Anak Genius: Putra Sang CEO

Anak Genius: Putra Sang CEO
kemarahan Joshua


__ADS_3

Joshua bergegas pergi untuk menghampiri Novan dan Darwin, pasalnya saat ini hanya keduanya yang bisa melacak William.


Tapi tak di duga, saat dia baru sampai markas, dia malah melihat Zarina yang sedang santai memakai cat kuku.


"Darwin! Novan! keluar!" teriak Joshua murka karena melihat wanita di markas mereka.


Mendengar teriakan itu, Zarina kaget hingga menumpahkan cat kuku miliknya.


"Hei tuan, tuh mulut bisa Santai sedikit gak, gak usah teriak-teriak disini, ini itu bukan hutan," kata Zarina marah pada Joshua.


"Siapa kamu berani memerintah saya," kata Joshua.


"Cih, muka saja ganteng tapi mulut pedas sekali," kata Zarina mengejek Joshua.


Tanpa ampun Joshua langsung mencengkram dagu Zarina dengan kuat.


"Kau pikir aku tak kan pernah melukai Wanita, kau salah besar," kata Joshua tak bisa menahan diri lagi.


melihat Zarina yang sudah tersudut, Darwin dan Novan bergegas melerai keduanya.


"Papa, lepaskan Om Zarina, dia adalah kunci untuk mendekati William," kata Darwin mencoba melepaskan tangan Joshua.


"Novan, kamu tau jika aku tak menyukai hal seperti ini, aku sudah memberimu waktu, dan jika kamu tak menyelesaikan, kamu tau konsekuensinya," kata Joshua melempar Zarina.


Darwin membantu Zarina, sedang Joshua berdiri di depan Novan, "kau tau jika aku tak suka membuang waktu, selesaikan atau aku akan membuat mu menyesal selamanya," kata Joshua.


"Baik bos, aku mengerti" jawab Novan.


"Dasar pria gila, setidaknya kamu harus berterima kasih karena aku mau membantumu," kata Zarina yang memegangi wajahnya.


"Tutup mulutmu, jika tidak aku bisa merobek mulutmu itu, dan membuatmu berakhir di rumah sakit, dan jangan kira aku tak tau jika William memberikan harta dan uang padamu sebagai simpanannya," kata Joshua dingin.


Zarina terdiam sambil cemberut, pasalnya Joshua begitu kejam pada dirinya.


Dia pun tak habis pikir melihat pria dingin di depannya itu, lagi pula dia menyimpan rahasia Joshua kecil.


"Ya! kau sudah melupakan ku, dasar pria gila, aku akan memberitahu pada istrimu jika suaminya suka mengompol saat masih SD," kata Zarina kesal.


Darwin dan Novan menahan tawa, sedang wajah Joshua merah padam, pasalnya yang mengetahui hal memalukan itu hanya Zakaria dan dirinya.


"Tutup mulutmu, sebenarnya kamu siapa? bagaimana kau tau hal memalukan itu," kata Joshua ingin mendekat kerah Zarina.

__ADS_1


"Ya! kamu lupa jika aku sering main ke rumahmu, cih... kau melupakan sahabatmu ini setelah pergi ke luar negeri," kata Zarina.


"Zakaria," panggil Joshua sedikit mundur.


"Ya aku Zakaria Purnomo, putra kedua keluarga Purnomo, puas," kata Zarina marah.


"Kenapa kamu pindah alam," kata Joshua takut.


"Kamu kira aku hantu, aku ini masih manusia tau, sudah sini minta maaf," kata Zarina ingin mendekat.


"Maaf, ku harus menemani istriku, kalian cepat selesaikan dan bawa William padaku," kata Joshua berlari pergi.


"Jojo kembali, kamu tak ingin memelukku karena bertemu lagi, kita sudah lama tak bertemu," kata Zarina kesal.


"Maaf, aku alergi dengan Wanita jadi-jadian," jawab Joshua pergi.


Joshua tak ingin berlama-lama berurusan dengan wanita seperti Zarina.


Sedang Adelia sedang duduk di taman bunga sambil menikmati waktu sore hari yang tenang.


Mobil milik mama Laura datang untuk menginap di rumah Adelia, karena papa Federico sedang mengurusi masalah William di luar negeri.


Tak lama Joshua juga datang dan membawa semua pesanan Adelia.


Dia harus merebut semua hal yang harusnya jadi miliknya, bukan Joshua apalagi setelah semua kejadian yang menimpa dirinya dan sang ibu.


Sedang di rumahnya William bersiap untuk pergi ke Amerika, dia harus bersembunyi dan negara ini tak aman untuk dirinya.


Pasalnya dia sudah masuk dalam jajaran DPO internasional, Darwin mengawasi dari balik layar.


Lena dan Novan bergerak, mereka akan meringkus William, mereka juga membawa semua anak buah Darwin.


Mereka pun sampai di rumah mewah itu, tapi saat mereka melihat mobil yang berisikan dua orang sudah menancap gas keluar dari rumah itu.


Mereka memecah tim jadi dua kelompok, kelompok pertama mengeledah seluruh rumah untuk mencari bukti lain.


Sedang kelompok kedua mengejar William yang sudah kabur bersama istrinya itu.


Mobil itu mengarah keluar Surabaya, tapi Lena tak sesabar itu, wanita itu langsung bersiap dengan senjata yang di bawanya.


"Sayang kamu jangan gila, jika kamu menebak mobil itu akan membuat kekacauan besar, dan kita berurusan dengan kepolisian," kata Novan yang masih fokus mengemudikan mobil mengejar mobil William.

__ADS_1


"Tapi aku tak sabar untuk membunuhnya," kata Lena.


Mereka seakan koboi jalanan, mereka saling kejar dengan kecepatan tinggi.


Akhirnya mobil William berbelok ke area yang cukup sepi, Lena pun memasang peredam suara tembakan pada pistol miliknya.


Setelah itu menembak ban mobil hingga akhirnya mobil itu kehilangan kendali dan terbalik setelah menghantam pembatas jalan.


Anak buah mereka segera membawa keduanya yang sudah luka parah, "bereskan semua bukti dan saksi mata, ingat jika tidak nyawa kalian gantinya," kata Novan sebelum pergi.


"Baik asisten Novan," kata para pengawal itu.


Sedang di pesawat menuju Jepang, Hans berhasil mengorek semua keterangan dari mulut Viona, dia juga mengetahui beberapa perusahaan yang di bawah nama gadis itu.


"Viona, sepertinya aku harus kembali ke Indonesia, karena bos Joshua sedang mengalami masa-masa sulit, aku tak bisa meninggalkan merekam," kata Hans khawatir.


"Tapi pesawat kira baru mendarat di Tokyo, dan kamu sudah ingin meninggalkan diriku," kata Viona sedih.


"Maaf Viona, dia harus membantu Joshua membereskan kekacauan dari papi mu," kata Felix yang datang membawa pengawal dari rumah utama Gusman.


"Tunggu kalian berdua menjebak diriku, kak Hans, aku selalu mencintaimu tapi kenapa kamu melakukan ini padaku," kata Viona menangis melihat Hans.


"Tapi sayangnya, aku hanya melakukan pekerjaan ku, karena ada seseorang yang tulus menungguku," kata Hans menyeringai.


"Baiklah Hans, pergi dengan pesawat milikku, dan temui gadis itu dan bantu Joshua, dan ada satu hal lagi, berhati-hatilah karena William pernah mengunakan identitas dari Federico untuk menipu beberapa wanita," kata Felix.


"Baik tuan," jawab Hans bergegas pergi.


Sedang Felix membawa Viona ke pesawat lain, mereka akan berangkat ke Austria untuk menemui keluarga utama.


Karena tuan Frenky harus mendidik cucu perempuannya itu, Felix pun memperlakukan Viona seperti seorang tahanan.


Viona pun berontak dan berhasil melarikan diri, dan gadis itu pun berlari sebisa mungkin, setelah bisa lepas dari para pengawal.


Tapi dia berlari tanpa melihat jalan hingga akhirnya, Viona pun tertabrak bus yang datang dengan kecepatan tinggi.


Tubuh Viona terpental dan jatuh ke aspal, akhirnya gadis itu meregang nyawa.


Felix pun bergegas membantu tapi tak berguna karena Viona tewas di tempat.


Felix pun memeluk tubuh Viona yang bersimbah darah itu, dia tak menginginkan ini terjadi.

__ADS_1


Dia hanya ingin membawa Viona pulang ke Austria untuk mendidik gadis itu.



__ADS_2