
Ariyani tidak dapat menghindar ketika ia secara tidak sengaja berpapasan dengan Ambar yang mana tentu saja ia tidak dapat menghindari Ambar karena wanita itu telah melihatnya terlebih dahulu. Ambar pun menyapa Ariyani dan tentu saja tidak dapat dipungkiri oleh Ariyani berusaha bersikap tidak baik pada Ambar untuk membuat kesan bahwa ia masih menolak pernikahan antara wanita ini dan anaknya.
“Kenapa Nyonya datang ke sini? Apakah Nyonya tahu kabar mengenai Sakti?”
“Tentu saja aku datang ke sini karena aku tahu kabar Sakti, memangnya kalau bukan itu untuk apa aku datang ke sini?”
Ambar nampak terkejut mendenga respon yang diberikan oleh Ariyani barusan yang mana tentu saja Ambar berusaha untuk tetap menahan diri supaya tidak tersinggung dengan nada bicara Ariyani yang sungguh tidak enak didengar olehnya barusan.
“Kalau anda mau menemui Sakti, saya dapat mengantarkan anda ke sana.”
“Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri.”
Ariyani dengan tegas menolak tawaran Ambar barusan mengingat ia masih tidak menyukai wanita ini, Ariyani pun bergegas pergi meninggalkan Ambar yang nampak masih berdiri menatap kepergian mama mertuanya itu. Ariyani kemudian pergi menuju ruangan inap di mana Sakti tengah dirawat. Ariyani tiba saat di ruangan itu hanya ada Warsinih saja, bukan hanya Warsinih namun Sakti juga terkejut dengan kedatangan Ariyani karena Sakti pikir bahwa mamanya ini sudah tidak akan lagi peduli padanya setelah ia memutuskan untuk tetap menikah dengan Ambar.
“Mama? Bagaimana bisa Mama ada di sini?”
“Kenapa kamu masih menanyakan hal konyol seperti itu, Nak?”
Ariyani nampak menghela napasnya dengan berat, ia benar-benar tidak dapat untuk menahan diri supaya tidak menagis di depan Sakti karena sejujurnya ia benar-benar sedih sekali melihat kondisi Sakti yang seperti ini.
“Kenapa kamu harus melakukan semua ini, Nak?”
Ariyani memeluk Sakti dan mengeluarkan tangis yang sedari tadi ia coba simpan namun nyatanya ia sama sekali tidak berhasil akan hal tersebut.
****
Ariyani nampak tak kuasa untuk membendung air matanya supaya tidak tumpah dan memeluk Sakti, ia meratapi nasib Sakti yang harus berakhir seperti ini karena memilih untuk tidak mendengarkannya namun Sakti mengatakan bahwa Ariyani tidak boleh menyalahkan Ambar ataupun keluarganya karena ini adalah keputusannya.
“Tolong Mama jangan melakukan itu.”
Ucapan Sakti itu makin membuat Ariyani menangis tak terbendung, Warsinih tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya melihat saja dari jarak yang dekat. Tidak lama kemudian Ambar datang ke ruangan ini dan Ariyani langsung melerai pelukannya pada Sakti, ia menghapus air matanya yang tadi sempat tumpah karena meratapi nasib Sakti yang berakhir seperti ini.
__ADS_1
“Ambar, aku ingin bicara denganmu.”
“Apa yang hendak Mama bicarakan pada Ambar?” tanya Sakti penasaran.
“Kamu tidak perlu tahu, Sakti.”
Ambar hanya patuh saja dengan apa yang dikatakan oleh Ariyani barusan, ia mengekori langkah Ariyani untuk keluar dari ruangan rawat inap Sakti yang mana kemudian di lorong yang sepi, Ambar pun berhenti karena Ariyani yang memimpin jalan di depan memberhentikan langkah kakinya.
“Apakah kamu puas sekarang?”
“Maaf?”
“Sekarang kamu sudah menjadi istri anakku, apakah kamu puas sekarang?”
“Nyonya saya tahu bahwa anda masih membenci saya namun saya menikah dengan Sakti bukan karena uang atau dia berasal dari keluarga kaya raya.”
“Lantas kalau bukan seperti itu, kenapa kamu setuju menikah dengan Sakti?”
Ambar pun menceritakan semuanya mengenai apa yang pernah ia dengar dari Sintia yang tentu saja membuat Ariyani terkejut bukan main.
****
“Kamu mengkhawatirkan wanita itu dibanding Mamamu?”
“Mama kan tahu kalau saat ini Ambar sudah menjadi istriku, wajar kalau aku mengkhawatirkannya.”
“Aku sama sekali tidak diapa-apakan, Sakti,” jawab Ambar yang baru masuk ke ruangan ini.
“Apakah kamu dengar apa yang barusan dia katakan?”
Sakti nampak masih tak memercayai Ambar hingga Sakti mendesak supaya Ambar mengatakan yang sejujurnya padanya namun Ambar mengatakan kalau ia sama sekali tidak berdusta perihal kalau Ariyani sama sekali tidak melakukan hal buruk padanya.
__ADS_1
“Aku tidak diapa-apakan, Sakti. Tolong kamu percayalah padaku.”
“Baiklah, aku akan memercayaimu Ambar.”
Ariyani sejujurnya merasa cemburu karena Sakti begitu mendengarkan yang Ambar katakan ketimbang dirinya, Ariyani menatap tajam Ambar yang mana tatapan itu membuat Ambar menundukan kepalanya sementara Ariyani mengatakan bahwa ia akan selalu ada untuk Sakti.
“Mama harus pergi sekarang namun nanti Mama pasti akan kembali mengunjungimu di sini.”
****
Selepas Ariyani pergi nampak Sakti kembali mendesak Ambar untuk bercerita yang sejujurnya mengenai apa yang terjadi di antara dirinya dan Ariyani, apakah Ariyani melakukan kekerasan padanya atau tidak dan Ambar pun dengan tegas mengatakan bahwa Ariyani sama sekali tidak melakukan kekerasan apa pun padanya dan ia meminta Sakti untuk memercayainya.
“Tolong kamu percaya padaku, Sakti. Aku sama sekali tidak berdusta padamu.”
Sakti pun akhirnya luluh dan memercayai apa yang Ambar katakan, dokter masuk ke dalam ruangan inap untuk memeriksa bagaimana kondisi Sakti saat ini. Selepas pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter, dokter mengatakan kalau kondisi Sakti sudah semakin membaik dan kalau Sakti terus membaik kondisinya maka pria ini akan boleh diizinkan untuk pulang.
“Syukurlah kalau begitu, Dokter.”
“Saya permisi dulu.”
Dokter pun kemudian pergi dari ruangan ini bersama perawat, Sakti tentu saja bahagia mendengarnya karena ia sudah tidak betah berlama-lama tinggal di rumah sakit. Ambar dan Warsinih pun juga ikut lega mendengar kabar baik yang dibawa oleh dokter barusan, tidak lama setelah dokter berlalu dari ruangan inap Sakti nampak Valdo dan Sintia datang untuk menjenguk keadaan Sakti saat ini. Ambar bercerita pada mereka berdua bahwa Sakti kondisinya membaik dan kalau begini terus maka Sakti akan diizinkan pulang segera oleh dokter.
****
Sandrina datang menjenguk Regan di rumah yang dikhususkan oleh Helga sebagai tempat ia mengurung Regan di sini. Kedatangan Sandrina ke rumah ini disambut dingin oleh Regan bahkan pria itu cenderung dingin dan memusuhinya, Sandrina menghela napasnya panjang dengan sikap Regan yang sama sekali tidak berubah itu. Sandrina mengatakan ia datang ke sini untuk mengajukan gugatan cerai pada Regan yang mana ucapan Sandrina barusan membuat Regan terkejut.
“Apakah aku tidak salah dengar barusan?”
“Tentu saja kamu tidak salah dengar, aku akan menggugat kamu cerai.”
Regan tentu saja bahagia dengan keputusan Sandrina yang ingin berpisah darinya namun sebelum itu ia sempat meminta tolong pada Sandrina.
__ADS_1
“Bolehkah aku meminta bantuanmu sekarang?”
“Bantuan apa?”