
Bunga dan Samuel kini sudah sekitar beberapa bulan tinggal di California, mereka tinggal di sebuah rumah yang cukup sederhana di kawasan elite.
tapi pengaman di rumah itu cukup ketat, rumah itu adalah rumah yang David persiapkan untuk Samuel selama dua tahun menetap disana.
pasalnya perusahaan yang di pegang oleh Yenji mengalami masalah, dan Samuel sebagai pemilik saham terbesar terpaksa ikut memantaunya meski dari kejauhan.
sedang Bunga juga tetap membantu Samuel menjalankan perusahaannya yang lain.
saat ini keduanya sedang berbelanja kebutuhan dasar bersama Samuel, dan keduanya nampak begitu bahagia seperti pasangan.
tak sengaja keduanya bertemu dengan Neji yang juga sedang berbelanja.
pria muda itu mengenali Samuel karena dia sudah menyelidiki pria itu dengan teliti.
"ternyata gadis itu, maka semua harus menjadi milikku karena aku tak suka melihatmu bahagia," gumam Neji yang pergi setelah membeli kaleng bir.
pria itu masuk kedalam mobilnya, dan menuju ke rumah, Samuel tak akan menyangka akan mengalami masalah.
sedang di Austria, Darwin sedang melakukan rapat dengan beberapa perusahaan yang menjadi rekan bisnis dalam pembangunan pulau buatan.
Aldo memberikan informasi tentang apa yang di mintanya, dan Darwin memilih dua perusahaan besar dan satu perusahaan yang baru merintis.
Darwin yakin perusahaan itu bisa mengikuti kinerja mereka, karena perusahaan itu milik dari Samuel yang baru berdiri selama dua tahun.
akhirnya rapat pun berakhir, dan Darwin sudah siap untuk meninggalkan negara ini.
"kita berangkat sekarang," kata Darwin.
"tunggu dulu bos, sekali-kali ajaklah kami ini jalan-jalan, toh kita juga lebih baik mengunjungi cabang perusahaan di California," ajak Mike.
"baiklah, tapi kalian atur visa, dan kita disana hanya lima hari," jawab Darwin yang tak suka jadwalnya berantakan.
"siap bos, kami pasti akan melakukan semua sesuai permintaan anda," kata Mike.
dua asisten Darwin itu sudah tau apa yang akan mereka rencanakan untuk bos mereka.
Darwin pun tak bisa menutup matanya sedikitpun, dia hanya bisa melihat suasana indah dalam perusahaan.
dan dia juga tetap menyibukkan diri dengan pekerjaan, dia tak ingin terlalu terlalu larut dalam kesedihannya.
apalagi Bunga yang memilih pergi darinya, di banding menetap dan hidup bersamanya.
Bunga berdiri di bagian buah, dia tiba-tiba ingat Darwin saat melihat buah jeruk di tumpukan rak display.
__ADS_1
dia tersenyum sendiri, saat menginggat kenangan indah itu.
saat itu Bunga sedang berliburan di Indonesia, dan Darwin akan selalu menyempatkan main bersama bunga.
bahkan pria itu sering datang mengunakan ojek online agar Joshua tak menemukannya.
suatu saat Bunga yang sedang makan jeruk, meminta Darwin membuka mulut, tapi pria itu mengeleng.
"kenapa sih, ayolah kak makan sedikit saja?" kata Bunga menyodorkan buah itu pada Darwin
"tidak, itu buah yang menyebalkan, terlihat bagus tapi begitu asam di dalamnya, aku tak suka itu," kata Darwin menolak.
"tapi aku begitu menyukainya, dan ayolah kak, coba sedikit saja," mohon bunga dengan memohon.
"baiklah, satu kali ini saja," kata Darwin.
Bunga pun menyuapi Darwin dengan buah jeruk di tangannya, dan Darwin terlihat begitu menikmati buah itu.
"yah! itu buah jeruk milik bunga, kenapa di habiskan!" teriak gadis muda itu.
"habis enak, ayo kita beli lagi," ajak Darwin menyeret gadis itu keluar.
orang tua angkat Bunga tertawa melihat keduanya, karena saat seperti inilah mereka begitu bahagia melihat Bunga yang selalu fokus belajar saat di luar negri.
"tentu, aku mau dua kilo ya, dan tolong ambilkan Kiwi juga," kata Bunga pada temannya itu.
"baiklah," jawab Samuel.
Bunga memilih jeruk, dan juga mengambil apel,karena Samuel sangat menyukai buah itu.
setelah itu mereka pun membayar di kasir,dan baru setelah itu menuju ke rumah.
sesampainya di rumah, Bunga bersiap untuk membuat makan malam.
saat tiba-tiba,ada suara ketukan pintu. "biar aku lihat," kata Samuel.
pria itu pun keluar dan kaget melihat tiga pria yang datang, "wah ada apa ini? kamu sudah sembuh ternyata," sapa Samuel.
"kalian membawaku ke rumah Samuel," kata Darwin yang berpelukan dengan Samuel.
"ayo masuk, kebetulan ada yang sedang memasak, dan Mike, kamu pasti bertanya pada Adi bukan?" kata Samuel yang mengajak ketiganya masuk.
"ya anda benar, aku dan dia memang berteman baik, dan kasihanilah bos kami yang terus melamun ini," kata Mike sudah dapat pukulan dari Darwin.
__ADS_1
"Bunga lihat siapa yang datang, coba temui dulu," panggil Samuel
"tunggu sebentar, aku datang," jawab Bunga.
para pelayan pun melanjutkan memasak, Bunga keluar dan kaget melihat sosok pria yang tadi melintas di pikirannya.
kini malah datang di depannya, "kak Darwin datang, bagaimana bisa tau kita disini?" tanya Bunga kaget.
"ya mau bagaimana lagi, kita adalah rekan bisnis, oh ya duduklah, biarkan para pelayan yang melanjutkan memasaknya," kata Samuel.
"bagaimana keadaan kak Darwin? apa lukanya sudah sembuh?" tanya Bunga.
"iya, lukanya sudah tak sakit, dan kami sudah membereskan semuanya, dan mulai sekarang kamu tak perlu takut dengan Sasha," kata Darwin melihat gadis di sampingnya itu.
"karena dia sudah beres di tangan tuan muda David," kata Aldo.
"sudah ku katakan kau harus membuat adik mu itu sedikit mengendalikan dirinya, atau dia biasa membuat kelurga kalian sudah nantinya," kata Samuel yang datang dengan anggur di tangannya.
"kau pun sama Samuel, atur adik mu Neji, dia itu sudah sering berbuat onar bukan, siapa yang tak tau pangeran keluarga Carter itu, bahkan dia adalah pemain ulung bukan," kata Darwin.
"kau ingin mengujiku, kau kira aku di sini untuk apa, bermain, jangan gila deh," kata Samuel menikmati anggur miliknya.
saat sedang asik berbincang, Samuel mendapatkan telpon penting, dan dia harus pergi segera.
"maaf ada pekerjaan dadakan, tolong jaga Bunga sampai aku kembali, kamu mau Darwin," pinta Samuel.
"tentu, aku akan menjaganya, kamu pergilah," kata Darwin yang melihat raut wajah Samuel yang mendadak serius.
Samuel pergi karena mendengar tentang kondisi dari daddy-nya.
sedang Bunga kini makan malam bersama ketiga pria itu, setelah makan malam Aldo dan Mike pamit ke hotel.
sedang Darwin tetap di rumah itu bersama Bunga, "jadi mau ikut pulang bersama ku?" tawar Darwin.
"tidak, aku masih belum bisa memaafkan mu," kata Bunga dingin.
"bunga, aku mohon itu bukan sepenuhnya salahku, opa Felix dan Sasha yang mempergunakan nama ku untuk membunuh orang tua mu," kata Darwin.
"tapi kamu tak pernah ingin menjelaskan itu padaku, ternyata hanya sebatas itu aku di hatimu," kata bunga sedih.
"kamu adalah segalanya bunga, aku mohon jangan seperti ini, ingat kita akan punya anak bersama," kata Darwin.
"tidak ini milikku, bukan milik mu hanya karena kamu menyumbang benih mu," kesal Bunga yang memilih tidur.
__ADS_1
Darwin pun menunggu di sofa saat bunga tidur di ranjang, dan tak terduga seseorang masuk ke kamar Bunga.