
Sintia meminta maaf atas apa yang tadi terjadi pada Sakti karena ia tidak sengaja dan Sakti juga tidak mempermasalahkan hal tersebut, buru-buru Helga segera pergi dari sana supaya ia tidak ketahuan oleh Regan dan ternyata tidak lama kemudian Regan keluar rumah untuk melihata sekeliling dan justru ia melihat Sintia dan Sakti yang akrab sekali hingga membuatnya curiga.
“Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Itu sama sekali bukan urusanmu,” jawab Sakti ketus dan kemudian pergi.
Sintia sendiri nampak bahagia karen bertemu Regan di sini namun Regan mengatakan bahwa alasannya datang ke sini bukanlah karena Sintia melainkan karena Ambar, Sintia mengatakan bahwa ia tahu Regan datang ke sini untuk Ambar namun Sintia mengatakan sesuatu pada Regan yang mana tentu saja membuat Regan terkejut.
“Mas, apakah Mas tidak mau mendengar sesuatu mengenai pernikahan Ambar dan Sakti?”
“Memangnya apa yang kamu ketahui soal itu?”
Sintia pun menceritakan berita bohong pada Regan yang kemudian Regan pun dengan polosnya percaya saja pada Sintia yang tentu saja Sintia semakin senang karena Regan begitu saja percaya dengan apa yang ia katakan ini.
“Begitulah Mas.”
“Kenapa kamu mau disuruh berbohong oleh pria itu?”
“Karena aku merasa kasihan padanya, dia itu teman baik suamiku.”
“Namun bukan berarti kamu dapat melakukan itu Sintia, Ambar harus tahu hal ini.”
Namun tentu saja Sintia menahan Regan, ia tidak mau kalau Ambar tahu yang mana tentu saja membuat Regan kesal bukan main namun Sintia berusaha menenangkan Regan dan mengatakan bahwa ia akan mengurus semua ini sendiri.
“Aku sama sekali tidak dapat percaya padamu, aku tahu dirimu seperti apa, Sintia.”
“Mas, percayalah padaku.”
Regan pun menghela napasnya kesal, walaupun ia sendiri ingin melakukannya namun pada akhirnya Regan pun memilih untuk menahan diri dan mengikuti apa yang Sintia katakan padanya barusan.
__ADS_1
“Tapi satu hal yang perlu kamu ingat Sintia, kalau kamu tidak membongkar yang semuanya maka aku sendiri yang akan turun tangan.”
“Percayalah aku akan melakukan itu.”
****
Ambar, Warsinih, Daisy dan Sakti pulang ke rumah dan Regan serta Sintia sudah menunggu mereka di rumah. Ambar nampak bahagia sekali karena bisa bertemu dengan Daisy dan tentu saja bukan hanya Ambar saja namun Daisy juga bahagia karena sudah lama sekali Daisy tidak bertemu dengan mamanya. Ambar berterima kasih pada Regan karena sudah mempertemukan dirinya dan Daisy lagi namun Regan mengatakan bahwa bukan dirinya yang melakukan semua itu melainkan Daisy yang ingin bertemu dengan Ambar.
“Hari sudah malam, ayo kita pulang.”
Akhirnya Daisy pun berpamitan pada Ambar dan yang lainnya, ketika Regan berpamitan pada Ambar pria itu sempat mengatakan bahwa Ambar harus waspada dengan Sakti karena Sakti sedang menipu Ambar yang mana ucapan Regan itu membuat Ambar dan yang lainnya terkejut.
“Apa maksudmu mengatakan itu?” tanya Sakti yang tak terima dengan ucapan Regan barusan.
“Kalau memang kamu tidak seperti apa yang aku katakan, maka untuk apa kamu marah kan?” seringai Regan yang kemudian ia dan Daisy pergi.
Sintia pun ikut pamit pada mereka semua dan pergi dari rumah ini, setelah tamu mereka semua pulang ke rumah masing-masing Ambar dan Sakti masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar itu nampak Sakti berusaha menjelaskan semuanya pada Ambar.
****
“Ambar, aku tahu kalau kamu sedang memikirkan sesuatu.”
Ucapan Sakti barusan membuat Ambar terkejut namun kemudian Ambar menolaknya dan mengatakan bahwa dirinya sedang tidak memikirkan sesuatu. Sakti tentu saja tahu kalau Ambar tengah berbohong. Sakti mengatakan bahwa Ambar harus percaya padanya bahwa apa yang Regan katakan semuanya tidaklah benar.
“Dia mengatakan hal tersebut hanya untuk membuat kita rusak rumah tangganya, percayalah.”
Apa yang Sakti ucapkan barusan memang mungkin ada benarnya, Ambar tidak boleh begitu saja memercayai apa yang Regan katakan mentah-mentah karena bisa saja apa yang Sakti katakan tadi memanglah benar bahwa Regan hanya ingin mengadu domba antara dirinya dan Sakti.
“Aku percaya padamu.”
__ADS_1
“Terima kasih.”
Walaupun Ambar sudah mengatakan kalau ia memercayai Sakti namun Sakti tetap saja belum dapat tenang sepenuhnya karena kalau yang ia perhatikan sepertinya Ambar masih belum sepenuhnya percaya dan masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Regan.
****
Helga begitu bahagia mendapati foto antara Sintia dan Sakti dan mengingat rencananya dan Sintia tidak lama lagi akan segera dimulai, ia ingin segera melihat Ambar hancur. Tidak lama kemudian Fadi muncul di kamar ini dan bertanya kenapa Helga senyum-senyum sendiri namun Helga berusaha menyembunyikan hal yang membuatnya bahagia itu dari sang suami karena Helga tahu bahwa kalau ia berterus terang pada suaminya maka sang suami akan memarahinya dan mereka berujung akan bertengkar hari ini.
“Aku tidak apa-apa.”
“Jangan bohong, aku tahu kalau ada sesuatu yang membuatmu bahagia saat ini kan?”
“Iya, aku memang bahagia karena Regan akhirnya mau berobat secara sadar.”
Fadi nampak tidak percaya dengan apa yang Helga katakan barusan walaupun memang yang Helga katakan sangat masuk akal namun entah kenapa ada sesuatu hal yang mengganjal Fadi untuk memercayai apa yang sang istri katakan.
“Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan yang macam-macam,” ujar Helga yang seolah dapat membaca apa yang tengah dipikirkan oleh sang suami.
Helga kemudian keluar dari dalam kamarnya dan kemudian masuk ke dalam ruang perpustakaan yang mana di sana Helga kemudian mengirimkan foto itu pada Ambar. Helga menyeringai karena ia yakin bahwa saat ini pasti Ambar akan terkejut dan berpikiran yang bukan-bukan.
“Ambar, kita lihat saja nanti bagaiman akhirnya.”
****
Ambar terkejut ketika Helga mengirimkan sebuah foto padanya dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah foto yang Helga kirimkan itu berupa sebuah foto yang menunjukan Sakti dan Sintia dengan pose sangat dekat. Ambar sendiri jadi berpikiran yang tidak-tidak karena sebelumnya Sintia pernah bermain api dengan Regan yang saat itu pernah menjadi suaminya sebelum menikah dengan Sakti dan tentu saja Ambar tidak mau lagi kalau hal tersebut kembali terjadi.
“Ambar, apa yang sedang terjadi?” tanya Warsinih ketika melihat putrinya hanya diam saja menatap ponsel.
“Bukan apa-apa, Bu.”
__ADS_1
“Ibu tahu kalau sesuatu hal tengah terjadi, katakan saja.”
“Sebenarnya… sebenarnya ….”