
Helga kembali menemui Regan untuk membicarakan perihal perjodohan anaknya itu dengan wanita pilihannya. Helga benar-benar ingin memastikan bahwa Regan tertarik pada Sandrina dan jalan mereka menuju pernikahan akan sangat mulus tanpa perlu Regan berpikir ulang karena saat ini Sintia ada disekitar dirinya.
“Jadi kenapa Mama datang ke sini?”
“Tentu saja Mama datang untuk membicarakan soal Sandrina.”
“Kenapa dengan wanita itu?”
“Mama ingin tahu bagaimana pendapatmu mengenai dia?”
Regan pun menjawab pertanyaan sang mama dengan jujur dan tentu saja Helga sangat bahagia karena penilaian yang Regan berikan pada Sandrina lumayan bagus hingga akhirnya Helga pun menanyakan apakah Regan akan
mau menikahi wanita itu dan Regan tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh sang mama barusan.
“Kenapa kamu tidak langsung menjawab pertanyaan Mama?”
“Tidak apa-apa, Ma.”
Helga pun penasaran dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Regan, tentu saja ia khawatir kalau saat ini Regan memikirkan soal Sintia dan ia tidak ingin kalau anaknya ini dipengaruhi oleh Sintia untuk jangan menikah dengan Sandrina.
“Kamu pasti tengah memikirkan wanita bernama Sintia
itu kan?”
Regan terkejut dengan pertanyaan yang mamanya ajukan barusan, Regan membantah apa yang mamanya katakan namun Helga tahu persis apa yang Regan pikirkan, Helga pun kembali mencoba untuk membuat Regan percaya bahwa Sandrina adalah wanita pilihannya yang terbaik.
“Kamu harus percaya pada Mama bahwa Sandrina adalah wanita yang baik, dia jauh lebih baik dari wanita murahan itu.”
“Ma, aku tidak ingin membahas hal ini.”
“Kenapa memangnya kamu tidak mau membahasnya? Apakah wanita itu sudah bicara dan mengatakan sesuatu padamu?”
__ADS_1
“Tidak, bukan seperti itu Ma, hanya saja aku tidak ingin membahas masalah ini lebih lanjut.”
“Tentu saja kita harus membahas ini lebih lanjut, Mama tidak ingin kalau kamu hanya menggantungkan Sandrina padahal Mama tahu kalau kamu menyukai dia.”
Regan terdiam mendengar ucapan mamanya, Helga kemudian meraih tangan Regan dan mengatakan bahwa Regan harus percaya padanya.
****
Sintia mencoba menemui Regan namun ia tidak diberikan kesempatan oleh satpam untuk masuk ke dalam kantor, tidak lama kemudian wartawan datang dan menghampirinya untuk melakukan wawancara mengenai video
viral yang ada di media sosial akibat pertengkarannya dengan Regan beberapa hari yang lalu. Sintia terkejut namun ia harus memanfaatkan hal ini dengan baik karena dengan hal ini maka ia dapat selalu bersama dengan Regan.
“Apa yang terjadi waktu itu memang benar adanya, Regan menghamili saya dan saya menuntut pertanggung jawaban pria itu atas anak yang dikandung saya.”
Tentu saja ucapan Sintia itu membuat heboh dan berita mengenai perselingkuhan Regan dan Sintia yang berujung wanita itu hamil menghiasi media. Sintia begitu puas karena dengan begini pasti Regan akan berpikir dua kali untuk tidak meninggalkan dirinya dan rupanya siasat yang dilakukan olehnya terbukti manjur, Regan langsung menghubunginya dan mengatakan akan menemuinya di apartemen. Sintia menyiapkan makan malam romantis untuk mereka berdua, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini karena sudah lama sekali dirinya dan Regan tidak saling bertemu. Akhirnya Regan pun datang dan Sintia langsung menyambutnya dengan ramah namun Regan sama sekali tidak mau berbasa-basi dengannya.
“Apa-apaan kamu bicara di media seperti itu, Sintia?”
****
Ambar dan keluarganya sedang menonton televisi yang menayangkan soal berita Sintia yang mengatakan dirinya hamil akibat perbuatan Regan. Warsinih nampak menggelengkan kepalanya mengenai berita tersebut sementara Ambar tidak mau berkomentar banyak, ia masih tidak sanggup memandingi wajah Sintia dan juga Regan karena kedua orang itu sudah membuat luka di hatinya begitu dalam. Ambar pun memilih menangkan dirinya di luar rumah dan ia dibuat terkejut dengan kedatangan Sakti yang sama sekali tidak ia duga akan datang sebelumnya.
“Sakti?”
“Halo Ambar, kamu kenapa ada di luar rumah seperti ini?”
“Bukan apa-apa, aku hanya perlu mencari udara segar saja, kamu sendiri kenapa datang ke sini?”
“Oh aku ingin memberitahumu bahwa ada lowongan pekerjaan untukmu.”
“Oh benarkah? Di mana?”
__ADS_1
Sakti pun memberitahu di mana Ambar dapat bekerja, tentu saja Ambar sangat antusias dan mengatakan ia akan segera pergi ke sana namun Sakti mengatakan bahwa Ambar bisa datang besok saja karena hari ini toko
yang Sakti maksud sudah tutup. Ambar sangat berterima kasih pada Sakti karena sudah mau mencarikan pekerjaan untuknya namun Sakti mengatakan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu hal yang besar.
“Kamu mau minum dulu ke dalam?”
Sakti tidak keberatan dan ia serta Ambar pun masuk ke dalam rumah, diam-diam di dalam mobil yang parkir tidak jauh dari rumah Ambar nampak mama dan papanya Sakti memerhatikan gerak-gerik mereka berdua.
****
Helga mendatangi apartemen Sintia untuk melabrak wanita itu, Helga menggedor kasar pintu apartemen Sintia dan memanggil Sintia dengan wanita tidak tahu diri. Helga terus saja berteriak dan memaki Sintia supaya segera membuka pintu apartemennya ini dan tidak lama akhirnya Sintia pun membuka pintu apartemen dan langsung saja Helga menerobos masuk ke dalam sana. Ia nampak terkejut melihat Sintia yang hanya menutupi tubuhnya dengan selimut dan ia mendapati sepasang sepatu yang ia kenali di apartemen ini.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Tante tahu apa yang sedang aku lakukan.”
Helga segera masuk ke dalam kamar Sintia dan ia mendapati Regan yang tak sadarkan diri di atas ranjang dan tidak mengenakan pakaian. Helga langsung melirik tajam ke arah Sintia yang memasang wajah tidak bersalah sama sekali. Helga langsung membangunkan Regan dan ketika terbangun Regan terkejut mendapati dirinya tidak berbusana dan ada di atas ranjang Sintia.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Helga pada Regan.
“Aku tadi mendatangi Sintia untuk menanyakan kenapa dia melakukan semua ini namun setelahnya dia memberikanku minuman dan aku tidak ingat apa pun,” jawab Regan.
Helga makin membenci Sintia ia langsung menjambak rambut Sintia dan memaki wanita ini sebagai wanita tidak tahu diri.
****
Keesokan harinya Ambar datang ke toko yang Sakti maksud kemarin, ketika ia datang ke toko dan mengatakan bahwa ia mencari pekerjaan penjaga toko langsung mengatakan kalau Ambar dapat segera bekerja kapan pun Ambar inginkan. Tentu saja Ambar begitu bahagia karena ia mendapatkan pekerjaan hari ini dengan sangat mudah. Diam-diam Sakti memerhatikan Ambar dari jauh dan ia tersenyum ketika melihat Ambar bahagia, ketika Sakti hendak masuk ke dalam mobilnya, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk dan ketika ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya ada nama mamanya di sana. Sakti menghela napasnya panjang sebelum ia menjawab telepon dari sang mama ini.
“Ada apa Mama menelponku?”
“Bisakah kamu datang ke rumah sekarang, Nak? Ada sesuatu hal yang penting dan ingin Mama bicarakan denganmu.”
__ADS_1