
Ambar hanya dapat menghela napasnya karena ibunya saat ini seperti sangat mendukung apa yang Sakti lakukan dan bahkan Warsinih sendiri sepertinya begitu bahagia mendapatkan sesuatu yang baik dari Sakti. Warsinih pun terus juga mendesak Ambar untuk jangan menolak apa yang diberikan oleh Sakti hingga akhirnya Ambar pun menuruti apa yang ibunya katakan, tentu saja Warsinih bahagia karena Ambar sudah membuat keputusan dan tentu saja selain Warsinih ada juga Sakti yang turut bahagia dengan keputusan yang telah Ambar buat barusan. Kini Sakti pun memberikan kunci rumah itu pada Ambar dan mengatakan kalau kapan pun mereka dapat pindah ke rumah itu dan soal perabotan yang ada di dalam rumah nanti Sakti akan coba belikan untuk mereka namun Ambar
menolaknya.
“Kamu sudah terlalu banyak membantu keluarga kami, tolong jangan lakukan hal lain lagi.”
“Sudahlah Ambar, kamu jangan merasa tidak enak begitu, aku senang kok membantu kalian.”
Sakti pun kemudian pamit pulang dari rumah ini dan selepas Sakti pulang nampak Warsinih begitu bahagia dengan keputusan yang telah Ambar buat barusan, ia mengatakan kalau Ambar telah mengambil sebuah keputusan
yang tepat dan Sakti adalah orang yang baik karena sangat peduli pada Ambar. Ambar sendiri tidak mau terlalu menanggapi apa yang ibunya katakan barusan, ia hanya merasa tidak enak pada Sakti yang terus menerus membantu keluarganya. Ambar pun kemudian menyiapkan makanan untuk keluarganya dan saat makan bersama
itu Warsinih menceritakan pada suaminya bahwa Sakti sangat baik sekali pada keluarga mereka.
“Baik sekali Sakti, ya.”
“Begitulah, aku saja tidak percaya kalau ada orang sebaik itu, kamu harus bersyukur untuk memiliki teman yang baik seperti itu, Ambar,” ujar Warsinih.
Ambar hanya diam dan melanjutkan makannya, setelah makan Ambar kemudian segera mencuci piring kotor supaya tidak terlalu lama berada dalam obrolan yang membuatnya tidak nyaman seperti barusan dan setelah mencuci piring kotor kini Ambar pun berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya.
****
Sintia kembali berkunjung ke rumah Regan namun satpam masih tidak mau membukakan pintu untuknya walaupun Sintia sudah mengatakan bahwa Regan membolehkannya untuk masuk ke dalam namun satpam tersebut
mengatakan bahwa ia menuruti perintah dari Helga yang mana ucapan satpam barusan membuat Sintia naik pitam.
“Tuan di rumah ini adalah mas Regan, bagaimana mungkin kamu menuruti apa yang dikatakan oleh orang lain dan bukan pemilik rumah ini?”
“Maaf Nona akan tetapi nyonya Helga yang meminta saya melakukan ini, kalau saya tetap membolehkan anda masuk maka saya dalam bahaya dan beliau dapat memecat saya.”
Sintia nampak muak dengan ucapan satpam ini yang menurutnya tidak masuk akal, ia tetap berusaha untuk menerobos masuk ke dalam namun satpam tetap tidak mengizinkannya dan menghalanginya hingga mobil Helga
muncul di dekatnya. Wanita itu turun dari dalam mobil dan menatap tajam Sintia, Helga pun mengusir Sintia dari rumah ini dan jangan pernah mengganggu anak dan cucunya lagi.
__ADS_1
“Namun aku datang ke sini atas undangan mas Regan, aku tidak akan pergi.”
“Berani sekali kamu menentang apa yang aku perintahkan, kamu pilih pergi sekarang atau aku akan memanggil polisi untuk membuatmu masuk penjara.”
“Polisi? Aku bahkan tidak melakukan hal buruk apa pun atau melakukan tindakan kriminal, kenapa juga aku harus dilaporkan pada polisi?!”
****
Regan mendengar keributan dari depan rumahnya, ia segera keluar dan melerai perdebatan antara mamanya dan Sintia, Regan mengatakan bahwa mamanya tidak boleh mengusir Sintia karena memang dirinya yang mengundang Sintia ke rumah ini. Sintia tentu saja bahagia karena untuk pertama kalinya Regan mau membelanya di depan sang mama, Helga sendiri nampak tak memercayai apa yang dikatakan oleh putranya, Helga pun curiga bahwa Sintia
sudah melakukan hal yang buruk pada putranya.
“Apa yang sudah wanita ini lakukan padamu, Nak? Apakah dia sudah melakukan guna-guna sampai kamu menuruti apa yang dia katakan?”
“Mama jangan sembarangan bicara, dia sama sekali tidak melakukan seperti apa yang Mama tuduhkan barusan, aku memang mengundang Sintia atas keinginanku sendiri.”
“Tidak mungkin, sebelumnya sikapmu sama sekali tidak seperti ini jadi Mama sangat yakin kalau semua ini karena wanita ini telah melakukan guna-guna padamu.”
“Diam kamu! Jangan mentang-mentang sekarang Regan mendukungmu maka kamu bisa bersikap kurang ajar padaku!”
“Ma, tolong jangan bersikap seperti itu pada Sintia.”
Helga nampak tak percaya ketika Regan membela Sintia dari pada dirinya, Helga pun segera masuk ke dalam rumah itu dan tak memedulikan mereka berdua lagi.
****
Ambar ditemani oleh Sakti tiba di rumah yang akan Ambar dan keluarganya tempati, Sakti mengatakan bahwa ia sudah menyuruh tukang untuk membersihkan rumah ini dan mengecat seluruh rumah supaya menjadi lebih
baik dan enak dipandang namun Ambar menolaknya dan mengatakan bahwa ia bisa mengurus semuanya sendiri.
“Kamu yakin?”
“Iya, kamu sudah terlalu banyak membantuku maka aku jadi tidak enak dengan kebaikanmu ini.”
__ADS_1
“Kamu jangan merasa tidak enak begitu Ambar, aku ikhlas menolongmu.”
Walaupun Sakti mengatakan demikian namun tetap saja Ambar merasa tidak enak mendapatkan bantuan terus dari Sakti apalagi sekarang bantuan dari pria itu besar sekali seperti ini, ia tidak hentinya berterima kasih pada Sakti dan mengatakan bahwa ia akan membalas kebaikan Sakti suatu hari nanti.
“Kamu tak perlu memikirkan soal itu, apakah kamu lapar? Bagaimana kalau kita makan bersama? Di sekitar sini ada restoran yang masakannya enak, mungkin saja kamu akan menyukainya.”
“Maaf namun aku tidak lapar, aku pulang saja dan mulai mengemasi pakaianku.”
“Kalau begitu biar aku antar kamu pulang.”
“Tidak perlu, kamu pergi makan saja, aku bisa pulang sendiri.”
Ambar pun kemudian bergegas pergi dari rumah itu dan Sakti hanya dapat melihat Ambar berjalan menjauh darinya. Sakti tersenyum karena akhirnya Ambar mau juga menerima bantuan darinya.
****
Setelah Sintia pulang kini Helga masih ada di rumah Regan, ia masih tak memercayai kenapa Regan mau saja menerima Sintia di rumah ini padahal Helga sudah mengatakan kalau ia tidak setuju dengan hubungan mereka
berdua.
“Ma, aku mencintai Sintia.”
“Jangan bicarakan omong kosong itu di depanku, Regan.”
“Aku sama sekali tidak mengatakan omong kosong namun aku mengatakan yang sejujurnya.”
Helga menggelengkan kepalanya, ia tidak memercayai apa yang dikatakan oleh Regan barusan yang menurutnya seperti sebuah omong kosong.
“Apakah kamu lupa bahwa Mama tidak akan menerima dia sebagai menantu Mama walaupun kamu dan Ambar bercerai?”
“Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai dan Sintia adalah orangnya.”
“Apakah kamu yakin bahwa kamu mencintai wanita itu? Dulu juga ketika kamu berusaha meyakinkan Mama untuk menerima Ambar sebagai istrimu kamu juga mengatakan hal yang sama namun lihat faktanya, setelah kalian menikah justru kamu berpaling darinya dan malah memilih wanita itu.”
__ADS_1