemu lagi dengan Ambar. Ambar sendiri merasa dirinya dipermainkan oleh Sintia dan sejujurnya ia tidak dapat menerima ini, ia kemudian segera pulang setelah memastikan bahwa Sakti baik-baik saja namun ketika ia kembali ke rumah nampak Helga yang tengah menunggunya di sana.
“Mama?”
“Kamu dari mana?”
“Aku habis menjenguk temanku yang sakit, Ma.”
Helga nampak marah dengan ucapan Ambar barusan dan kembali menampar menantunya, Ambar terkejut dengan yang Helga lakukan ini. Ambar tidak paham kenapa Helga menamparnya padahal ia sudah mengatakan yang
sejujurnya.
“Itu bukan temanmu namun selingkuhanmu kan?”
“Tidak Ma, dia benar-benar temanku.”
“Kamu masih saja mau bersilat lidah denganku, kamu pikir aku ini bodoh?!”
Ambar merasa sedih karena Helga tidak memercayainya sementara itu Regan yang menyaksikan Ambar dimarahi dan dihina oleh Helga nampak menyeringai puas karena rencananya berhasil kini Helga semakin membenci
Ambar dan pasti mamanya itu akan semakin menekan Ambar hingga wanita itu menjadi gila.
“Kamu pikir aku dengan mudahnya akan melepaskanmu dari semua penderitaan ini Ambar? Tidak akan pernah!”
****
Helga kemudian meminta Ambar untuk menyetujui bahwa ia dan Regan harus segera bercerai namun Regan muncul dan mengatakan bahwa ia dan Ambar tidak akan pernah bercerai. Helga benar-benar tidak habis pikir dengan Regan yang ingin memertahankan rumah tangga ini dan Regan pun mengatakan pada Helga bahwa ini adalah rumah tangganya jadi mamanya tidak boleh ikut campur terlalu dalam. Helga sendiri nampak menghela napasnya kesal karena ucapan Regan barusan namun kemudian ia tidak dapat melakukan apa pun kecuali menuruti apa yang diinginkan oleh Regan.
“Baiklah kalau memang itu yang menjadi keputusanmu namun Mama harap kamu bisa segera berpisah dengan Ambar, Mama sudah muak sekali dengan wanita ini.”
__ADS_1
“Terima kasih karena Mama sudah mau mendengarkanku.”
Helga kemudian pamit undur diri dan meninggalkan Regan serta Ambar di sini, selepas mamanya pergi kini Regan menyeringai puas karena telah membuat Ambar diomeli dan dihina habis-habisan oleh mamanya. Ambar tidak
dapat menahan tangisnya di depan Regan, ia menanyakan kenapa Regan menyiksanya seperti ini dan Regan dengan santainya mengatakan bahwa ia melakukan semua ini karena Ambar yang memulainya.
“Andai kamu tidak macam-macam denganku maka aku tentu tidak akan melakukan hal ini, Ambar.”
“Ceraikan saja aku, Mas! Aku sudah tidak sanggup lagi menjalani semua ini.”
“Apa katamu? Kamu ingin bercerai denganku? Tentu saja tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah mau menceraikanmu!”
****
Helga baru saja tiba di rumah dan langsung menemukan suaminya tengah menunggunya sejak tadi, Fadi bertanya pada Helga dari mana saja wanita ini dan Helga mengatakan bahwa ia baru saja keluar menemui Regan.
“Regan? Apakah dia ada di rumah?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku ingin menemuinya sekarang juga.”
“Untuk apa kamu ingin menemuinya?”
memberitahu hal ini.
“Nak, papamu dalam perjalanan ke sana.”
“Mama juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan akan tetapi kamu bersiaplah.”
Helga kemudian menutup sambungan teleponnya dan berharap semoga saja tidak ada hal buruk yang suaminya lakukan pada Regan.
“Semoga saja ini hanya ketakutanku saja.”
Fadi akhirnya tiba di rumah Regan dan langsung disambut oleh Regan sendiri, Fadi sendiri nampak menatap sekeliling seperti tengah mencari sesuatu.
“Papa mencari siapa?”
“Papa mencari Ambar, di mana dia?”
Regan tentu saja terkejut dengan jawaban sang papa barusan,ia tak paham kenapa papanya justru ingin bertemu dengan Ambar saat ini.
__ADS_1
“Kenapa Papa ingin menemui Ambar? Memangnya ada masalah apa, Pa?”
“Apakah dia ada di dalam? Cepat panggilkan dia karena Papa ingin bicara dengannya.”
****
Ambar terkejut ketika papa mertuanya datang ke rumah ini, ia sama sekali bingung dan tak tahu apa yang akan dibicarakan oleh papa mertuanya hingga ia tidak memiliki pilihan lain selain menemui sang papa mertua, Ambar berjalan perlahan menemui Fadi di ruang tengah rumah ini dan ada Regan di sana yang juga duduk menunggunya. Ambar duduk di sofa yang agak jauh dari Regan dan kemudian bertanya pada Fadi mengenai kenapa papa mertuanya datang dan ingin menemuinya di sini.
“Kamu tidak tahu apa alasanku datang ke sini, Ambar?”
“Tidak Pa, saya tidak tahu.”
“Alasan kenapa aku datang ke sini adalah untuk menanyakan sesuatu padamu mengenai putraku.”
“Apa?”
“Apakah selama ini dia berbuat baik padamu?”
Ambar terkejut dengan pertanyaan dari papa mertuanya ini, ia melirik ke arah Regan yang memberikan kode pada Ambar untuk mengatakan bahwa ia baik pada Ambar dan Ambar tidak menjawab dengan mudah pertanyaan dari
papa mertuanya ini.
“Kenapa kamu tidak menjawabnya Ambar? Apakah Regan memang tidak pernah memerlakukanmu dengan baik?”
“Pa, tentu saja aku memerlakukan Ambar dengan baik.”
“Papa tidak bicara denganmu, Regan. Jadi tutup mulutmu.”
Regan terdiam mendengar ucapan papanya barusan dan kini Ambar berkeringat, ia ingin mengatakan semua kejujuran pada papa mertuanya namun apakah ia akan sanggup menanggung semua konsekuensinya?
****
Ambar menghela napasnya berat dan kemudian ia pun memilih untuk mengatakan yang sejujurnya pada papa mertuanya mengenai kelakuan Regan. Tentu saja Regan terkejut dan tak menyangka bahwa Ambar berani sekali
tidak melakukan seperti apa yang ia perintahkan barusan. Fadi tentu saja marah besar pada Regan yang sudah melakukan sesuatu hal yang buruk pada Ambar walaupun Regan sudah membela dirinya dan mengatakan bahwa Ambar hanya melakukan fitnah saja namun papanya tidak mau memercayai begitu saja.
“Pa, kenapa Papa lebih percaya pada apa yang Ambar ucapkan dari padaku?”
“Karena Papa yakin bahwa Ambar benar, lagi pula kenapa kamu berselingkuh dengan Sintia padahal kamu sudah memiliki istri dan anak, Regan?”
“Itu semua bukan salahku, semua itu salah wanita itu yang menggodaku, Pa! Aku juga korban di sini.”
__ADS_1
“Berhenti membuat dirimu semakin menyedihkan, Regan.”