Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
S2_memulai kembali


__ADS_3

sekarang Joshua dan Darwin menandatangani pemindahan kepemimpinan perusahaan.


sekarang Darwin yang menjadi Presdir mengantikan Joshua. dan Joshua masuk jajaran direktur utama.


Darwin tetap menjabat pemilik perusahaan miliknya meski kepemimpinan akan di pegang oleh Leo.


dia harus fokus pada semua usahanya, terlebih dia harus menjadi kebanggaan keluarganya.


sedang keluarga Amadea tak bisa memaksakan kehendak pada Darwin, jika tidak mereka hancur.


jadi terpaksa Hafsah masih menjadi Presdir di perusahaan itu, tapi David akan mengambil alih saat dia sudah siap.


terlebih dia juga masih berusia sangat muda saat ini, dua puluh tahun tapi Hafsah terus memintanya untuk mengantikan posisinya karena kesehatan yang terus menurun.


"kak, apa aku terima saja tawaran opa Hafsah, agar kita bisa mengatur dua perusahaan itu, agar Oma Vina tak berulah lagi dengan memaksamu," usul David.


"tapi kamu yakin dav, kamu akan tinggal dan menetap di Austria untuk waktu lama, dan itu akan membuat mu jauh dari Sabrina, kamu yakin?" tanya Darwin.


"jika demi keluarga kita aku bisa, dan jika aku dan gadis itu berjodoh aku pasti akan menikah dengannya, apapun yang terjadi," jawab pria itu yakin.


"baiklah kamu bisa pergi dan menjadi kepala keluarga Amadea, dan buktikan pada Samuel dan orang tua Sabrina, jika kamu layak," jawab Darwin.


David mengangguk, bukan dia mendukung adiknya David, dan tak mendukung Dylan untuk mendapatkan Sabrina, tapi dari penglihatannya.


David pria yang bisa menghadapi gadis seperti Sabrina yang selalu di didik mandiri.


apalagi Samuel bukan pria yang bisa di hadapi, sedang Dylan terlalu lemah untuk menjadi suami Sabrina.


bisa-bisa pria itu menjadi suami takut istri, apalagi belum lagi tekanan dari keluarga Graham juga begitu besar.


Darwin besok akan mulai bekerja, dan besok akan melakukan perombakan besar-besaran.


apalagi dia tau jika perusahaan itu di ambang kehancuran, dan dia akan mencari model untuk mengiklankan segala produk milik perusahaan itu.


mulai dari kain, perhiasan dan juga makanan ringan, karena itu dia mungkin akan sangat sibuk.


"Darwin mau kemana?" tanya Joshua melihat putranya ingin pergi.


"mau menemui calon nyonya Darwin Alexander Amadea Gusman, jadi jangan melarangku atau besok aku tak semangat untuk menghancurkan perusahaan tua ini," kata Darwin pada ayahnya.


"ya! pria muda brengsek, kau hidup dari perusahaan ini juga, dasar bocah gila!" teriak Joshua tak habis pikir.


"sabar Joshua, ingat tekanan darah mu, dia hanya bercanda, kau tak melihat dia tertawa," kata Novan.


"terserah saja, dan besok kamu juga sudah mulai bisa fokus pada pekerjaan dan usaha milik mu sendiri, saat putraku itu sudah menanggani segalanya," kata Joshua.


"siap bos," jawab Novan tertawa.


Darwin menuju ke rumah keluarga lama Gusman, di rumah itu penjagaan super ketat.


bahkan hampir semua penjaga siap mati yang menjaga rumah itu, saat dia masuk bersama Aldo.


pria itu harus melalui pengecekan terlebih dahulu, dan benar saja di rumah itu sudah ada Adelia dan Oma Laura.


Darwin menyapa dua wanita itu dengan hangat, bahkan Darwin mengacuhkan keberadaan mama Vina yang juga Omanya.


"aku ingin bertemu Bunga, permisi dulu," kata Darwin.


"baiklah bocah nakal Oma, tapi ingat jangan membuatnya syok," kata mama Laura.


"oke oma sayang,"


Darwin masuk keruangan itu, tak lama Sabrina keluar sambil kesal, "bang Aldo resek, ayo antar aku pergi Sebentar," kata gadis itu terpaksa.

__ADS_1


"memang aku siapa, kenapa aku harus menurut dengan mu," kata Aldo sinis.


tapi Aldo tak punya maksud lain, dia juga ingin gadis itu memintanya lagi, tapi sayang perkiraannya salah.


"jika kamu mau pergi, aku bisa mengantarmu," suara David mengejutkan Sabrina.


"tapi aku takut dengan mu," kata Sabrina jujur


tanpa bicara David langsung mengendong Sabrina seperti karung beras.


Aldo tak mungkin melawan David yang mempunyai segalanya, bahkan sebenarnya pria itu yang memiliki janji pernikahan dengan Sabrina.


sedang Darwin yang di kamar bunga sedang memohon kepada wanita itu agar tak marah lagi.


Bunga pun tertawa melihat Darwin yang seperti anak kecil yang merengek, tanpa di duga dia langsung memeluk Darwin.


"aku mencintaimu, tapi aku takut semua orang di sekitarku akan mati karena ku, termasuk mas..." lirih gadis itu.


"itu tak mungkin, aku akan menjadi orang pertama yang menjadi pelindung mu, dan aku yakin itu, nyonya Darwin," kata pria itu tertawa.


"tapi sebelum memanggilku begitu, kamu harus menikahiku dulu, kau lupa tuan," kata Bunga tertawa.


"besok malam kita menikah, kau mau?" tanya Darwin.


"kau bercanda, dan itu tak lucu," kata bunga mencubit perut Darwin.


keduanya pun tertawa bersama, bunga selalu merasa aman di pelukan Darwin.


dia tau jika banyak orang yang ingin menjadi wanita di samping Darwin, dan dia sepertinya harus mulai melakukan pelatihan untuk bisa tetap mempertahankan posisinya.


dia tau siapa orang yang tepat untuk melatihnya, yaitu Oma Laura yang juga bukan wanita biasa.


Darwin tertidur di samping Bunga dengan lelap, dan tangan wanita itu sudah tak terpasang infus lagi.


dia pun keluar dan melihat mama Vina yang masih belum pulang, tapi tak terduga mama Laura langsung menghampiri bunga.


"aku ingin bicara sesuatu pada Oma, jadi bisakah kita bisa bicara berdua," mohon Bunga.


"tentu, ayo kita ke perpustakaan milik opa mu, ayo ..." kata mama Laura.


keduanya pun masuk ke ruang perpustakaan, sedang di ruang tamu Adelia meminta mama Vina untuk pulang.


agar wanita itu tak menyakiti hati Bunga lagi, dan mama Vina pun tak bisa berbuat apa-apa.


tapi dia masih bisa bertindak untuk mempengaruhi semua orang melalui Hafsah, karena dia tak ingin di buang oleh anak dan sahabatnya.


"Oma bisakah aku menjadi wanita kuat seperti mama Adelia untuk berdiri di samping mas Darwin, dia pria sempurna dengan semua yang dia miliki, wajah, harta, uang dan segalanya sempurna, tapi aku hanya gadis biasa bahkan yatim piatu Oma, jadi aku hanya bisa memohon pada Oma untuk mengajariku agar bisa kuat," kata Bunga memohon.


"tentu nak, kamu juga harus menjadi kuat seperti mama mertua mu, apalagi Darwin memang lebih dari Joshua, jadi Oma akan menemani dan membimbing mu," kata Oma Laura.


"terima kasih Oma ..." kata Bunga dan mama Laura yang kemudian berpelukan.


mama Laura memberikan tiga buku yang cukup tebal pada Bunga, mama Laura ingin Bunga membaca buku itu sebelum mulai pembelajaran.


bunga di bantu oleh pak Zul untuk membawa buku itu ke kamar, ternyata Darwin masih tidur dengan sangat nyenyak.


"apa nona ingin sesuatu lagi?" tanya pak Zul.


"tolong bisakah membuatkan saya jus buah jeruk ya pak, terima kasih," kata Bunga sopan.


"baik nona," jawab pak Zul tersenyum.


pak Zul pamit, dan bunga mulai membaca setiap buku yang mama Laura berikan.

__ADS_1


bahkan dia merasa ikut masuk kedalam setiap kata yang tertulis di buku itu.


bahkan dia juga menangis saat membaca bagian tersedia dalam buku itu, Bunga bahkan tak mengira akan melihat sebuah cerita yang begitu mengharukan itu.


Bunga bahkan sampai lupa waktu saat membaca cerita itu, "nona minumannya,"


"terima kasih pak, uh ... kenapa aku bisa sesedih ini," kata bunga menghapus air matanya.


"karena cerita itu adalah cerita tentang tuan besar Abian dan nyonya Citra, cinta tak mengenal waktu dan perbedaan usia," jawab pak Zul.


"memang pak Zul tau cerita ini?" tanya Bunga penasaran.


"pasti tau nona, karena semua pelayan rumah ini adalah keturunan dari anak cucu turun temurun, dan kakek buyut saya yang melayani mereka," jawab pak Zul.


"cinta indah dan begitu mengharu biru, apa aku dan mas Darwin bisa


menjadi pasangan seperti opa buyut," kata bunga.


"nona dan tuan muda punya kisah sendiri, dan semoga tak ada kisah seperti mereka, meski mengharukan tapi begitu banyak halangan yang mereka miliki hingga bisa bahagia," jawab pak Zul.


"bapak benar, terima kasih ya penjelasannya," kata Bunga.


dia harus sekuat Citra untuk menghadapi semua wanita yang ingin merebut Darwin dari sisinya.


bunga pun melanjutkan membaca, sedang Darwin yang tak merasakan kehadiran Bunga.


akhirnya dia terbangun dan melihat Bunga yang sedang membaca, "sayang kamu sedang apa?"


bunga menoleh dan langsung menghampiri Darwin dan mengusap rambut pria yang dia cintai itu.


"aku sedang membaca saja, mas mau mandi dulu ya, sudah hampir malam," kata Bunga dengan lembut.


"iya sayang, setelah itu kita makan di luar yuk," ajak Darwin.


"kalau itu izin mama dan Oma dulu ya, aku tak bisa keluar sebelum dua ratu itu tidak mengizinkan," jawab Bunga


"bisa bahaya kalau harus izin dua ratu negara itu, bisa-bisa tidak jadi," kata Darwin.


"kita makan di luar aja kak, aku Dan Sabrina sudah belanja, jadi kita makan barbeque di rumah saja," jawab David yang baru datang.


"benarkah, baiklah kalau begitu, dan sekarang mas Darwin harus mandi sebelum ikut makan bersama kami ya," kata Bunga.


darwin pun mengiyakan dan bangun untuk mandi, sedang bunga bergegas ke dapur ternyata Adelia dan mama Laura sudah sibuk bersama dengan Sabrina.


"bisakah aku membantu Oma, mama ..."


"tentu sayang, bantu Sabrina untuk menyiapkan bahan untuk sate, dan tolong jangan lelah ya," kata Adelia lembut.


"baik mama ..." jawab Bunga.


tak lama Joshua datang bersama Dylan, Joshua mengusap rambut bunga.


sebelum memberikan pelukan dan ciuman pada Adelia, sedang dylan memeluk mama Laura.


Darwin yang selesai mandi dan telihat rambut basahnya bingung, "Bunga tolong aku sebentar!" teriaknya dari dalam kamar bunga.


"iya mas ..."


Bunga datang ke kamar, dan mencuci tangan sebelum menghampiri pria tercintanya itu.


ternyata rambut Darwin sudah sangat panjang, bunga pun membantu mengeringkan rambut Darwin.


tak hanya itu, bahkan bunga juga membantu mengikat rambut Darwin dengan sangat rapi.

__ADS_1


sedang David yang melihat kedatangan Dylan, langsung menculik Sabrina untuk membantunya.


saat Dylan ingin menghampiri keduanya, dan Joshua menahan Dylan untuk pergi, dia meminta putranya itu melanjutkan membuat sate.


__ADS_2