Ambar Untuk Sakti

Ambar Untuk Sakti
Rasanya Begitu Sakit


__ADS_3

Warsinih meminta Ambar untuk berhati-hati karena dirinya khawatir dengan keselamatan sang putri, walaupun Ambar sudah mengatakan kalau ia akan menjaga dirinya dengan baik namun sebagai seorang ibu tentu saja


Warsinih begitu khawatir kalau Sintia akan melakukan hal yang buruk pada Ambar.


“Ibu jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku.”


“Baiklah, tapi kalau ada sesuatu hal yang terjadi padamu tolong segera kabari Ibu.”


Ambar menganggukan kepalanya, ia berpamitan pada ibunya sebelum pergi ke toko tempat di mana ia bekerja. Warsinih menatap kepergian Ambar dengan hati gelisah, sebenarnya ia sudah mencoba membuat Ambar


untuk jangan pergi hari ini karena perasaannya mengatakan kalau sesuatu hal yang buruk akan terjadi pada Ambar namun Warsinih berharap bahwa perasaannya ini adalah salah.


“Semoga saja tidak ada sesuatu hal apa pun yang terjadi padanya dan ini hanya kegelisahanku saja.”


Danu menghampiri istrinya untuk menenangkannya, Danu mengatakan bahwa Warsinih terlalu khawatir dengan Ambar padahal Ambar sendiri dapat menjaga dirinya. Warsinih khawatir tentu saja beralasan karena Sintia itu


wanita jahat yang dapat melakukan apa pun yang ingin ia lakukan dan sepertinya Sintia begitu membenci Ambar dan ingin melakukan kejahatan padanya.


“Lebih baik kita berdoa saja semoga Ambar dijauhkan dari kejahatan orang lain.”


“Amiin.”


Akhirnya kedua orang tua Ambar itu masuk ke dalam rumah namun tidak lama kemudian ada suara orang mengetuk pintu rumah, Warsinih membuka pintu namun ia tidak menemukan siapa pun di sana namun ada sebuah box yang ditaruh di depan pintu.


“Box apa ini?”


Warsinih membuka isi box itu karena penasaran dan ia terkejut karena di dalamnya ada sebuah boneka yang ditusuk oleh sebuah pisau, Warsinih yakin bahwa orang yang mengirim ini adalah Sintia dan tentu saja akibat kiriman ini membuat Warsinih semakin khawatir dengan keselamatan putrinya.


“Ada apa ini?” tanya Danu.


“Ini, seseorang mengirimkan ini,” jawab Warsinih seraya memerlihatkan apa yang ditaruh di dalam box ini.


****


Regan menceritakan hal buruk yang sudah Helga lakukan dengan membebaskan Sintia dari penjara pada sang papa, Fadi yang mendengar itu tentu saja marah bukan main. Ia mengajak Helga bicara untuk mengetahui apa


maksud dan tujuan Helga melakukan semua itu.

__ADS_1


“Tentu saja aku melakukan semua itu supaya Ambar mati, aku tidak ingin dia menjadi benalu dalam kehidupan anakku.”


“Kamu sudah tidak waras Helga, Ambar sama sekali tidak bersalah di sini namun kamu masih tetap saja membencinya.”


“Kenapa kamu selalu saja membela wanita miskin itu? Apakah wanita miskin itu menggunakan guna-guna sampai anak dan suamiku terperdaya olehnya?”


“Jaga bicaramu itu, Helga.”


“Kenapa memangnya? Apakah aku salah dalam bicara?”


Fadi nampak emosi dengan ucapan Helga yang menyudutkan Ambar dengan ucapan yang bukan-bukan, ia membela Ambar karena yakin bahwa Ambar adalah wanita baik-baik dan tidak mungkin dia melakukan hal seperti yang Helga tuduhkan barusan.


“Lebih baik kamu jangan melanjutkan hal ini, segeralah introspeksi diri sebelum terlambat menyadarinya.”


Setelah mengatakan itu Fadi langsung pergi meninggalkan Helga, setelah kepergian sang suami nampak Helga tertawa sumbang, ia benar-benar marah pada Ambar dan keluarganya karena ia menganggap bahwa sumber penderitaan dirinya berasal dari wanita itu dan keluarganya.


“Awas saja kamu Ambar, tidak lama lagi aku yakin bahwa Sintia akan membunuhmu dan aku bisa hidup dengan tenang,” seringai Helga.


****


Valdo terkejut ketika mendapat kabar bahwa Sintia sudah bebas dari penjara oleh Sakti yang diceritakan oleh Ambar sebelumnya. Valdo kemudian mencari tahu sendiri apakah yang diceritakan oleh Sakti itu benar adanya atau tidak dan rupanya apa yang diceritakan oleh Sakit itu memang benar adanya karena saat ini Valdo berhasil bertemu dengan Sintia. Wanita itu nampak bersikap ramah padanya dan membuat Valdo menjadi curiga dengan maksud


“Ada apa denganmu? Kok menatapku dengan tatapan seperti itu?” tanya Sintia yang tidak suka dengan tatapan Valdo padanya.


“Bukannya apa-apa, hanya saja tidak biasanya kamu bersikap manis begini padaku,” jawab Valdo.


“Tentu saja aku bersikap manis selama aku menjadi pacarmu, bukankah begitu?”


Valdo terdiam mendengar ucapan Sintia barusan, Sintia kemudian menggenggam tangan Valdo yang membuat pria itu terkejut dengan tindakan Sintia ini. Sintia menatapnya dan kemudian meminta maaf atas apa yang


sudah pernah terjadi di antara mereka, Sintia berharap kalau Valdo masih mencintainya dan mau memaafkan apa yang sudah ia perbuat.


“Aku benar-benar menyesali atas apa yang telah aku perbuat selama ini, aku sudah mempermainkanmu dan pada akhirnya aku jadi berakhir begini.”


Valdo nampak terenyuh dengan ucapan Sintia barusan dan kemudian Sintia pun mendekatkan wajahnya hingga wajahnya dan Valdo semakin dekat.


****

__ADS_1


Ambar sedang berjaga di toko seperti biasa namun sedang tidak ada pelanggan yang datang saat ini dan sebentar lagi toko akan tutup. Ambar bersyukur karena seharian ini, Sintia tidak datang dan membuat kekacauan di sini namun ketika Ambar yakin bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi, justru menjelang toko tutup nampak Regan datang ke toko ini.


“Selamat malam, Ambar.”


“Selamat malam, apa yang Mas Regan perlukan?”


“Aku datang ke sini untuk menjemputmu pulang.”


“Apa? Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.”


“Namun aku kan sudah di sini, jangan menolak ajakanku.”


Ambar terdiam sejenak dan kemudian sudah saatnya toko tutup, Ambar segera mengemasi barangnya sebelum mengunci pintu toko dan Regan masih menantinya di depan toko sembari memerhatikannya yang tentu saja membuat Ambar menjadi tidak nyaman.


“Mas Regan, aku dapat pulang sendiri, Mas tidak perlu melakukan semua ini.”


“Namun aku tetap ingin mengantarkanmu pulang, ayolah masuk ke dalam mobilku.”


“Tapi sekarang kita bukan pasangan suami-istri lagi, kamu juga sudah menikah dengan wanita lain. Apakah pantas kamu melakukan hal ini padaku?”


“Kamu tetap mamanya Daisy dan itu tidak akan berubah, jadi sekarang masuklah ke dalam mobil dan jangan membantah.”


****


Regan akhirnya dapat mengantarkan Ambar pulang ke rumah, Ambar nampak diam sepanjang perjalanan dari toko ke rumah dan Regan sendiri fokus dalam mengemudi dan tidak membutuhkan waktu yang lama sampai akhirnya


mereka tiba di rumah Ambar. Ambar segera melepaskan sabuk pengaman dan berterima kasih pada Regan yang telah mengantarkannya pulang namun ketika hendak membuka pintu mobil, Regan menahannya.


“Ambar, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”


“Ada apa lagi, Mas?”


“Apakah akhir pekan ini kamu bisa cuti dulu? Apakah kamu tidak rindu mengajak Daisy bermain bersamamu di taman bermain?”


“Soal itu ….”


“Daisy sangat ingin bermain dan menghabiskan waktu dengan mamanya, apakah kamu tidak mau menghabiskan waktu dengan anakmu sendiri?”

__ADS_1


“Bukannya seperti itu hanya saja aku belum bicara pada bosku, nanti kalau aku sudah bicara pada bosku maka aku akan segera memberitahu Mas Regan hasilnya.”


Diam-diam ada seseorang yang memerhatikan dari dalam mobil yang terparkir agak jauh dari di mana mobil Regan berhenti, Ambar keluar dari mobil itu dan orang yang ada di dalam mobil ini nampak begitu sedih saat melihat Ambar keluar dari mobil Regan.


__ADS_2