
Warsinih nampak tidak dapat berkutik karena Ambar sepertinya telah mengetahui semuanya berkat informasi yang Regan berikan padanya. Ambar kini meminta sang ibu untuk jujur mengenai semua yang dikatakan oleh mantan suaminya itu, Warsinih pun akhirnya jujur bahwa selama Ambar dan Regan menikah, ia memanfaatkan kekayaan Regan untuk melakukan apa yang ia mau. Semua uang yang diberikan oleh Ambar padanya memang ditabung namun sebenarnya Warsinih meminta uang lebih pada Regan untuk membeli barang-barang yang tidak seperlunya ia beli. Mendengar ucapan sang ibu mengenai kejujuran itu membuat hati Ambar begitu sedih, ia tak menyangka bahwa rupanya sang ibu akhirnya mau jujur padanya setelah sekian lama juga.
“Maafkan Ibu, Nak.”
Namun Ambar tidak mengatakan apa pun, ia memilih untuk segera berlalu masuk ke dalam kamarnya dan mengurung diri. Warsinih tentu saja begitu sedih dengan kenyataan ini, ia tak menyangka bahwa Regan pada akhirnya memberitahukan Ambar yang sebenarnya mengenai apa yang selama ini dilakukan olehnya. Danu menghampiri sang istri dan bertanya apa yang terjadi pada sang istri, Warsinih menceritakan semuanya pada sang suami dan Danu hanya dapat menghela napasnya, sebelumnya Danu sudah mencoba memperingatkan istrinya bahwa jangan main-main dengan keluarga itu namun karena Warsinih tak mau mendengarkan apa yang ia katakan maka istrinya itu harus menanggung semua ini.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Ambar sepertinya begitu kecewa padaku.”
“Tidak ada yang dapat kamu lakukan saat ini, biarkan saja Ambar menenangkan dirinya karena pasti ia sangat terkejut dengan kenyataan ini.”
Warsinih pun mengiyakan apa yang Danu katakan karena sepertinya memang saat ini Ambar membutuhkan waktu untuk dapat menerima semua kenyataan pahit ini. Akhirnya Danu dan Warsinih pun pergi ke kamar mereka dan di dalam kamarnya Ambar nampak menangis meratapi kenyataan yang harus ia terima saat ini.
“Kenapa ibu melakukan semua ini? Kenapa?”
Ambar masih saja terus menangis hingga ia terlelap tidur karena saking lelahnya menangis semalaman.
****
Ketika pagi hari tiba nampak Ambar sudah siap untuk pergi ke toko, Warsinih mencoba bicara dengan Ambar namun Ambar mengatakan bahwa kalau sang ibu ingin bicara maka nanti saja karena ia harus segera pergi ke toko. Tentu saja Warsinih tahu bahwa Ambar hanya mencari alasan saja supaya tidak bicara dengannya, hati Warsinih sakit dengan sikap Ambar ini namun ia tidak dapat melakukan apa pun karena memang itulah yang diinginkan oleh putrinya. Ambar pun berpamitan untuk segera pergi ke toko dengan raut wajah sedih, walau sudah tidak ada air mata yang menggenang namun mata Ambar bengkak karena menangis semalaman dan rupanya pemiliki toko mengetahui mengenai hal tersebut.
“Apa yang terjadi padamu, Ambar?”
__ADS_1
“Bukan apa-apa, Bu.”
Tentu saja Ambar tak mau sampai masalah pribadinya menjadi diketahui oleh orang lain, bagaimanapun juga Ambar berusaha sekali untuk menutupi masalah pribadinya supaya orang lain tidak tahu karena ia tak mau membongkar aib keluarganya sendiri. Pemilik toko kemudian tidak lagi memaksa Ambar untuk mengatakan apa yang terjadi padanya namun pemilik toko berpesan pada Ambar jika memang Ambar sedang sakit atau tidak enak badan maka jangan segan untuk mengatakannya supaya ia bisa diizinkan pulang. Ambar hanya menganggukan kepalanya patuh dengan ucapan pemilik toko tersebut sebelum akhirnya sang pemilik toko pun pergi dari sini.
****
Warsinih tidak dapat tenang setelah apa yang terjad di antara dirinya dan Ambar, walaupun sang suami sudah mencoba menenangkannya namun tetap saja Warsinih tidak bisa tenang karena hubungannya dengan sang putri sedang berada diujung tanduk. Warsinih tidak mau kalau selamanya Ambar akan membencinya dan oleh sebab itu ia mencoba menyusul Ambar ke toko dan bicara dengan putrinya namun ketika tiba di toko nampak ada Sakti yang tengah berbincang dengan Ambar yang membuat Warsinih jadi tidak enak untuk masuk ke sana, ia memutuskan untuk berbalik badan dan justru malah bertemu dengan Sintia.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Warsinih pada Sintia.
“Aku tentu saja mau menemui Ambar, memangnya apa lagi,” jawab Sintia santai.
Warsinih tentu saja tidak akan membiarkan Sintia untuk melakukan tindakan kasar pada Ambar, ia meminta Sintia untuk pergi selagi ia mengatakannya dengan baik-baik namun Sintia menolak tu. Sintia mengatakan bahwa ia tetap ingin menemui Ambar karena ia ingin bicara sesuatu dengan Ambar namun tentu saja Warsinih tidak mengizinkannya, ia tahu bahwa ini hanya siasat Sintia saja.
“Aku sama sekali tidak menipu, aku ingin bicara dengan Ambar dan aku tidak memiliki niat jahat padanya.”
****
Akhirnya Sakti keluar dari toko dan mendapati kegaduhan antara Sintia dan Warsinih, Sakti bertanya apa yang terjadi di sini dan Warsinih kemudian mengatakan bahwa Sintia hendak melakukan hal yang buruk pada Ambar namun Sintia menolak apa yang dikatakan oleh Warsinih barusan, Sintia mengatakan bahwa ia datang ke sini untuk bicara baik-baik dengan Ambar.
“Justru harusnya kamu jangan terlalu percaya dengan yang wanita ini katakan Sakti, apakah kamu tahu apa yang selama ini ia lakukan pada mas Regan?”
__ADS_1
“Apa maksudmu, Sintia? Jangan bicara yang tidak-tidak pada Sakti,” geram Warsinih.
“Kalau Sakti belum tahu maka aku akan memberitahunya, asal kamu tahu saja wanita ini menggunakan mas Regan sebagai mesin ATM berjalannya, mas Regan menderita secara finansial akibat wanita mata duitan ini namun bodohnya mas Regan masih memertahankan rumah tangganya dengan Ambar karena cinta.”
“Jangan bicara sembarangan soal aku, Sintia!”
“Aku sama sekali tidak bicara sembarangan, kalau kamu tidak percaya maka silakan kamu tanyakan saja pada mas Regan, dia akan berbicara secara gamblang padamu. Saranku adalah jangan nikahi Ambar karena wanita mata duitan ini akan menjadi benalu dalam rumah tangga kalian seperti yang pernah ia lakukan pada mas Regan.”
“Berani sekali kamu mengataiku!” ujar Warsinih yang hendak menampar Sintia namun Sintia menahan tangan wanita itu dan mendorong Warsinih sampai jatuh.
“Kamu jangan pernah sekalipun menyentuh wajahku!” seru Sintia seraya berjalan masuk ke dalam toko di mana Ambar berada sementara Sakti membantu Warsinih bangun.
****
Sakti mengantarkan Warsinih sampai ke rumah, Warsinih berterima kasih pada Sakti karena telah mau mengantarkannya pulang ke rumah sebelum turun dari mobil ini nampak Warsinih berpesan pada Sakti untuk jangan percaya dengan yang dikatakan oleh Sintia barusan dan Sakti hanya menganggukan kepalanya.
“Terima kasih banyak karena kamu telah mengantarkanku, ya.”
“Iya Bu, tidak masalah.”
“Hati-hati mengemudi.”
__ADS_1
Warsinih kemudian turun dari dalam mobil Sakti dan masuk ke dalam rumahnya dan Sakti pun melajukan kendaraannya meninggalkan rumah tersebut, sepanjang perjalanan pulang Sakti jadi teringat percakapannya dengan Ambar di toko tadi.
“Apa yang harus aku lakukan saat ini?”