Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Janjiku


__ADS_3

Warsinih nampak begitu penasaran dengan apa yang saat ini tengah terjadi pada Ambar walaupun anaknya ini telah mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi padanya namun tentu saja Warsinih tidak memercayainya begitu saja. Tingkah Ambar yang menunjukan bahwa ia tidak baik-baik saja tentu mudah untuk Warsinih ketahui hingga akhirnya Warsinih meminta Ambar untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Ada apa sebenarnya, Nak?”


Ambar nampak ragu pada mulanya untuk mengatakan apa yang menjadi beban pikirannya pada sang ibu namun karena Ambar ingin mendengar masukan dari orang lain maka akhirnya Ambar pun mau menceritakan apa yang saat ini tengah ia pikirkan yaitu mengenai kemungkinan Sintia berselingkuh dengan Sakti.


“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal tersebut, Nak?”


Ambar kemudian menyodorkan foto pada ibunya dan tentu saja setelah melihat foto itu membuat Warsinih terkejut, Ambar mengatakan bahwa ia percaya pada Sakti bahwa ia tidak mungkin mengkhianatinya namun tetap saja Ambar takut kalau masa lalu yang buruk itu kembali terulang dalam rumah tangganya kini.


“Kamu percaya pada suamimu?”


“Tentu saja Bu, hanya saja aku khawatir.”


Warsinih berusaha menenangkan Ambar bahwa semua itu hanya pikiran buruk Ambar saja dan Ambar hanya menganggukan kepalanya, Ambar berharap bahwa memang semua ini hanya pikiran buruknya saja karena kalau sampai kejadian buruk di mana Sintia berselingkuh dengan Regan kembali terulang dalam pernikahannya yang kedua tentu saja akan membuat hati Ambar sangat hancur sekali.


“Kamu tidak perlu memikirkan hal ini terlalu berlarut-larut, Ibu yakin semua ini hanya salah paham saja.”


“Iya Bu, aku mengerti. Trauma itu masih menghantuiku dan ternyata aku belum siap jika Sintia kembali merusak rumah tanggaku untuk kali kedua.”


Warsinih tersenyum dan menenangkan putrinya dengan cara memeluknya, Ambar dapat sedikit bernapas lega saat ini dan dapat kembali berpikir dengan jernih. Ia berterima kasih pada sang ibu yang telah membuatnya nyaman seperti ini.


“Tidak masalah, Nak.”


****


Warsinih pada akhirnya meminta waktu untuk bicara dengan menantunya perihal apa yang terjadi pada Ambar tadi. Warsinih bukan tidak memercayai bahwa menantunya ini akan mencoba mengkhianati putrinya hanya saja Warsinih berusaha menjaga perasaan Ambar bahwa itu semua memang tidaklah benar.


“Tentu saja aku dan Sintia tidak ada hubungan apa pun, Bu. Percayalah.”

__ADS_1


“Aku percaya padamu namun sepertinya Ambar takut kalau kejadian buruk di masa lalu pernikahannya kembali terulang pada pernikahannya kali ini.”


Sakti mengatakan bahwa ia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Warsinih, Sakti berjanji tidak akan membiarkan Ambar kembali terluka untuk kedua kalinya karena Sakti benar-benar mencintainya. Warsinih nampak menganggukan kepalanya dan mengatakan bahwa ia memercayai Sakti dan memohon pada Sakti untuk tidak merusak kepercayaan yang telah ia berikan ini.


“Tentu saja Bu, aku tidak akan pernah mengkhianati Ambar karena dia adalah satu-satunya wanita dalam hidupku.”


Akhirnya obrolan mereka pun berakhir dan Sakti sendiri seperti masih memiliki tanggung jawab penjelasan pada Ambar mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan Sintia lewat foto yang dikirimkan oleh seseorang itu.


“Sakti, untuk apa kamu datang ke sini?” tanya Ambar terkejut saat Sakti datang ke tempatnya bekerja.


“Ibu barusan menceritakan sesuatu padaku dan oleh sebab itu aku datang ke sini,” jawab Sakti.


“Apa yang Ibu katakan padamu?”


Sakti pun menceritakan semuanya pada Ambar yang mana mendengar cerita Sakti barusan membuat Ambar malu.


****


“Kamu ini bicara apa, sih?” ujar Ambar malu.


“Apakah kamu malu saat ini?”


“Berhenti menggodaku, Sakti.”


Sakti tersenyum melihat tingkah Ambar yang malu-malu saat ia digoda olehnya, Sakti pun kemudian pamit untuk pulang dan Ambar melanjutkan pekerjaannya selama ia bekerja tidak banyak pelanggan yang mampir ke tokonya dan ketika toko nyaris tutup seseorang datang ke sini dan orang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah sang mantan suami.


“Mas Regan kenapa ke sini?”


“Ambar, aku harap kamu jangan melanjutkan pernikahanmu dengan Sakti.”

__ADS_1


“Memangnya kenapa?”


****


Sintia memerhatikan Regan dari jauh yang tengah bicara dengan Ambar, buru-buru Sintia berlari menghampiri mereka dan menarik Regan jauh dari Ambar. Tentu saja Regan merasa tidak terima dengan kelakuan Sintia ini yang menariknya sembarangan, Sintia mengatakan pada Ambar untuk jangan memedulikan apa yang Regan katakan dan lebih baik Ambar segera pulang saja. Ambar sendiri memang tidak mau terlalu mendengarkan yang Regan katakan dan memilih untuk pulang. Selepas Ambar pulang nampak Regan keberatan dengan sikap Sintia yang kurang ajar barusan, Regan pun mempertanyakan kenapa Sintia bersikap seperti itu.


“Aku hanya tidak ingin Mas membuat gaduh keadaan.”


“Apa maksudmu soal aku membuat gaduh keadaan? Apakah kamu tidak mau memberitahu Ambar yang sebenarnya?”


“Bukan seperti itu hanya saja aku akan melakukannya dengan caraku.”


Regan menggelengkan kepalanya, ia yakin sekali kalau Sintia memiliki siasat terselubung di balik semua ini dan Regan pun mendesak Sintia untuk mengatakan semuanya padanya sekarang juga namun Sintia berkilah bahwa ia sama sekali tidak sedang menyembunyikan apa pun dari Regan.


“Kenapa sih Mas Regan selalu saja curiga padaku?”


“Tentu saja karena masa lalumu yang membuatku selalu menaruh curiga, Sintia.”


Sintia menggelengkan kepalanya, ia mengatakan bahwa harus segera pergi dari sini dan meninggalkan Regan sendirian.


****


Keesokan harinya Sintia menelpon Sakti dan meminta pria itu datang ke apartemennya karena saat ini ada sesuatu hal yang buruk terjadi padanya. Awalnya Sakti menolak permintaan Sintia namun karena kasihan pada wanita itu akhirnya Sakti pun mau datang ke apartemen Sintia, ketika Sakti datang nampak Sintia menggunakan pakaian yang agak sedikit terbuka dan tentu saja hal tersebut membuat Sakti terkejut.


“Maaf, aku belum sempat ganti baju karena aku pikir kamu masih lama datangnya.”


“Tidak masalah, apa yang terjadi?”


“Anu, kamu bisa membenarkan keran airku yang rusak tidak?”

__ADS_1


Sakti kemudian pergi menuju dapur untuk melihat keran air yang dimaksud oleh Sintia dan kemudian pria itu mulai memperbaiki keran air yang rusak namun Sakti terkejut ketika tiba-tiba Sintia memeluknya dari belakang.


“Sintia apa yang kamu hmpph.”


__ADS_2