
Ambar mendapatkan sebuah telepon dari rumah sakit yang mana pihak rumah sakit memberikan kabar pada Ambar bahwa saat ini Warsinih tengah mendapatkan penanganan akibat kecelakaan yang dialami oleh ibunya itu. Ambar yang mendengar itu pun tentu saja terkejut bukan main, ia tidak menyangka kalau saat ini ibunya sedang mengalami kecelakaan dan dirawat di sebuah rumah sakit. Setelah mendapatkan telepon dari rumah sakit itu, Ambar memberitahu ayah dan adiknya yang mana akhirnya mereka pun segera pergi menuju rumah sakit tempat di mana ibunya berada. Ketika mereka tiba di rumah sakit nampak Warsinih belum sadarkan diri dan mendapatkan penanganan di ruangan IGD, Ambar tentu saja sangat sedih dan takut sekali ketika membayangkan hal-hal yang buruk mungkin saja dapat terjadi pada sang ibu. Cukup lama sang ibu mendapatkan perawatan di ruangan itu sampai akhirnya dipindahkan ke ICU karena kondisi Warsinih masih cukup parah dan belum sadarkan diri. Ambar sekeluarga tentu saja khawatir dengan kondisi Warsinih sekarang hingga akhirnya Ambar pun mendapatkan telepon dari Sakti dan kali ini Ambar bersedia untuk menjawab telepon dari pria itu.
“Halo Sakti.”
“Akhirnya kamu menjawab juga teleponku, Ambar.”
Sakti mendengar bahwa saat ini suara Ambar bergetar dan tentu saja Sakti langsung bertanya pada Ambar mengenai apa yang sebenarnya terjadi hingga Ambar pun mengatakan semuanya pada Sakti bahwa saat ini ibunya mengalami masa kritis di rumah sakit. Sakti meminta alamat di mana rumah sakit tempat Warsinih berada, Ambar langsung memberikan alamat yang diinginkan oleh Sakti itu dan rupanya tidak lama kemudian Sakti langsung datang dan menghampiri Ambar.
“Apa yang terjadi pada ibumu? Kenapa bisa beliau di sini?”
Ambar menggelengkan kepalanya karena memang jujur saja Ambar tidak tahu menahu kenapa akhirnya sang ibu bisa berakhir di rumah sakit ini karena sebelumnya ia tidak pernah menelpon atau menanyaka bagaimana kabar ibunya yang memilih untuk tetap tinggal di rumah tersebut ketika ia dan keluarganya yang lain memutuskan pindah.
****
Kondisi Warsinih sudah membaik dan ia dipindahkan ke ruangan inap biasa setelah melewati masa kritisnya selama hampir beberapa hari, tentu saja Ambar begitu bahagia karena sang ibu berhasil melewati masa kritis dan kemudian dapat pindah ke ruangan inap biasa namun yang membuat Ambar menjadi tidak enak adalah karena Sakti masih memedulikannya, Sakti membayarkan semua biaya rumah sakit Warsinih yang tentu saja membuat Ambar menjadi tidak enak. Ambar sempat menolak apa yang hendak Sakti lakukan namun karena pihak rumah sakit mendesak supaya Ambar segera melunasi biaya rumah sakit agar Warsinih mendapatkan penanganan segera maka ia tidak memiliki pilihan yang lain kecuali menerima uluran bantuan dari Sakti walaupun sejujurnya Ambar sangat tidak nyaman dengan hal ini.
“Maafkan aku karena lagi-lagi sudah merepotkanmu, Sakti.”
Sakti menggelengkan kepalanya, ia meminta Ambar untuk jangan mengatakan itu karena dirinya juga senang membantu Ambar. Sakti tidak bisa lama-lama di rumah sakit karena harus pergi bekerja, Sakti pun pamit pada Ambar.
“Sekali lagi terima kasih banyak, Sakti.”
“Tidak masalah, nanti aku pasti akan kembali lagi ke sini.”
Sakti pun melangkahkan kakinya pergi dari rumah sakit ini sementara Ambar menunggui sang ibu yang sampai saat ini belum juga ada tanda-tanda bahwa akan siuman.
__ADS_1
****
Helga begitu bahagia sekali karena rencananya berhasil dan membuat Warsinih masuk rumah sakit, Helga kemudian mendapatkan informasi di mana rumah sakit tempat Warsinih dirawat dan tentu saja Helga langsung menuju ke sana untuk memastikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa memang saat ini Warsinih sedang tidak baik-baik saja kalau bisa wanita itu mati saja sekalian dalam pikirannya. Helga tiba di rumah sakit tempat Warsinih dirawat dan ia menuju ruangan inap wanita itu yang mana di dalamnya ada Ambar yang sedang menjaga Warsinih. Helga tentu saja tidak masuk ke dalam karena ia tidak mau membuat keributan di rumah sakit ini, Helga hendak berbalik badan dan ia bertemu dengan Danu yang nampak terkejut dengan kedatangan Helga ini.
“Apa yang Nyonya lakukan di sini?”
“Bukan urusanmu,” ujar Helga ketus dan langsung berjalan menjauhi Danu.
Danu sendiri menghela napasnya dan kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan inap istrinya, Ambar langsung bertanya pada sang ayah siapa gerangan yang barusan datang dan Danu pun mengatakan bahwa ia tadi sempat bertemu dengan Helga di depan sana.
“Apa kata Ayah?”
“Iya, tadi ada nyonya Helga di depan, Ayah bertemu dengannya di depan, apakah dia tidak masuk ke sini tadi?”
****
Sandrina mendatangi kantor Regan untuk menemui suaminya itu, Regan nampak tidak suka ketika didatangi oleh istrinya itu dan Regan memilih untuk mengacuhkannya. Sandrina sendiri tidak peduli dengan sikap Regan yang seperti ini, ia tetap saja menggoda pria itu dan membuat Regan menjadi tidak fokus dalam bekerja.
“Sandrina, apa yang kamu lakukan ini? Apakah kamu tidak dapat melihat bahwa saat ini aku sedang bekerja?”
“Tentu saja aku tahu bahwa saat ini kamu sedang bekerja, oleh sebab itu aku datang ke sini.”
“Justru ketika aku sedang bekerja, aku tidak mau digganggu oleh siapa pun, keluar sekarang juga.”
Namun Sandrina tidak memedulikan itu, ia tetap saja menggoda suaminya itu yang membuat Regan kesal dan meminta Sandrina keluar sekarang juga.
__ADS_1
“Aku melakukan semua ini karena kamu jarang tidur denganku padahal kita ini sudah resmi menikah, Regan.”
“Aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku menikah denganmu untuk melindungi Ambar dari kejahatan mamaku, satu-satunya orang yang aku cintai adalah Ambar jadi jangan berharap lebih padaku.”
“Jadi kamu tidak masalah jika aku menjalin hubungan dengan pria lain? Apakah kamu tidak akan cemburu kalau aku melakukannya?”
“Aku sama sekali tidak peduli akan hal itu, lakukan saja apa yang kamu suka dan jangan recoki kehidupanku.”
****
Valdo menemui Sakti dan mengatakan bahwa ia berencana akan tetap menikah dengan Sintia apa pun yang terjadi. Sakti nampak terkejut dengan keputusan Valdo itu, Sakti sudah berusaha membicarakan ini dengan Valdo secara baik-baik dan mengatakan bahwa Sintia bukanlah wanita yang baik dan ia tidak ingin Valdo menjadi korban lagi namun Valdo tidak memedulikannya, Valdo mengatakan bahwa ia akan tetap menikah dengan Sintia apa pun yang terjadi. Sakti tidak dapat tinggal diam dan kemudian ia langsung menghubungi Sintia untuk menanyakan di mana wanita itu berada.
“Tumben kamu menghubungiku, Sakti.”
“Di mana kamu sekarang?”
“Aku ada di apartemenku, memangnya kenapa?”
“Tunggu di sana, aku akan pergi menemuimu.”
Sakti tidak membuang waktunya dan langsung pergi menuju apartemen Sintia dan ketika ia sudah tiba di sana, Sintia langsung membukakan pintu untuk Sakti.
“Kenapa kamu mau menemuiku di sini, Sakti?”
“Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan, Sintia?”
__ADS_1