
Sakti memutuskan untuk jujur mengenai kondisinya saat ini pada Ambar, ia tidak mau menyembunyikan apa pun pada Ambar dan Sakti berharap kalau setelah ia jujur pada Ambar maka wanita ini tetap tidak akan mengubah pikirannya dan tetap mau menikahinya. Ambar tentu saja terkejut bukan main dengan cerita Sakti barusan yang mengatakan bahwa ia tidak memiliki apa pun lagi setelah ia diusir dari rumah oleh kedua orang tuanya karena lebih memilih Ambar. Bukan hanya Ambar namun Sintia juga terkejut, Sintia bahkan sampai memastikan bahwa apa yang Sakti katakan ini adalah sebuah kebenaran atau tidak dan Sakti mengatakan bahwa semua yang ia katakan adalah sebuah kebenaran.
“Untuk apa aku berdusta?”
Ambar tentu saja merasa prihatin dengan kondisi Sakti yang seperti ini, Ambar mengatakan bahwa ia tetap akan menikah dengan Sakti yang tentu saja membuat Sakti menjadi sedikit lega, Sakti meminta maaf pada Ambar karena ia mungkin saja tidak dapat memberikan pesta pernikahan yang mewah dan Ambar mengatakan bahwa semua itu bukanlah sebuah masalah.
“Kamu jangan memikirkan itu, Sakti.”
“Terima kasih krena kamu sudah mau mengerti kondisiku Ambar.”
Pada akhirnya Sakti pun pamit dan Sintia akan mengantarkan Sakti pulang maka Sintia pun juga ikut pamit pada Ambar, setelah mereka berdua pamit maka Sintia dan Sakti masuk ke dalam mobil Sintia. Sintia menanyakan sekali lagi bahwa Sakti tidak bercanda mengenai hal yang baru saja ia bicarakan dengan Ambar.
“Untuk apa aku bercanda, Sintia?”
“Apakah Valdo sudah tahu mengenai hal ini?”
“Tidak, dia belum tahu dan tolong jangan beritahu dia.”
Sintia menganggukan kepalanya dan ia pun mengantarkan Sakti menuju rumah kontrakan Sakti yang baru tentu saja rumah itu jauh lebih sederhana dari apartemen yang selama ini Sakti tinggali.
“Kamu yakin tinggal di tempat ini?” tanya Sintia yang nampak belum percaya dengan tempat tinggal Sakti yang sekarang.
“Kenapa memangnya?”
“Tidak, hanya saja ini masih membuatku terkejut.”
****
__ADS_1
Sintia benar-benar tidak percaya kalau Sakti diusir dari keluarganya dan pindah ke rumah yang jauh lebih sederhana dibandingkan apartemen yang dulu ditempati olehnya. Sintia menceritakan semuanya pada Valdo mengenai kondisi Sakti yang tengah terpuruk, Valdo sebagai teman tentu saja ingin membantu Sakti namun Sintia mengatakan pada Valdo untuk jangan memberitahu Sakti bahwa dirinya yang menceritakan semuanya.
“Aku menceritakan padamu karena kamu adalah teman dekat Sakti namun sebenarnya Sakti tidak mau kalau kamu tahu mengenai kondisinya yang sekarang.”
“Iya, aku tidak akan melibatkanmu dalam hal ini, Sintia. Terima kasih karena kamu sudah mau menceritakan mengenai Sakti padaku.”
Sintia menganggukan kepalanya dan kemudian Sintia pun pergi dari restoran yang menjadi tempat bertemunya dia dan Valdo, ketika tiba di apartemennya nampak seseorang sudah menunggunya dan orang tersebut adalah Regan.
“Mas Regan? Apa yang Mas lakukan di sini?”
Regan menoleh ke arah Sintia dan menatapnya tajam, Regan menghampiri Sintia yang tentu saja membuat Sintia bingung dengan sikap Regan yang seperti ini.
“Kenapa Mas menatapku begini? Memangnya aku melakukan hal apa?”
“Sintia, kamu yang sudah melakukan semua ini padaku kan? Kamu sengaja melakukannya kan?”
“Aku sama sekali tidak paham apa yang sedang kamu bicarakan ini, Mas.”
****
Ambar menceritakan mengenai kondisi keuangan Sakti yang memburuk setelah ia diusir dari keluarganya namun Sakti tetap mau menikah dengan Ambar, Danu dan Warsinih nampak begitu bersimpati dengan apa yang dialami oleh Sakti saat ini. Bagaimanapun juga Sakti pernah membantu mereka sangat banyak dan oleh sebab itu Danu dan Warsinih tidak mau begitu saja membatalkan acara pernikahan antara Sakti dan Ambar.
“Ibu sama sekali tidak akan keberatan dengan hal ini kan?”
“Kenpa kamu menanyakan itu, Ambar? Tentu saja Ibu sama sekali tidak keberatan kalau kamu dan Sakti menikah secara sederhana.”
Ambar berterima kasih pada kedua orang tuanya yang mau menerima keputusan Ambar untuk menikah secara sederhana karena ia tidak mau membebani Sakti dengan biaya pernikahan yang besar. Ambar sudah mendapatkan pekerjaan yaitu ia menjaga toko di dekat rumah kontrakannya, Ambar sangat bersyukur karena ia mendapatkan pekerjaan lagi di tempat ini setelah beberapa waktu ia sempat tidak bekerja. Saat tengah berjaga di toko itu, ponselnya berdering dan ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya rupanya ada nama Regan di sana, Ambar nampak ragu apakah ia harus menjawab telepon dari sang mantan suami atau tidak namun pada akhirnya Ambar memutuskan tidak menjawabnya.
__ADS_1
****
Regan nampak begitu frustasi dengan kabar bahwa Ambar dan Sakti akan menikah, ia tentu saja tidak boleh membiarkan Ambar dan Sakti sampai menikah, Regan akan melakukan segala cara untuk mensabotase pernikahan mereka.
“Pokoknya pernikahan mereka jangan sampau terjadi bagaimanapun caranya.”
Diam-diam rupanya Sandrina menguping pembicaraan Regan barusan, Sandrina penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dan melaporkan itu pada Helga. Helga memberitahu Sandrina bahwa saat ini Ambar akan menikah dengan Sakti dan oleh sebab itu Regan jadi bersikap uring-uringan belakangan ini.
“Begitu rupanya.”
“Pokoknya kamu jangan khawatir karena Regan tidak akan bercerai denganmu dan dia juga tidak akan merecoki pernikahan Sakti dan Ambar.”
“Baiklah Ma, aku percaya dengan Mama.”
Sandrina mematikan sambungan telepon dan ia berbalik badan, ia terkejut ketika berbalik badan menemukan Regan berdiri tepat di belakangnya dan menatapnya tajam. Sandrina berusaha bersikap sebiasa mungkin dan menyapa Regan namun pria itu justru menatapnya semakin dingin, Regan mendesak supaya Sandrina mengatakan siapa yang barusan ia telepon. Awalnya Sandrina tidak mau jujur dengan apa yang barusan ia bicarakan dengan Helga namun pada akhirnya karena terdesak maka Sandrina pun mau jujur pada Regan mengenai pembicaraannya dengan Helga.
“Bisakah kamu tidak ikut campur dalam masalah pribadi mantan istrimu itu? Ambar sudah memutuskan untuk menikah maka kamu jangan merecokinya.”
“Kamu tidak tahu apa-apa jadi jangan ikut campur dalam masalah ini.”
****
Valdo datang menemui Sakti dan mengatakan kalau ia akan membantu Sakti dalam mencarikan pria itu pekerjaan dan juga memberikan sejumlah uang pada Sakti sebagai biaya untuk menikah dengan Ambar. Sakti terkejut dengan hal ini, Sakti menolak uang pemberian Valdo dan mengatakan ia tidak membutuhkan ini namun Valdo tahu bahwa Sakti sangat membutuhkan biaya lebih untuk menikah dengan Ambar.
“Tapi kamu juga akan segera menikah dengan Sintia kan?”
“Kamu tidak perlu mengkhwatirkanku, aku memiliki cukup uang untuk itu, kamu sudah lama membantuku dalam berbagai hal dan inilah saatnya aku membantumu.”
__ADS_1
Sakti benar-benar terharu dengan ucapan Valdo ini, ia tidak menyangka dapat memiliki teman yang baik seperti Valdo.
“Terima kasih atas kebaikanmu.”