
Ambar memikirkan apa yang mamanya Sakti katakan padanya kemarin dan ia sampai saat ini belum juga menghubungi Sakti padahal dirinya telah terlanjur berjanji pada mamanya Sakti untuk membantunya. Ambar
masih ragu apakah ia harus menelpon Sakti atau tidak dan ia memilih untuk tidak menelpon pria itu karena Ambar takut akan mengganggu waktu Sakti. Ketika Ambar tengah berjaga di toko, Sakti datang dan kebetulan sekali karena Ambar tidak perlu menelpon pria itu dan mengajaknya bicara soal apa yang mamanya Sakti katakan padanya kemarin.
“Sakti.”
“Ada apa, Ambar?”
“Anu sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Soal apa?”
Ambar tidak langsung menjawab pertanyaan yang Sakti tanyakan barusan, ia diam sejenak sebelum akhirnya mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Ambar pun menceritakan kalau kemarin mamanya Sakti datang ke sini dan membicarakan sesuatu padanya, Sakti menyimak cerita Ambar dan kemudian ia terkejut karena mamanya meminta Ambar membantu Sakti mengungkapkan perasaannya pada orang yang Sakti suka.
“Begitulah yang mamamu katakan padaku.”
“Dan kamu menyetujuinya?”
“Aku sudah terlanjur mengiyakan, aku tidak enak pada mamamu kalau menolak.”
Sakti menghela napasnya panjang, Ambar sepertinya tidak tahu kalau orang yang dimaksud oleh mamanya Sakti adalah dirinya sendiri dan Sakti juga bersyukur karena mamanya tidak sampai mengungkapkan yang sebenarnya pada Ambar.
“Aku dapat mengurus masalahku sendiri, terima kasih karena kamu telah peduli padaku.”
Sakti membeli beberapa barang di toko ini sebelum ia pergi dari toko tersebut, Ambar sendiri menghela napasnya panjang dan ia lega setidaknya ia sudah menyampaikan pesan dari mamanya Sakti pada pria itu. Tidak
lama setelah Sakti pergi dari toko, ada pelanggan lagi yang datang ke toko ini namun pelanggan ini membuat Ambar terkejut karena rupanya yang datang adalah mantan suaminya.
“Mas Regan?”
“Ambar, kamu bekerja di sini?”
“Iya Mas, aku bekerja di sini.”
Suasana menjadi canggung di antara mereka berdua, Regan hanya diam dan menatap Ambar sementara Ambar memutuskan untuk mengalihkan pandangan dari pria itu.
****
__ADS_1
Regan masih berdiri di tempatnya sebelum akhirnya ia berjalan perlahan menuju Ambar berdiri, Ambar terlihat gelisah saat Regan menghampirinya dan ia tidak tahu apa yang akan pria itu lakukan padanya. Regan sendiri berdiri di sebelah Ambar dan menatap Ambar dengan tatapan yang membuat Ambar tidak nyaman, Ambar pun berusaha melarikan diri dari Regan namun Regan sudah terlanjur menahan tangannya supaya jangan pergi ke mana pun saat ini.
“Mas, apa yang hendak Mas lakukan?”
“Memangnya kamu pikir apa yang hendak aku lakukan?”
“Mas tolong jangan seperti ini, aku tidak ingin ada orang yang salah paham dengan semua ini.”
“Ambar, apakah kamu bahagia setelah bercerai denganku?”
Ambar terkejut dan tak menyangka kalau Regan akan menanyakan hal itu padanya, Ambar terdiam dan tak menjawab pertanyaan dari pria itu. Regan kemudian mengatakan bahwa ia menyesal atas apa yang sudah ia lakukan pada Ambar, ia meminta maaf atas apa yang sudah ia lakukan dan berharap kalau Ambar mau memaafkannya.
“Aku tidak mau membahas masalah itu, Mas.”
“Apakah sekarang kamu bahagia dengan kehidupanmu? Ambar?”
“Kenapa Mas menanyakan hal itu?”
“Apakah kamu tidak mau kita kembali seperti dulu lagi?”
Ambar terkejut dengan ucapan Regan tersebut, ia menggelengkan kepalanya dan meminta maaf pada Regan bahwa ia tidak dapat melakukan itu.
****
Sintia langsung melabrak Ambar dan mengatakan bahwa Ambar tidak seharusnya menggoda mantan suaminya.
“Kamu memang wanita tidak malu Ambar, kenapa kamu malah menggoda mantan suamimu?”
Ambar terkejut dengan ucapan Sintia barusan, ia tentu saja tak terima dengan tuduhan yang dilayangkan oleh Sintia padanya karena memang bukan seperti itu kenyataannya, Regan sendiri mengatakan pada Sintia bahwa jangan sembarangan menuduh Ambar namun Sintia malah semakin marah pada mereka.
“Mas, bagaimana bisa Mas Regan membela wanita ini?!”
“Karena memang Ambar tidak salah di sini, aku datang sendiri ke sini dan ingin bicara secara khusus padanya.”
“Untuk apa Mas datang ke sini dan bicara dengannya? Bukankah sudah tidak ada hal lain lagi yang perlu kalian bicarakan? Kalian sudah berakhir!”
“Aku meminta maaf pada Ambar atas apa yang sudah aku lakukan padanya di masa lalu, aku ingin Ambar kembali padaku.”
__ADS_1
“Apa katamu?!”
****
Sintia terkejut bukan main dengan pernyataan Regan barusan, ia menggelengkan kepalanya dan menolak semua itu. Sintia tentu saja marah besar pada Regan dan Ambar, ia hilang kendali dan kembali merusak barang
yang ada di toko itu bahkan kali ini Sintia hendak mencelakai Ambar namun Regan langsung menghalangi Sintia dan menyeret wanita itu keluar dari toko ini sebelum kejadian buruk menimpa Ambar.
“Lepaskan aku Mas, aku belum selesai dengan wanita itu!”
“Jangan membuat dirimu tambah buruk Sintia, pergi sekarang juga dari sini.”
Sintia berusaha meronta dan melepaskan diri dari tarikan Regan namun usahanya sama sekali tidak berhasil, Ambar hanya dapat menghela napasnya panjang, lagi-lagi Sintia berulah dan membuat hancur barang-barang yang ada di toko ini. Pemilik toko muncul dan terkejut dengan kekacauan yang terjadi di tokonya.
“Ambar, apa yang terjadi di sini?”
“Maafkan saya, tadi Sintia datang dan merusak barang-barang karena dia hilang kendali.”
Pemilik toko nampak menghela napasnya, Ambar mengatakan kali ini ia akan mengganti semua kerugian namun lagi-lagi pemilik toko mengatakan bahwa Ambar tidak perlu untuk menggantinya.
“Tapi ini sudah kedua kalinya dia berulah, saya jadi tidak enak.”
****
Sakti menemui mamanya di sebuah café setelah Sakti menelpon sang mama dan mengajaknya bertemu, Sakti sudah berada di café menunggu mamanya datang dan tidak lama kemudian mamanya itu pun muncul dan duduk di
kursi yang berhadapan dengan Sakti.
“Ada apa, Sakti?”
“Mama kemarin menemui Ambar, ya?”
“Iya, Mama memang menemui Ambar kemarin, apakah dia bercerita padamu?”
“Kenapa Mama mengatakan itu pada Ambar?”
“Karena Mama ingin kamu segera mengungkapkan perasaanmu padanya, mau sampai kapan kamu memendam ini, Sakti? Bisa saja setelah ini ada orang lain yang melamar Ambar dan kemudian mereka menikah dan kamu lagi-lagi akan patah hati karena Ambar akhirnya bersanding dengan orang lain.”
__ADS_1
“Ma aku ….”
“Mama tahu bahwa kamu ingin memiliki Ambar oleh sebab itu Mama melakukan semua ini, Nak.”